Semangkuk Pagi yang Tertinggal
Setiap pagi, Ibu Sari memasak bubur seperti biasa.
Dua porsi. Dua mangkuk. Dua kursi yang saling berhadapan.
Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun, hingga suatu hari satu mangkuk tak lagi disentuh. Tanpa perpisahan, tanpa kata pamit, kehadiran Raka perlahan menghilang dari rumah yang tetap menyala. Jam dinding masih berdetak, tetangga masih menyapa, dan pagi terus datang seolah tak ada yang berubah.
SESUAP BUBUR adalah kisah tentang kehilangan yang datang diam-diam—tentang hubungan orang tua dan anak yang tidak retak oleh pertengkaran, melainkan aus oleh kebiasaan dan jarak yang tak disadari. Melalui hari-hari yang tampak biasa, Ibu Sari mulai menghadapi sunyi, rasa bersalah, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah sempat diucapkan.
Dengan bahasa yang tenang dan membumi, novel ini mengajak pembaca menyusuri luka-luka kecil yang tersembunyi dalam rutinitas, serta menyadari bahwa kehilangan tidak selalu berarti pergi. Kadang, ia hadir dalam hal-hal paling sederhana dalam kursi yang tak lagi ditarik, dalam mangkuk yang tetap disiapkan, dan dalam pagi yang tak pernah kembali utuh.