Kursi itu tidak pernah benar-benar dipindahkan.
Letaknya tetap di sisi kanan meja makan, sedikit menjauh, dengan satu kaki yang diganjal potongan kardus tipis agar tidak pincang. Kardus itu sudah ada sejak lama. Warnanya memudar, sudutnya melengkung, dan tiap kali kursi diduduki, ia mengeluarkan bunyi lirih yang nyaris tak terdengar. Ibu Sari hafal bunyi itu. Ia bahkan bisa menebak siapa yang duduk hanya dari suara kecil tersebut.
Siang itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ibu Sari baru selesai mencuci piring. Air di ember telah dingin, busa sabun tinggal garis-garis tipis di permukaannya. Ia mengangkat wajah, dan tanpa alasan jelas, matanya tertumbuk pada kursi itu.
Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Tangannya masih memegang lap dapur yang basah, tapi ia tidak segera mengeringkannya. Pandangannya tetap tertambat pada kursi tersebut, seolah kursi itu sedang mengatakan sesuatu yang belum sempat ia pahami.
Akhirnya, ia melangkah mendekat.
Ia menarik kursi itu pelan. Kayunya berdecit—bunyi yang dulu sering membuatnya menoleh cepat dari dapur, khawatir bubur tumpah atau meja tergores. Kini, bunyi itu terdengar asing, seolah berasal dari rumah lain.
Ibu Sari duduk.
Posisinya sedikit miring karena ganjalan kardus di kaki kursi. Duduk di sana terasa janggal, tidak pas, seperti mengenakan pakaian orang lain. Dari sudut ini, ia bisa melihat dapur dengan jelas: kompor yang sudah mati, panci yang tertutup, meja kecil tempat ia biasa menyiapkan sarapan.
Ia baru menyadari sesuatu yang sederhana, tapi membuat dadanya mengencang.
Dari kursi ini, Raka selalu bisa melihatnya.
Melihat punggungnya saat memasak. Melihat tangannya mengaduk bubur. Melihat dirinya bergerak dari satu sudut ke sudut lain, tanpa banyak bicara.
Ibu Sari menelan ludah.
Ia duduk diam. Tidak ada niat untuk segera berdiri. Jam dinding berdetak di dinding seberang, namun suaranya terasa jauh. Rumah seolah mengecil, mengerucut pada satu titik: kursi kosong ini.
Ingatan datang tanpa diminta.
Raka kecil yang duduk sambil mengayunkan kaki. Kursi ini yang sering ia geser terlalu keras. Bubur yang hampir tumpah ke lantai. Teguran singkat yang selalu sama.
“Pelan,” katanya dulu.
Raka selalu mengangguk. Kadang tersenyum. Kadang pura-pura menyesal.
Ibu Sari menarik napas panjang.
Sekarang, tidak ada yang perlu ditegur. Tidak ada kaki yang mengayun. Tidak ada suara kursi ditarik tergesa.
Ia berdiri perlahan. Kursi itu ia dorong kembali ke tempat semula. Bunyi decit terdengar lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
Ibu Sari merapikan taplak meja yang sebenarnya sudah lurus. Menggeser gelas beberapa senti. Menyelaraskan sendok dan garpu. Gerakan-gerakan kecil yang tidak benar-benar perlu, tapi memberinya alasan untuk tetap berada di ruangan itu.
Ia ingin memanggil nama Raka. Sekadar memastikan. Sekadar mendengar jawaban dari balik pintu kamar.
Namun mulutnya tetap tertutup.
Di luar rumah, suara motor lewat. Seorang anak kecil tertawa keras. Dunia di luar bergerak seperti biasa.
Di dalam rumah, Ibu Sari berdiri memandangi kursi kosong itu.
Entah kenapa, ia merasa kursi itu tidak sepenuhnya kosong.
Seolah ada sesuatu yang masih duduk di sana. Bukan tubuh, bukan suara, melainkan kehadiran yang belum siap pergi