Siang datang tanpa menanyakan kesiapan siapa pun.
Cahaya matahari jatuh lurus ke halaman belakang, memantul di lantai yang masih lembap oleh sisa air cucian. Ibu Sari berdiri di sana, menjepit pakaian satu per satu, seperti seseorang yang sedang menyusun bukti bahwa hari ini tetap berjalan.
Tangannya bekerja otomatis.
Kaos.
Seragam.
Handuk.
Semua diurutkan rapi, seolah kerapian bisa menahan sesuatu agar tidak jatuh lebih jauh.
Ia berhenti di satu potong baju—kaos abu-abu, sudah sedikit pudar. Raka sering memakainya di rumah. Katanya, bahannya paling enak buat tidur siang. Ibu Sari memegang kain itu lebih lama dari yang perlu.
Ia mencium bau sabun.
Tidak ada bau lain. Tidak ada sisa keringat. Tidak ada aroma yang bisa ia pegang sebagai alasan untuk bertanya lebih jauh.
Ia menjepit kaos itu.
Angin bergerak pelan. Pakaian bergoyang kecil, saling bersentuhan, mengeluarkan suara halus yang nyaris seperti bisikan.
Ibu Sari menutup matanya sejenak.
“Sudah, Bu?”
Suara itu datang dari luar pagar, ringan, akrab.
Ibu Sari menoleh. Bu Ratna berdiri sambil menenteng tas belanja. Rambutnya diikat asal, wajahnya terbakar matahari—wajah orang yang menjalani hari tanpa harus memikirkan jeda.
“Hampir,” jawab Ibu Sari.
Nada suaranya terdengar biasa. Terlalu biasa.
Bu Ratna melangkah lebih dekat, melirik jemuran. “Tumben sendirian. Biasanya Raka bantuin, kan?”
Nama itu jatuh begitu saja.
Bukan dilempar.
Bukan ditekan.
Hanya disebut—dan justru karena itulah rasanya menghantam.
Ibu Sari merasakan dadanya menegang, seperti seseorang yang refleks menahan napas. Tangannya masih menggenggam penjepit. Ia tidak langsung menjawab.
“Iya,” katanya akhirnya. Satu kata. Tidak ditambah apa pun.
Bu Ratna mengangguk, tidak curiga. “Anak sekarang sibuk semua. Sekolah, teman, entah apa lagi.”
Ibu Sari tersenyum kecil. Senyum yang ia pakai bertahun-tahun—cukup untuk menutup percakapan.
Bu Ratna pamit. Suaranya menjauh. Pagar berderit. Langkah kaki menghilang.
Halaman kembali sunyi.
Ibu Sari menurunkan tangannya.
Ia menyadari sesuatu yang ganjil: tidak ada kepanikan. Tidak ada teriakan dalam kepalanya. Yang ada justru perasaan menggantung—seperti menunggu seseorang pulang, padahal belum benar-benar pergi.
Ia masuk ke dalam rumah.
Udara di ruang tengah terasa hangat, tapi tidak akrab. Ia berjalan pelan, memperhatikan benda-benda yang tetap di tempatnya. Sepatu di rak. Jaket di gantungan. Tidak ada yang tampak hilang.
Justru itu yang membuatnya sulit bernapas.
Ia duduk di sofa. Tangannya meraba sandaran, lalu berhenti di bantal kecil yang biasa dipeluk Raka saat menonton televisi. Ia memindahkannya ke pangkuan.
“Sebentar lagi juga pulang,” gumamnya.
Ia tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Jam berdetak.
Televisi mati.
Rumah tetap menyala.
Dan untuk pertama kalinya, Ibu Sari mengerti arti sebuah keberadaan yang aneh:
sesuatu yang tidak pergi—
tapi juga tidak lagi ada.
Menjelang sore, rumah mulai berubah warna.
Cahaya yang tadinya keras perlahan melunak. Bayangan dari jendela memanjang di lantai ruang tengah, membentuk garis-garis yang tidak sejajar. Ibu Sari berdiri di depan kompor lagi—bukan karena lapar, tapi karena tidak tahu harus melakukan apa selain itu.
Ia menyalakan api.
Panci kecil diletakkan di atasnya. Air dituangkan. Bukan untuk bubur. Hanya mie instan. Sesuatu yang cepat. Sesuatu yang tidak menuntut perhatian.
Air mendidih terlalu cepat.
Ia mematikan api, lalu menyalakannya lagi. Tangannya ragu, seperti sedang mengulur waktu. Akhirnya mie itu tetap dimasukkan. Bumbunya menyusul.
Aroma asin memenuhi dapur.
Biasanya, Raka akan muncul saat mencium bau itu.
“Bu bikin mie?”
“Hem.”
“Pakai telur?”
Pertanyaan yang selalu sama. Jawaban yang selalu diulang.
Ibu Sari menunggu tanpa sadar.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada suara pintu.
Ia menuangkan mie ke satu mangkuk.
Satu.
Sendok diambil. Ia duduk. Kali ini, ia makan lebih cepat. Bukan karena lapar—melainkan karena tidak ingin berpikir terlalu lama.
Di tengah suapan, ponselnya bergetar.
Nama Bu Wati muncul di layar.
Ibu Sari menatap layar itu beberapa detik sebelum menjawab.
“Assalamu’alaikum, Bu Sari.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Saya mau nanya… Raka hari ini masuk, kan? Soalnya tadi absen belum kelihatan.”
Sendok berhenti di udara.
“Belum sampai sekarang?” lanjut Bu Wati, nadanya masih santai.
Ibu Sari menelan ludah. “Masuk… harusnya masuk.”
Ada jeda di seberang.
“Oh. Mungkin telat, ya. Nanti kalau sudah sampai, tolong disuruh ke ruang guru.”
“Iya,” jawab Ibu Sari cepat. Terlalu cepat.
Telepon ditutup.
Dapur terasa menyempit.
Ibu Sari meletakkan sendok. Mienya masih separuh. Uapnya naik, lalu menghilang, sama seperti pagi tadi. Ia berdiri, berjalan ke ruang tengah, lalu berhenti di depan pintu.
Tangannya menyentuh gagang.
Dingin.
Ia membukanya sedikit, menengok ke luar. Jalanan lengang. Tidak ada langkah kaki yang familiar. Tidak ada suara motor yang dikenalnya.
Ia menutup pintu lagi.
Kali ini, lebih pelan.
Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu. Napasnya terdengar di telinganya sendiri. Ia mengeluarkan ponsel, membuka pesan-pesan lama.
Nama Raka ada di sana.
Pesan terakhir:
Bu, nanti pulang agak malam.
Tidak ada balasan dari dirinya.
Ibu Sari menatap kalimat itu lama. Terlalu lama untuk satu baris pendek. Jarinya mengetik.
Sudah di mana?
Ia menatap layar. Menghapus. Mengetik lagi.
Ibu tunggu.
Dihapus lagi.
Akhirnya, ia tidak mengirim apa pun.
Ia meletakkan ponsel di lantai, menutup wajah dengan kedua tangan.
“Harusnya Ibu tahu,” bisiknya. Kali ini lebih jelas.
Malam datang.
Lampu rumah dinyalakan satu per satu. Dapur. Ruang tengah. Teras. Semua menyala, seperti kebiasaan lama—seolah cahaya bisa menjadi penunjuk jalan.
Jam menunjukkan pukul delapan.
Ibu Sari duduk di meja makan. Mangkuk mie sudah kosong. Kursi di seberang tetap tidak terisi.
Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: ia masih menunggu, tapi tidak lagi yakin apa yang ia tunggu.
Ia berdiri, mematikan lampu dapur. Lalu berhenti.
Ia menyalakannya lagi.
Malam terlalu panjang untuk ditinggalkan gelap.
Di rumah itu, seseorang tidak pergi.
Namun kehadirannya juga tidak kembali.
Dan untuk pertama kalinya, Ibu Sari mulai takut
bukan pada kehilangan,
melainkan pada kemungkinan bahwa penantian ini tidak punya akhir.
Sekitar pukul sembilan malam, suara pagar berderit terdengar dari luar.
Ibu Sari yang sedang duduk di ruang tengah langsung menegakkan badan. Ia tidak sadar sudah setegang itu sampai suara kecil saja bisa membuat jantungnya berdebar. Ia menoleh ke arah pintu.
Ada suara langkah kaki. Disusul suara orang berdehem.
“Bu Sari?”
Suara Pak Darto.
Ibu Sari berdiri terlalu cepat. Kursi bergeser, menimbulkan suara yang keras di ruangan yang sunyi. Ia membuka pintu.
Di luar, Pak Darto berdiri bersama Bu Ratna dan satu orang lain—Bu Yuni, tetangga depan rumah. Mereka berdiri agak ragu, tidak terlalu dekat, tidak juga menjauh. Wajah-wajah yang membawa sesuatu yang tidak diucapkan.
“Iya, Pak?” kata Ibu Sari.
Pak Darto mengangguk pelan. “Maaf ganggu malam-malam. Ini… kita cuma mau nanya.”
Ibu Sari menggeser badan sedikit, memberi ruang. “Silakan masuk.”
“Di sini saja nggak apa-apa,” kata Bu Ratna cepat. “Cuma sebentar.”
Ibu Sari mengangguk.
Pak Darto mengusap tengkuknya. “Tadi sore ada yang bilang lihat Raka di sekitar lapangan. Sama anak-anak yang biasa nongkrong.”
Jantung Ibu Sari seperti berhenti sesaat.
“Oh,” katanya. Suaranya datar, tapi tenggorokannya kering. “Dia… belum pulang.”
Bu Yuni melirik Bu Ratna, lalu kembali ke Ibu Sari. “Biasanya jam segini sudah di rumah, kan, Bu?”
Ibu Sari mengangguk kecil.
“Anak sekarang kadang suka keluyuran,” lanjut Bu Yuni, nadanya hati-hati. “Mungkin cuma main, Bu. Nanti juga pulang.”
Kalimat itu dimaksudkan sebagai penghiburan. Tapi justru membuat dada Ibu Sari semakin sesak.
“Iya,” katanya lagi. Satu kata. Selalu satu kata.
Pak Darto menarik napas. “Cuma mau kasih tahu saja, Bu. Kalau perlu, nanti kita bantu cari.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Ibu Sari. “Mungkin… sebentar lagi juga pulang.”
Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Mungkin karena semua orang di sana tampak ingin mendengarnya.
Bu Ratna tersenyum kecil. “Iya, Bu. Jangan keburu mikir yang macam-macam.”
Mereka pamit satu per satu. Suara sandal menjauh. Pagar kembali berderit.
Ibu Sari menutup pintu.
Ia bersandar di sana, punggungnya menempel kayu. Tangannya bergetar. Baru sekarang ia menyadarinya.
Lapangan.
Ia membayangkan Raka duduk di sana, di bawah lampu yang tidak terlalu terang, bersama anak-anak lain. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ia tidak tahu apakah Raka tertawa, atau hanya diam.
Ia tidak pernah benar-benar tahu.
Ibu Sari berjalan ke dapur, mengambil gelas, menuangkan air. Tangannya gemetar hingga air sedikit tumpah. Ia meminumnya cepat, berharap cairan dingin bisa menenangkan sesuatu di dalam.
Di luar, suara televisi tetangga terdengar. Ada tawa dari rumah sebelah. Ada suara anak kecil menangis sebentar, lalu reda.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
Hanya rumahnya yang terasa tertinggal.
Ia duduk lagi di meja makan. Kursi di seberang tetap kosong. Ia menyentuh sandaran kursi itu, kali ini tidak menariknya, tidak merapikannya.
“Kalau pulang, bilang saja,” gumamnya, seolah Raka bisa mendengar. “Ibu nggak marah.”
Kata-kata itu terasa asing di mulutnya. Ia sadar—ia lebih sering mengatur daripada mendengar.
Jam menunjukkan pukul sepuluh.
Tidak ada ketukan pintu.
Lampu teras tetap menyala.
Dan di antara suara-suara tetangga yang masih hidup, Ibu Sari duduk sendiri, memeluk sunyi yang kini tidak bisa lagi ia sebut sebagai keterlambatan.
Ia mulai tahu:
ini bukan sekadar malam yang molor.
Ini adalah malam pertama ia benar-benar takut kehilangan.
Sekitar setengah sebelas, suara motor melintas pelan di depan rumah. Knalpotnya sengaja ditahan, seperti kebiasaan orang kampung yang pulang malam agar tidak mengganggu tetangga. Ibu Sari menoleh refleks.
Ia berdiri.
Dua langkah ke pintu.
Lalu berhenti.
Bukan.
Motor itu lewat begitu saja.
Ia kembali duduk. Kali ini tidak di kursi makan, tapi di bangku kecil dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat jalan depan rumah—sedikit, tapi cukup.
Tak lama kemudian, suara peluit ronda terdengar. Satu kali. Disusul langkah kaki dan obrolan pelan.
“Sepi ya malam ini.”
“Iya, biasa. Anak-anak sekarang pada di rumah, main HP.”
Ibu Sari tersenyum tipis tanpa sadar. Kalimat itu begitu normal, begitu sering ia dengar, sampai rasanya aneh jika tidak terdengar.
Ia membuka jendela sedikit.
“Bu Sari, masih bangun?” suara Pak RT terdengar.
“Masih, Pak,” jawabnya.
Pak RT mendekat ke jendela. “Lampunya masih nyala, saya kira belum tidur.”
“Belum, Pak.”
Pak RT mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Di kampung, kadang tidak bertanya justru bentuk sopan santun.
“Kalau ada apa-apa, bilang ya, Bu.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Pak RT melanjutkan ronda. Suara langkah menjauh, berganti dengan bunyi tongkat menyentuh aspal.
Ibu Sari menutup jendela kembali. Ia mematikan televisi yang sejak tadi hanya menyala tanpa ia tonton. Rumah mendadak lebih sunyi.
Ia berjalan ke kamar Raka.
Pintunya tidak tertutup rapat. Di dalam, tas sekolah tergeletak di sudut. Sepatu masih ada. Jaket tergantung di belakang pintu.
Semuanya ada.
Kecuali orangnya.
Ibu Sari duduk di tepi kasur. Ia merapikan selimut—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan meski Raka sering protes karena katanya masih mau dipakai.
Ia tersenyum kecil saat mengingat itu.
“Bandel,” gumamnya pelan.
Jam dinding berdetak jelas sekarang. Terlalu jelas.
Ia mematikan lampu kamar Raka, lalu kembali ke ruang tengah. Lampu teras tetap ia biarkan menyala, seperti biasa. Seperti setiap malam.
Ia berbaring di sofa, memejamkan mata.
Di luar, kehidupan tidak berhenti. Ada suara orang tertawa jauh. Ada pintu tetangga yang ditutup. Ada motor terakhir sebelum jalan benar-benar sepi.
Semua berjalan normal.
Hanya satu hal kecil yang tidak kembali ke tempatnya.
Dan Ibu Sari tahu—besok pagi, orang-orang akan bertanya dengan nada biasa:
“Raka mana, Bu?”
Ia tidak tahu jawaban apa yang akan ia berikan.
Bab ini berakhir bukan dengan kejadian besar,
melainkan dengan malam yang tetap berjalan… tanpa satu orang yang seharusnya pulang