Penulis: Alief Ramadhan Ecconov

Bab Lima – Sisa Pagi


Pagi datang tanpa suara yang jelas. Tidak ada hujan, tidak juga matahari yang terlalu terang. Udara menggantung, seolah ragu untuk bergerak maju. Ibu Sari terbangun sebelum jam dinding berdetak lima kali. Bukan karena mimpi, melainkan karena kebiasaan yang sudah melekat terlalu lama di tubuhnya.

Ia duduk di tepi ranjang, menunggu rasa berat di dada mereda. Lalu bangkit, berjalan ke dapur dengan langkah pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang rapuh di rumah itu.

Lampu dapur dinyalakan. Cahaya kuning menyentuh meja makan, memperlihatkan goresan-goresan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Mangkuk putih itu masih di rak bawah, di tempat yang sama. Retaknya terlihat jelas pagi ini. Ibu Sari mengusap bibir mangkuk itu dengan ibu jarinya, sebentar saja, lalu menghela napas.

Masih bisa” gumamnya.

Beras dicuci. Air dituang. Kompor dinyalakan. Api kecil menari di bawah panci, mengeluarkan bunyi halus yang sudah ia kenal di luar kepala. Jam dinding mulai berdetak—pelan tapi pasti. Setiap detik seperti mengetuk ingatan, mengingatkan bahwa waktu tak pernah peduli siapa yang siap atau tidak.

Ibu Sari mengaduk bubur dengan sendok kayu. Gerakannya stabil, teratur, nyaris tanpa pikir. Tangannya tahu kapan harus mengaduk, kapan harus berhenti. Garam ditaburkan, sedikit saja. Selalu sedikit.

Raka pernah bilang buburnya hambar. Tapi ia tetap duduk setiap pagi. Tetap menyendok. Tetap menyisakan.

Raka” panggil Ibu Sari.

Tak ada jawaban.

Ia berhenti mengaduk. Menajamkan pendengaran. Hanya suara air mendidih dan jam dinding yang tak mau diam.

Raka…

Panggilan kedua lebih pelan, hampir seperti bisikan. Tetap tak ada balasan.

Ia mematikan kompor. Bubur dituangkan ke dua mangkuk—kebiasaan yang terlalu cepat dilakukan untuk disadari. Setelah keduanya tersaji di meja, barulah ia terpaku. Dua mangkuk. Dua sendok. Dua kursi.

Satu terlalu banyak.

Ibu Sari duduk perlahan. Sendok di tangannya terasa dingin. Ia menyendok bubur dari mangkuknya sendiri, meniupnya sebentar, lalu memasukkannya ke mulut. Hambar. Entah karena garamnya kurang, atau karena pagi ini kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan rasa apa pun.

Kursi di seberangnya kosong.

Biasanya kursi itu sedikit ditarik ke belakang. Raka tak pernah mendorongnya kembali. Ibu Sari yang selalu merapikan. Pagi ini, kursi itu dibiarkan begitu saja, seperti sebuah penanda.

Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali Raka menghabiskan buburnya sampai habis. Ingatannya tak memberi jawaban yang jelas. Yang muncul justru mangkuk dengan sisa di dasar, uap yang menghilang terlalu cepat, dan suara pintu yang tertutup terburu-buru.

Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat dua belas.

Biasanya, pada jam ini, Raka sudah berdiri di ambang pintu. Tas di pundak. Sepatu setengah terpakai. Kata perpisahan singkat yang terdengar seperti formalitas.

Pagi ini, rumah terasa lupa menjalankan perannya sendiri.

Ibu Sari bangkit dan berjalan menuju kamar Raka. Ia berhenti di depan pintu. Ragu. Tangannya terangkat, lalu mengetuk pelan.

Raka?

Tak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih pelan. Sunyi.

Telapak tangannya menempel di pintu. Dingin. Ia menarik tangannya kembali. Ada ketakutan yang tak ingin ia beri nama—takut menemukan sesuatu, atau takut tak menemukan apa-apa sama sekali.

Ia kembali ke dapur.

Bubur di mangkuk kedua sudah mulai mengental. Uapnya hampir habis. Ibu Sari mengaduknya pelan, lalu berhenti. Sendok kayu diletakkan sejajar dengan mangkuk yang tak tersentuh.

Pagi terus berjalan, meski satu kursi tetap kosong.

Dan untuk pertama kalinya, Ibu Sari menyadari:

sisa pagi bukan lagi sekadar bubur—

melainkan sesuatu yang tak bisa ia habiskan, tak bisa ia simpan, dan tak tahu harus ia bawa ke mana.