Penulis: Alief Ramadhan Ecconov

PROLOG


Ada hal-hal yang hilang tanpa pernah benar-benar pergi.

Ia tidak jatuh, tidak pecah, tidak meninggalkan suara. Ia hanya perlahan berhenti muncul di tempat yang seharusnya. Seperti kursi yang tidak lagi ditarik. Seperti pintu yang jarang dibuka. Seperti pagi yang datang, tapi terasa berbeda sejak seseorang tidak lagi duduk di meja makan.

Ibu Sari percaya bahwa kehilangan selalu datang dengan tanda yang jelas. Tangis, teriakan, atau setidaknya kekacauan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kehilangan bisa hadir dengan cara yang rapi dengan piring bersih, lantai yang disapu, dan dapur yang tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Hari itu, ia memasak seperti biasa.

Beras dicuci. Air dipanaskan. Bubur diaduk perlahan. Tidak ada yang terasa salah. Tidak ada firasat yang berdiri di hadapannya dan berkata, bersiaplah.

Ia hanya merasa pagi terlalu sunyi.

Sunyi yang belum memiliki nama.

Ibu Sari tidak langsung menyadarinya. Ia baru mengerti ketika kebiasaan-kebiasaan kecil mulai terasa ganjil. Ketika dua porsi terasa berlebihan. Ketika satu kursi terlalu sering kosong. Ketika pertanyaan-pertanyaan sederhana—sudah makan?, pulang jam berapa?—tidak lagi menemukan tujuannya.

Ia tidak menyebutnya kehilangan.

Belum.

Ia menyebutnya keterlambatan. Kesibukan. Fase. Hal-hal yang ia yakini akan kembali normal jika dibiarkan beberapa hari. Ia menunggu, seperti menunggu air mendidih—percaya bahwa dengan cukup waktu, segalanya akan berubah bentuk.

Namun waktu tidak selalu bekerja seperti itu.

Ada pagi-pagi yang tidak membawa jawaban. Ada malam-malam yang hanya meninggalkan gema. Dan ada kebiasaan yang bertahan lebih lama daripada orang yang melahirkannya.

Ibu Sari tidak tahu kapan tepatnya semuanya bergeser. Ia hanya tahu, suatu hari, ia berdiri di dapur dengan sendok kayu di tangan, menatap panci yang mendidih, dan menyadari satu hal yang terlalu pelan datangnya:

bahwa tidak semua yang hilang pergi dengan pamit.

Sebagian hanya berhenti duduk di tempatnya.

Dan pagi, dengan segala rutinitasnya, tidak pernah bertanya apakah seseorang siap menghadapi itu.

Ia hanya datang.