Penulis: 9G

BAB – 3 Hari‐Hari yang Terasa Gelap


Sejak hari itu, waktu terasa berjalan lebih lambat bagi Alya. Setiap pagi ia bangun dengan hati yang sama beratnya seperti malam sebelumnya. Tidak ada lagi semangat untuk beranjak dari tempat tidur; hanya kewajiban yang memaksanya bergerak. Tetapi ia tetap bangun, tetap berpakaian, tetap berangkat—meski sebagian dirinya berharap bisa menghilang sejenak dari dunia.

Hari-hari Alya di sekolah mulai terasa seperti lingkaran yang tidak pernah putus. Ia selalu masuk kelas, duduk di tempat yang sama, mendengar suara guru tanpa benar-benar memahami, lalu pulang dengan rasa lelah yang jauh lebih besar dari apa pun.

Namun yang membuat hari-harinya terasa lebih gelap bukan hanya keadaan rumah dan ejekan teman-temannya. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dirinya—sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.

Alya mulai kehilangan rasa terhadap banyak hal. Buku-buku yang dulu ia sukai kini terasa berat untuk disentuh. Musik yang biasanya menjadi pelarian tidak lagi memberi ketenangan. Bahkan senyum kecil pun terasa seperti beban yang harus dipaksa.

Dalam beberapa minggu, perubahan itu semakin jelas. Ia semakin sering melamun di kelas. Sering lupa mencatat. Sering tidak mendengar panggilan guru. Teman-teman yang biasanya hanya mengejek mulai memperhatikannya dengan pandangan aneh—bukan peduli, hanya bingung.

Suatu pagi, ketika pelajaran sedang berlangsung, Bu Rina tiba-tiba memanggil namanya.

“Alya?”

Tidak ada jawaban.

“Alya?” Suara Bu Rina naik sedikit.

Alya tersentak. Ia baru sadar bahwa ia sedang memandangi buku kosongnya selama hampir lima menit. Ia tidak mendengar apa pun.

“Ibu sudah memanggil kamu tiga kali,” kata Bu Rina, suaranya mulai terdengar khawatir meski ia berusaha menyembunyikannya. “Kamu kenapa akhir-akhir ini? Sering melamun.”

Alya menunduk.

“Maaf, Bu.”

Lagi-lagi kata itu. Kata yang sama setiap hari, setiap masalah, setiap teguran. Kata yang seperti penutup luka yang semakin sulit sembuh.

Teman-temannya saling pandang. Ada yang tertawa kecil, ada yang mengangkat alis. Bagi mereka, Alya hanya aneh. Tidak ada yang mencoba mengerti alasan di balik keanehan itu.

Saat istirahat, ia kembali ke tempat favoritnya—taman belakang sekolah. Ia duduk di bangku batu sambil memainkan ujung seragamnya. Angin bertiup pelan, tetapi tidak mampu mendinginkan dadanya yang sesak.

Alya merasakan sesuatu dalam dirinya mulai pudar. Ia mencoba memahami apa yang salah, tetapi pikirannya terlalu bising.

“Kenapa semuanya berubah secepat ini?” batinnya berkata.

Ia memejamkan mata. Dalam kegelapan itu, ia bisa mendengar pertengkaran semalam: suara ayahnya yang tinggi, tangisan ibunya, suara benda yang dibanting. Suara-suara itu kembali hidup di dalam kepalanya seperti rekaman yang tidak pernah berhenti.

Ia merasa ingin berteriak.

Namun suara itu tidak pernah keluar.

Hari-hari berikutnya, Alya semakin menarik diri. Ia tidak lagi ikut berbicara, bahkan ketika teman sebangkunya mengajaknya bicara. Ia semakin sulit berkonsentrasi, nilai tugas-tugasnya mulai menurun, dan tatapan guru-gurunya dipenuhi tanda tanya.

Beberapa guru mulai memperhatikan.

“Kenapa kamu kelihatan capek terus, Alya?”

“Kamu sakit?”

“Kamu ada masalah?”

Alya hanya menjawab dengan senyum kosong atau anggukan kecil. Ia takut jika ia berkata jujur, air matanya akan jatuh lagi. Ia takut jika ia membuka mulut, semua hal yang ia sembunyikan akan tumpah dan ia tidak akan bisa menghentikannya.

Suatu sore, ketika sekolah sudah hampir sepi, Alya duduk sendirian di perpustakaan. Ia membuka buku, tetapi tidak membaca. Ia hanya menatap halaman yang sama selama beberapa menit. Ia bahkan tidak sadar ketika seseorang duduk di depannya.

“Kamu nggak pulang?” suara itu lembut, berbeda dari ejekan yang biasa ia dengar.

Alya mendongak, terkejut. Itu adalah gadis bernama Mira, salah satu teman sekelas yang jarang berbicara dengannya. Mira tidak pernah mengejek, tidak pernah mencibir. Ia lebih banyak diam, tetapi diam yang nyaman, bukan menakutkan.

Alya menggeleng pelan.

“Masih mau di sini.”

Mira memperhatikan wajah Alya.

“Kamu kelihatan sedih.”

Hati Alya menegang. Itu pertama kalinya seseorang berkata demikian. Bukan “aneh”, bukan “murung”, bukan “nggak semangat”—tapi sedih. Kata yang tepat. Kata yang menggambarkan semuanya.

Namun Alya hanya tersenyum kecil.

“Aku cuma capek.”

Mira tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, seolah memahami lebih dari yang Alya ucapkan.

“Aku duduk sini, ya?” katanya.

Alya mengangguk.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tidak merasa benar-benar sendirian.

Meski begitu, malam-malam Alya masih dipenuhi tangis diam-diam. Hari-harinya masih dipenuhi rasa sepi dan lelah. Dan ia masih merasa seperti berjalan di lorong gelap tanpa tahu kapan akan menemukan pintu keluar.

Namun tanpa ia sadari, kehadiran satu orang yang peduli sering kali menjadi awal dari perubahan besar—meski perubahan itu baru akan terlihat nanti.