Langkah Alya menuju sekolah terasa berat, seperti setiap meter yang ia lalui memikul beban yang tidak terlihat. Ia tiba di gerbang ketika sebagian teman-temannya sudah berkumpul. Tawa dan obrolan mereka bergema di udara pagi—suara yang seharusnya membuat suasana hangat, namun bagi Alya justru terdengar seperti jarak yang tak mungkin ia lewati.
Alya menunduk saat berjalan melewati mereka. Ia tahu beberapa dari mereka memperhatikannya. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan itu menyapu tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki. Tatapan yang seolah berkata bahwa ada yang aneh dengannya.
“Oh, itu Alya,” bisik seseorang.
“Pasti belum mandi lagi, lihat rambutnya kusut banget,” sambung yang lain.
“Sering melamun, pasti rumahnya berantakan juga.”
Suara-suara itu tidak keras, tapi cukup untuk menusuk jantungnya. Alya mengencangkan genggaman pada tali tasnya, berusaha terlihat tidak mendengar. Sudah terlalu sering ia menjadi sasaran komentar—kadang bisikan, kadang cemoohan langsung. Ia tidak tahu apa yang membuat mereka begitu tertarik mengomentarinya. Mungkin karena ia pendiam. Mungkin karena ia mudah terlihat lemah. Atau mungkin karena mereka tidak pernah peduli bahwa di balik penampilan sederhana seseorang, bisa ada badai besar yang sedang dihadapinya.
Di dalam kelas, Alya duduk di bangku paling pinggir dekat jendela, tempat yang selalu ia pilih untuk menghindari keramaian. Ia menatap keluar, berharap waktu sekolah berjalan lebih cepat dari biasanya. Tapi tentu saja, waktu tidak pernah memihak orang yang ingin kabur.
Ketika pelajaran dimulai, Bu Rina, wali kelasnya, membagikan tugas yang seharusnya dikumpulkan hari itu. Alya menggigit bibirnya. Ia belum mengerjakan. Bukan karena malas. Bukan karena lupa. Tapi karena semalam ia tidak bisa tidur hingga hampir pagi. Suara pertengkaran di rumah membuat konsentrasi menjadi mustahil.
“Alya,” panggil Bu Rina.
Alya terkejut, tubuhnya menegang.
“Mana tugasmu?”
Alya menunduk. Tangannya bergetar sedikit.
“S… saya belum mengerjakan, Bu.”
Suasana kelas langsung berubah. Beberapa teman tertawa kecil. Ada yang saling pandang dengan senyum mengejek.
“Lagi-lagi nggak ngerjain,” kata seorang teman cowok di belakang.
“Udah biasa, Bu, kayaknya,” kata yang lain sambil tertawa.
Alya menahan napas. Ia ingin menjelaskan. Ia ingin berkata bahwa ia mencoba, ia benar-benar mencoba. Tapi suaranya seakan hilang di tenggorokan. Jika ia jujur, ia takut dianggap mencari alasan. Jika ia diam, ia terlihat bersalah.
Bu Rina menghela napas, tampak kecewa.
“Alya, kamu harus lebih bertanggung jawab. Ibu sudah sering mengingatkan, tapi kamu masih seperti ini.”
Alya mengangguk kecil.
“Maaf, Bu.”
Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Di dalam hatinya, kata “maaf” itu terasa seperti batu besar yang jatuh. Ia meminta maaf untuk hal yang bahkan bukan salahnya sepenuhnya. Namun ia tetap memikulnya. Karena ia tidak ingin membuat siapa pun lebih marah.
Pelajaran berlangsung lama. Alya mencoba mengikuti, tetapi pikirannya terus kembali pada rumahnya yang tidak tenang. Kata-kata teman-temannya yang mengejek. Rasa malu saat Bu Rina memarahinya. Semua itu menumpuk, membuat kepalanya terasa berat.
Saat jam istirahat, beberapa teman mendekatinya. Bukan untuk mengajak makan bersama. Tapi untuk menyindir lagi.
“Alya, kamu kenapa sih? Mukamu kayak nggak tidur seminggu.”
“Kasian banget, nanti ketiduran lagi pas pelajaran.”
Alya hanya tersenyum kecil, senyum yang kosong, lalu berjalan pergi. Ia tidak ingin menanggapi. Ia tahu jika ia membalas, mereka akan makin jahil.
Ia menuju taman belakang sekolah—tempat yang sunyi dan jarang dilewati orang. Di sana ia duduk di bangku beton yang dingin. Langit tampak cerah, tapi hatinya tidak.
Alya menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya hari itu, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap telapak tangannya, seolah bertanya pada dirinya sendiri:
“Apa aku benar seburuk itu?”
Pertanyaan itu membuat dadanya sakit.
Ia memejamkan mata, berharap bisa menghapus semua suara cemoohan. Tapi suara-suara itu tetap ada. Menggema. Menyatu dengan teriakan di rumah yang masih tertanam kuat di ingatannya.
Saat ia hampir menangis, suara langkah kaki mendekat. Ia terkejut, buru-buru mengusap matanya.
Namun yang datang bukan teman yang ingin mengejek, bukan pula guru yang ingin menegur.
Seseorang berdiri tak jauh dari bangku itu, memperhatikan Alya dengan wajah yang penuh tanda tanya. Seseorang yang kelak akan mengubah segalanya.
Tapi untuk saat ini, Alya belum tahu apa pun.
Yang ia tahu hanyalah satu hal:
bahwa hari itu di sekolah, luka lamanya bertambah satu lagi.