Penulis: 9G

Bab 1 – Retaknya Rumah di Dalam Hati


Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik ketika Alya membuka matanya. Bukan karena ia sudah cukup tidur, melainkan karena suara bentakan dari ruang tengah kembali membangunkannya. Ia mendengar suara barang jatuh, diikuti napas berat ayahnya dan tangis tertahan ibunya. Suara yang terus berulang setiap hari, membuat dinding kamarnya terasa lebih tipis dari seharusnya.

Alya menarik selimutnya sampai menutupi telinga. Ia berharap semua suara itu hilang, seolah-olah jika ia menutup tubuhnya rapat-rapat, dunia di luar akan ikut meredam. Tapi kenyataan tidak pernah sebaik itu. Bentakan ayahnya menembus semua penghalang, membuat jantung Alya berdegup lebih cepat daripada alarm mana pun.

“Aku capek hidup kayak gini!” suara ayahnya terdengar jelas.

“Kamu pikir aku nggak capek?” balas ibunya, suaranya bergetar.

Alya memejamkan mata, merasa ada sesuatu di dalam dadanya yang ikut retak. Kata-kata itu tidak ditujukan untuknya, tapi entah mengapa, ia merasa seperti orang paling bersalah di rumah itu.

Ia duduk di tepi ranjang, menunduk, lalu melihat kedua tangannya yang dingin. Tangannya bergetar, seperti setiap kali pertengkaran itu terjadi. Sejak beberapa bulan terakhir, rumah bukan lagi tempat yang membuatnya merasa aman. Rumah berubah menjadi wilayah perang yang sunyi—sunyi karena tidak ada yang pernah berbicara padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang sibuk dengan emosinya sendiri.

Ketika suara bantingan pintu terdengar, Alya hampir terloncat. Ia tahu ayahnya pergi kerja dengan perasaan yang tidak baik. Dan ia tahu ibunya akan berdiam diri di kamar atau duduk di dapur sambil mengusap wajahnya yang lelah. Seperti biasa.

Alya berdiri perlahan, membuka pintu kamar. Lorong rumah yang sempit itu terasa lebih gelap dari pagi biasanya. Lampu belum dinyalakan. Udara terasa berat oleh sisa-sisa kemarahan yang masih melayang di ruangan.

Ia menemukan ibunya duduk di kursi, wajahnya tertunduk dan rambutnya berantakan. Mata ibunya sembap, pertanda tangis baru saja berhenti.

“Bu…” suara Alya kecil, nyaris hilang.

Ibunya mengangkat wajah, tersenyum lemah, walau senyum itu lebih mirip usaha bertahan daripada kebahagiaan.

“Kamu siap-siap dulu. Jangan terlambat ke sekolah,” katanya pelan.

Ucapan itu seharusnya terdengar biasa saja. Namun bagi Alya, kata-kata itu seperti dinding tipis yang memisahkan mereka. Ibunya tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak bertanya apakah ia mendengar semua keributan tadi. Tidak. Semua orang pura-pura kuat, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Alya menunduk, lalu masuk ke kamar mandi. Di depan cermin, ia melihat wajahnya sendiri. Mata bengkak karena kurang tidur, rambut kusut, dan wajah pucat yang tidak bisa disembunyikan meskipun ia berusaha tersenyum. Senyum itu tampak begitu sakit, seperti mencoba menutupi luka besar dengan plester kecil.

Ketika sarapan, suasana masih sunyi. Tidak ada percakapan. Udara dipenuhi hal-hal yang tidak diucapkan. Bunyi sendok yang menyentuh piring bahkan terdengar terlalu keras.

Alya makan perlahan, mencoba menghindari tatapan ibunya. Ia takut jika ia menatap terlalu lama, ia akan menangis. Dan ia tidak ingin menambah beban siapa pun. Ia sudah terbiasa menelan semua kesedihan sendirian.

Sebelum berangkat sekolah, ia mengambil tasnya yang warnanya mulai pudar. Saat melewati ruang tengah, ia melihat pecahan kecil vas bunga yang tadi jatuh. Mungkin karena terdorong saat ayah dan ibunya bertengkar. Ia memungut satu pecahan besar dan meletakkannya di meja, tanpa mengatakan apa-apa.

Ibunya hanya melihat dari kejauhan, bibirnya gemetar, namun tidak mampu mengucapkan terima kasih. Atau maaf.

Ketika keluar rumah, udara pagi terasa lebih dingin. Bukan karena cuaca, melainkan karena rumah tempat ia berdiri barusan tidak lagi memberi kehangatan apa pun. Hatinya terasa kosong, seperti ada sebagian dirinya yang tertinggal di balik pintu itu.

Alya berjalan menuju sekolah dengan langkah pelan. Setiap kali ia menatap tanah, ia bertanya dalam hati:

“Apa rumahku… masih bisa disebut rumah?”

Pertanyaan itu terus bergema, mengikuti langkahnya yang semakin jauh.

Dan tanpa ia sadari, itu baru permulaan dari semua luka yang harus ia hadapi.