Penulis: 9G

BAB 4 – Retakan di Dua Dunia


Sejak kejadian di sekolah, hidup Alya tidak pernah terasa sama lagi. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seperti lantai sekolah berubah menjadi lumpur yang menahan pergerakannya. Ia masih mengingat bagaimana guru-guru saling menyalahkan, bagaimana beberapa siswa menuduhnya tanpa bukti, dan bagaimana ia berdiri sendirian di tengah kekacauan itu—seolah semua tanggung jawab jatuh hanya ke pundaknya.

Namun, sekolah bukan satu-satunya tempat yang membuat hatinya sesak. Di rumah, suasana semakin dingin dari hari ke hari. Ibu semakin sering termenung di dapur, memandangi wastafel penuh piring yang tak sempat ia cuci. Ayah pulang makin larut, menyisakan aroma rokok dan amarah yang menggantung di udara. Alya mengingat hari ketika ia pulang dari sekolah dengan mata hampir berkaca-kaca, berharap rumah bisa menjadi pelukan, namun yang ia dapat hanyalah suara membentak.

“Alya, kapan kamu mulai belajar bertanggung jawab? Kamu pulang terlambat terus!” suara ayah membentur dinding, memantul ke dalam dada Alya.

Padahal ia baru saja pulang dari rapat OSIS membahas program kebersihan. Ia ingin menjelaskan, tetapi air di matanya lebih cepat jatuh daripada kata-katanya yang tidak pernah sempat keluar. Ibu mencoba menengahi, tetapi suaranya tenggelam dalam ketegangan yang semakin hari semakin sering muncul.

Alya merasa hidupnya seperti dua gelas yang retak. Sekolah retak. Rumah retak. Dan ia berada di tengah-tengah, berusaha menahan keduanya dengan tangan yang mulai lelah.

Di sekolah, situasi pun makin sulit. Teman-teman yang dulu mendukung program lingkungan mulai menjauh setelah tuduhan-tuduhan itu berembus. Mereka takut disalahkan, takut ikut terbawa masalah. Hanya Zahra dan Dimas yang tetap berada di sisinya.

“Aly, kamu nggak sendirian. Kita bantu cari siapa yang sebenarnya buang sampah sembarangan di gudang,” kata Dimas suatu hari sambil menepuk bahunya.

Tapi dukungan itu tidak cukup untuk menutup luka yang sudah telanjur menganga. Tatapan-tatapan sinis dari beberapa siswa, bisikan-bisikan yang sengaja dibuat keras agar ia mendengarnya, semua itu membuat Alya semakin merasa kecil.

“Katanya ketua kebersihan, tapi sekolah malah makin kotor.”

“Kemarin gudang sampai kebakaran kecil, pasti gara-gara lalai.”

Kata-kata itu menusuk jauh lebih dalam dari sekadar komentar.

Saat jam pulang, Alya duduk sendirian di taman belakang sekolah. Taman yang dulu ia rawat bersama teman-temannya kini tampak kumuh: daun-daun kering berserakan, rumput mulai mati karena jarang disiram, dan tempat sampah hampir penuh. Alya menatapnya sambil menggenggam rok seragamnya yang berkerut karena tangannya gemetar.

“Kenapa semuanya berubah begini?” bisiknya pada dirinya sendiri.

Ia ingat bagaimana dulu ia sangat bangga menjadi bagian dari tim lingkungan sekolah. Baginya, menjaga lingkungan adalah cara kecil untuk membuat dunia lebih baik. Tapi kini dunia yang ia jaga itu justru runtuh bersamaan dengan tempat-tempat yang seharusnya membuatnya merasa aman.

Zahra mendekat dan duduk di sampingnya. “Alya, kamu nggak harus kuat setiap hari, tahu?”

Alya menunduk. “Tapi kalau aku berhenti, semuanya tambah kacau.”

Zahra menarik napas panjang. “Kalau kamu terus memaksa diri, yang kacau justru kamu.”

Perkataan itu membuat Alya terdiam lama. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak, tetapi perlahan menghangat—seperti ada ruang kecil yang tiba-tiba terbuka untuk melepaskan sedikit beban.

Saat malam tiba, Alya menatap kamar yang temaram. Suara perdebatan orang tuanya kembali terdengar dari ruang tamu. Ia menutup telinganya dengan bantal, tetapi suara itu tetap menembus, seperti retakan yang merayap dari lantai menuju hatinya.

Ia duduk kembali di meja belajarnya dan membuka buku catatan hijau yang selalu ia bawa untuk mencatat ide-ide program lingkungan. Namun kali ini ia tidak menuliskan daftar kegiatan atau solusi. Ia menulis sesuatu yang jauh lebih jujur:

“Aku ingin memperbaiki dunia di sekitarku, tapi dunia itu terlalu besar.

Jadi mungkin… aku harus mulai dari diriku sendiri dulu.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya menangis bukan karena hancur—tetapi karena ia sadar: ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tetapi ia masih bisa menyelamatkan dirinya.

Dan dari sanalah, perlahan, perubahan akan dimulai.