
Jalan setapak itu berkelok-kelok, membawa mereka semakin tinggi mendaki lereng gunung. Udara menjadi lebih jernih, lebih tipis, dan anehnya, lebih hangat, seolah ada matahari tersembunyi di dekat sana. Di sepanjang jalan, mereka bertemu makhluk-makhluk yang tidak biasa, yang belum pernah mereka lihat di Hutan Misteri.
Ada tupai-tupai dengan bulu berwarna biru safir cerah yang melompat di antara dahan. Saat mereka berhenti untuk beristirahat, seekor tupai menjatuhkan beberapa kacang kenari perak ke pangkuan Anya. Arka sempat curiga. "Bagaimana jika ini beracun?" bisiknya. Tapi Anya, yang merasakan tidak ada niat buruk dari makhluk itu, mengambil satu dan mengangguk pada si tupai. "Terima kasih," katanya. Dia memecah kacang itu. Isinya berkilau. Mereka memakannya. Ternyata, kacang itu tidak hanya lezat seperti madu, tetapi juga memulihkan tenaga mereka seketika. Rasa lelah berjam-jam berjalan langsung lenyap.
Mereka juga bertemu dengan segerombolan peri hutan kecil seukuran ibu jari, dengan sayap seperti capung. Makhluk-makhluk itu tampak jahil. Mereka terbang mengelilingi Arka dan Anya, tertawa cekikikan. Tiba-tiba, jalan setapak di depan mereka tampak bercabang tiga. Salah satu cabang menebarkan aroma kue jahe panggang yang harum, persis seperti buatan ibu mereka di rumah. "Ibu?" gumam Arka, tanpa sadar melangkah ke arah itu.
"Itu tidak nyata, Arka!" Hoot bersuara keras di benak mereka, suaranya mengejutkan. "Itu ilusi! Fokus pada apa yang kalian cari!"
Arka tersentak. Aroma kue itu lenyap. Jalan setapak yang tadi tampak nyata, kini hanya semak belukar. Para peri tertawa lebih keras dan terbang menghilang. Arka dan Anya berpegangan tangan erat, menutup mata sejenak, dan fokus pada peta di saku Anya. Saat mereka membuka mata, hanya ada satu jalan setapak yang terlihat jelas di depan mereka.
Akhirnya, setelah menaiki tanjakan terakhir, mereka tiba di tujuan. Di depan mereka bukan gerbang emas atau permata. Yang mereka lihat adalah sebuah pemandangan ajaib: sebuah air terjun tipis yang berkilauan seperti pelangi, namun airnya mengalir ke atas, kembali ke langit, menentang gravitasi. Peta di tangan Anya bersinar begitu terang hingga terasa hangat, simbol spiral di tengahnya berputar.
"Ini pasti gerbangnya," bisik Arka, terpana.
"Hanya yang memiliki hati murni dan keberanian sejati," gumam Anya, mengingat tulisan di peta. Mereka saling memandang. Inilah saatnya. Apakah mereka cukup murni? Apakah mereka cukup berani? Tanpa berkata-kata lagi, mereka mengangguk, lalu melangkah maju bersama-sama, menembus tirai air terjun yang mengalir terbalik itu. Rasanya seperti melangkah menembus kabut dingin yang berkilauan.