Penulis: Anafi Sensei

Bayangan di Surga



Apa yang mereka lihat di baliknya membuat mereka menahan napas. Mereka tidak lagi berada di hutan yang temaram. Mereka berada di Hutan Ajaib.

Semuanya bercahaya dengan cahaya dari dalam. Rumputnya memancarkan cahaya hijau lembut di bawah kaki mereka. Bunga-bunga kristal aneka warna bernyanyi dengan nada-nada pelan saat disentuh. Di langit yang berwarna ungu muda, terbang burung-burung yang tubuhnya terbuat dari kristal cair, meninggalkan jejak pelangi di belakang mereka. Udaranya beraroma bunga dan ozon. Di tengah hutan, berdiri sebuah pohon raksasa yang batangnya seperti perak murni yang dipilin, dan daun-daunnya berkilauan seperti jutaan keping zamrud. Pohon itu berdenyut dengan cahaya yang lembut dan kuat.

"Jantung Hutan," bisik Hoot, suaranya penuh kekaguman. "Sumber semua keajaiban di tempat ini."

Tempat itu adalah surga yang nyata. Namun, surga itu dalam masalah besar.

Di sisi lain pohon raksasa itu, mereka melihatnya. Sebuah "bayangan gelap" yang merusak pemandangan indah itu. Itu bukan sekadar kegelapan karena kurang cahaya; itu adalah kekosongan, sebuah anti-kehidupan. Area di mana rumput bercahaya itu menjadi hitam, rapuh, dan mati. Bunga-bunga berhenti bernyanyi dan hancur menjadi debu jika disentuh. Bayangan itu berdenyut perlahan seperti jantung yang sakit, menyebar seperti noda tinta di atas kain sutra, dan perlahan merayap inci demi inci menuju Jantung Hutan. Udara di dekatnya terasa sangat dingin dan penuh keputusasaan.

"Apa itu?" tanya Arka, cengkeramannya pada tongkat kayu mengerat. Dia bisa merasakan hawa dingin yang jahat darinya.

"Keserakahan," jawab Hoot, suaranya kini terdengar sedih dan tua. "Seseorang, sangat lama dahulu, telah mencoba mencuri kekuatan Jantung Hutan untuk dirinya sendiri. Dia ingin mengendalikan kehidupan. Tapi kekuatan itu terlalu murni untuk digenggam oleh hati yang serakah."

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Anya.

"Dia hancur," kata Hoot. "Dan yang tersisa hanyalah bayangan dari niat buruknya. Luka di dalam hutan. Dan kini, luka itu terinfeksi, tumbuh, dan mengancam akan mematikan Jantung Hutan selamanya."