Penulis: Anafi Sensei

Teka-Teki Para Penjaga



Perjalanan di seberang sungai membawa mereka ke bagian hutan yang lebih tua dan lebih sunyi. Pohon-pohonnya begitu besar sehingga tiga orang dewasa pun tak bisa memeluk batangnya. Kanopi daunnya begitu rapat hingga sinar matahari nyaris tak bisa menembus, membuat suasana di bawahnya temaram seperti senja abadi. Udaranya terasa berat dan kuno.

Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di sebuah tanah lapang yang melingkar sempurna, seolah sengaja dibuat. Di tengahnya, berdiri tiga patung batu raksasa yang tertutup lumut tebal. Bentuknya adalah beruang yang duduk, elang yang mengembangkan sayap, dan kura-kura dengan tempurung besar. Patung-patung itu tampak begitu tua, seolah telah berada di sana sejak awal waktu.

Saat mereka mendekat dengan hati-hati, Hoot terbang dari bahu Anya dan mendarat di atas kepala patung kura-kura. Tiba-tiba, terdengar suara batu berderak. Mata batu ketiga patung itu menyala dengan cahaya hijau redup.

"Berhenti, pejalan kecil," sebuah suara serak dan berat bergema, sepertinya dari ketiga patung sekaligus, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan. "Kami adalah Penjaga Kuno. Jalan menuju Hutan Ajaib tertutup. Hanya terbuka bagi mereka yang bijak."

Arka, meski jantungnya berdebar kencang, melangkah maju. "Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami dikirim oleh peta kakek kami."

"Banyak yang datang membawa peta," kata suara patung elang, lebih tajam dan jelas. "Peta hanya menunjukkan jalan. Hati yang menentukan tujuan. Banyak yang mencari kekuatan, sedikit yang mencari kebijaksanaan. Jawab teka-teki kami, atau kembalilah ke duniamu."

Patung beruang itu berkata, suaranya dalam dan menggelegar, "Aku memiliki akar yang tak terlihat, aku lebih tinggi dari pohon. Aku terus mendaki, tapi tak pernah bergerak. Siapakah aku?"

Arka berpikir keras. Sesuatu yang lebih tinggi dari pohon. "Langit?"

"Langit bergerak," jawab patung beruang itu, cahaya di matanya berkedip. "Awan berarak, bulan berganti."

Arka mencoba lagi. "Angin?" "Angin tidak mendaki, ia berkelana," sahut patung elang.

Arka terdiam, frustrasi. Ini jebakan. Hoot bersuara pelan, "Huu... Huu..." Ia menatap ke satu arah, ke celah di antara kanopi pohon. Anya mengikuti arah pandangan Hoot. Melalui celah itu, jauh di kejauhan, ia bisa melihat puncak-puncak gunung yang diselimuti salju, menjulang tinggi di atas hutan. Puncak-puncak itu seolah "mendaki" ke langit, dan "akarnya" tersembunyi jauh di bawah tanah.

"Gunung!" seru Anya, suaranya terdengar jelas di keheningan itu.

Keheningan melanda tanah lapang itu. Suara serak para penjaga lenyap. Lalu, cahaya hijau di mata mereka melembut, berubah menjadi putih hangat. "Benar, anak muda," kata patung kura-kura, suaranya paling pelan dan paling tua. "Keberanianmu (Arka) membawamu ke sini, melewati rintangan yang kasat mata. Tapi kebijaksanaanmu (Anya) membukakan jalan, melewati rintangan yang tak terlihat. Kalian berdua adalah keseimbangan."

Pepohonan raksasa di belakang patung-patung itu perlahan bergeser, akar-akarnya bergerak seperti ular, menyingkap sebuah jalan setapak kecil yang sebelumnya sama sekali tidak ada.