Penulis: Anafi Sensei

Sungai Yang Berbicara



Setelah berjalan hampir seharian, saat matahari mulai condong ke barat dan cahaya hutan berubah menjadi oranye tembaga, mereka sampai di sebuah rintangan besar. Jalur sungai kering yang mereka ikuti berakhir di sebuah tebing rendah, dan di bawahnya terbentang sungai yang lebar dan deras. Airnya tidak jernih, melainkan berwarna hijau pekat seperti lumut, dan arusnya berputar-putar liar. Tidak ada jembatan, tidak ada batu pijakan, dan tepian di seberang tampak sangat jauh.

"Bagaimana kita menyeberang?" tanya Arka, mengukur jaraknya. Dia melemparkan sebatang ranting ke air; ranting itu langsung ditelan pusaran dan lenyap. "Kita tidak bisa berenang. Arusnya terlalu kuat." Dia mulai mencari-cari pohon tumbang yang mungkin bisa dijadikan jembatan.

Saat itulah Anya menempelkan telunjuk ke bibirnya. "Ssh. Dengarkan."

Arka terdiam. Awalnya ia hanya mendengar gemuruh air yang memekakkan telinga. Tapi kemudian, dari dalam gemuruh itu, ia bisa mendengar suara... bukan, itu bisikan. Banyak bisikan, yang menyatu menjadi satu suara dalam dan bergelembung. Suara itu sepertinya berasal dari sungai itu sendiri.

"Yang terburu-buru akan hanyut," kata suara itu, seperti suara ribuan tetes air yang berbicara bersamaan. "Yang serakah akan tenggelam. Hanya yang memberi yang akan kuberi jalan."

Arka menatap Anya, wajahnya tegang. "Memberi? Kita punya apa? Roti? Tali?" Dia merogoh sakunya, tapi yang ia temukan hanya beberapa keping koin tembaga. "Sungai tidak butuh koin."

Anya tidak menjawab. Dia memejamkan mata, mendengarkan. 'Hanya yang memberi...'. Pesan itu mengingatkannya pada pesan kakeknya: 'Hutan itu hidup'. Dia membuka mata dan melihat sekeliling, mencari petunjuk. Di tepi sungai, terjepit di antara dua batu, tumbuh sekuntum bunga bercahaya yang tampak layu. Kelopaknya yang seharusnya berwarna biru langit, kini kusam dan terkulai. Akarnya nyaris tak menyentuh air, tergantung di udara kering.

Tanpa ragu, Anya mengeluarkan botol minumnya. Airnya tinggal setengah. Itu adalah sisa air minum mereka. Arka melihatnya. "Anya, jangan! Itu bekal kita!"

Tetapi Anya sudah mengambil keputusan. Dia teringat pesan kakeknya. Dengan hati-hati, dia menuangkan air minum mereka yang berharga ke akar bunga yang kering itu, tetes demi tetes.

Bunga itu seketika tersentak hidup. Kelopaknya terentang dan mekar, memancarkan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Aroma melati yang manis menyebar di udara.

Sungai itu mendesah panjang, suara gemuruhnya melembut. "Kamu menghargai kehidupan. Kamu mengerti arti memberi. Silakan."

Perlahan, dari dasar sungai yang bergolak, serangkaian batu pijakan kuno yang tertutup lumut naik ke permukaan. Batu-batu itu muncul satu per satu, membentuk jembatan yang kokoh dan aman hingga ke seberang. Arka menatap tak percaya. Anya tersenyum, kelegaan terpancar di wajahnya.