Penulis: Anafi Sensei

Memasuki Kabut Misteri



Keesokan paginya, satu jam sebelum matahari terbit, Arka dan Anya menyelinap keluar rumah. Desa Tepian Kabut masih tertidur lelap. Arka membawa tas ransel kecil berisi perbekalan: tiga potong roti gandum, sebotol air, seutas tali rami yang kuat, dan lentera minyak kecil. Anya, yang lebih praktis, membawa pisau lipat kecil milik kakeknya dan, tentu saja, peta kuno itu di sakunya, terlipat dengan aman. Hoot terbang rendah di atas mereka, bayangannya melintasi tanah berkabut seperti pemandu yang senyap.

Mereka melewati Tanda Batu, batas yang selama ini tak berani mereka langgar. Seketika, udara terasa berubah. Di dalam Hutan Misteri, suhunya beberapa derajat lebih dingin. Memasuki hutan itu terasa berbeda kali ini. Biasanya, dari kejauhan, hutan itu hanya terasa lebat dan gelap. Kini, dengan peta di saku Anya, hutan itu terasa... menunggu. Pohon-pohon raksasa menjulang seperti penjaga yang tertidur, dahan-dahan mereka yang telanjang tampak seperti lengan-lengan yang terentang. Kabut tipis bergulung di antara akar-akar pohon yang menonjol seperti urat-urat bumi.

"Menurut peta, kita harus mengikuti aliran 'Suara Air' ke hulu," kata Anya, suaranya pelan, seolah takut membangunkan sesuatu. Dia menunjuk ke sebuah jalur sungai kecil yang nyaris kering, hanya menyisakan kerikil basah dan genangan-genangan kecil. Anehnya, meski sungainya kering, mereka bisa mendengar suara gemericik air yang samar, seolah berasal dari bawah tanah atau dari udara itu sendiri.

Mereka berjalan selama berjam-jam. Suara hutan biasa—kicau burung dan gemerisik daun—perlahan meredup, digantikan oleh keheningan yang pekat dan berat. Hanya suara langkah kaki mereka di atas kerikil dan ranting kering yang terdengar. Hoot terbang dari dahan ke dahan, matanya yang besar waspada, berputar ke segala arah. Arka memegang tongkat kayu kokoh yang ia temukan, siap menghadapi apa pun. Sesekali, ia merasa ada yang mengawasi mereka dari balik pepohonan, tapi setiap kali ia menoleh, tidak ada apa-apa di sana.

Beberapa kali mereka nyaris kehilangan jejak "Suara Air" yang samar. Jalurnya menghilang di balik semak berduri atau tumpukan batu besar. Arka, yang mulai tidak sabar, ingin menerobos lurus. "Mungkin ini jalan buntu," katanya. Tapi Anya, dengan pengamatannya yang tajam, akan menemukan tanda kecil: sehelai lumut yang tumbuh dengan pola aneh, atau sebuah batu yang berkilau berbeda, persis seperti yang digambarkan di peta. "Tidak, Arka. Lewat sini," bisiknya, menarik lengan kakaknya. Petualangan ini ternyata tidak hanya membutuhkan keberanian, tapi juga kesabaran.