Penulis: Anafi Sensei

Peta Kuno Kakek



Di sebuah desa kecil bernama Tepian Kabut, yang bersembunyi di tepi "Hutan Misteri," Arka dan Anya adalah dua nama yang tak terpisahkan. Desa itu hidup dari hasil hutan—kayu, buah-buahan, dan obat-obatan—namun para penduduknya tidak pernah berani masuk terlalu jauh. Hutan Misteri adalah batas dunia mereka. Arka, dengan rambut cokelat acak-acakan dan mata yang selalu mencari petualangan, adalah sang pemberani. Dialah yang pertama kali memanjat pohon tertinggi di alun-alun desa dan yang berani mengambilkan layangan yang tersangkut di atap rumah Pak Lurah. Anya, adiknya, lebih pendiam. Dengan tatapan jernih yang seolah bisa melihat hal-hal yang tak terlihat oleh orang lain, dia adalah sang pengamat. Ia bisa duduk diam selama satu jam hanya untuk melihat seekor laba-laba menenun jaringnya, memperhatikan setiap helai benang sutra.

Hutan Misteri adalah latar belakang hidup mereka, sekaligus dongeng pengantar tidur yang paling menakutkan. "Jangan pernah melewati Tanda Batu," kata ibu mereka setiap malam, merujuk pada batas kuno di tepi hutan. "Ada yang hilang di sana dan tak pernah kembali." Tapi kakek mereka, yang telah meninggal setahun lalu, menceritakan kisah yang berbeda. "Hutan itu hidup," kata kakek mereka dulu, matanya berbinar di balik kacamata bulatnya. "Hutan itu menguji. Dan ia hanya mendengarkan mereka yang punya hati bersih."

Suatu sore yang berangin, saat musim kemarau membuat debu beterbangan, ibu mereka meminta bantuan untuk membersihkan loteng peninggalan kakek. Loteng itu beraroma debu, kayu lapuk, dan kenangan. Di antara jaring laba-laba dan tumpukan buku-buku tua yang dimakan rayap, Arka menemukan sebuah teropong kuningan, sementara Anya menemukan sebuah kotak musik yang sudah tak berbunyi. Tepat ketika Arka mulai bosan, Anya melihat sesuatu yang tersembunyi di bawah tumpukan kain sulam tua yang sudah pudar warnanya. Sebuah peti kayu kecil, terukir dengan simbol matahari dan bulan. Peti itu tidak terkunci.

Di dalamnya, hanya ada satu benda: gulungan perkamen yang rapuh dan beraroma debu kuno serta aroma samar getah pinus.

Arka mengambilnya dan membukanya dengan hati-hati di lantai yang berdebu. Itu adalah sebuah peta. Tidak seperti peta desa atau wilayah sekitar yang pernah mereka lihat. Peta ini digambar tangan dengan tinta yang seolah bersinar redup. Peta ini dipenuhi simbol-simbol aneh: sungai yang digambar seperti ular hidup dengan sisik, pohon-pohon dengan wajah-wajah tersembunyi di batangnya, dan sebuah titik di tengah yang ditandai dengan spiral bercahaya. Di bagian atas, tertulis dengan huruf-huruf elok: "Jalan Menuju Hutan Ajaib."

Saat mereka berdua terdiam mengamati peta itu, seekor burung hantu kecil berbulu kelabu—sahabat mereka yang sering berkunjung, Hoot—terbang masuk melalui jendela loteng yang terbuka. Hoot mendarat dengan mulus di bahu Anya, membuat Anya sedikit terkejut. Burung hantu itu memiringkan kepalanya, mata emasnya yang besar menatap lekat pada peta itu. Tiba-tiba, ia mengeluarkan suara "Huu!" pelan yang terdengar penuh arti, sangat berbeda dari suaranya yang biasa.

"Hoot mengenalinya," bisik Anya, nyaris tak terdengar.

Arka merasakan getaran yang sudah lama ia kenal: panggilan petualangan. Jantungnya berdebar kencang. "Kakek ingin kita menemukannya," katanya, suaranya mantap, mencoba menutupi rasa gugupnya. "Hutan Ajaib itu nyata." Anya menatap Arka, lalu ke peta, lalu ke Hoot. Rasa takutnya berkelindan dengan rasa penasaran yang tak tertahankan. Ini adalah rahasia kakek mereka. Dan kini, rahasia itu ada di tangan mereka.