Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 36: Simfoni Kembang Api dan Janji di Atas Labirin


Malam Puncak yang Berkilau 

​Malam penutupan Festival Agung Tempest tiba dengan keindahan yang magis. Seluruh sudut kota diterangi oleh lampion-lampion sihir yang berpendar warna-warni. Di alun-alun utama, warga kota dan para monster berkumpul, menari dan menikmati sisa-sisa hidangan festival dengan penuh tawa.

​Namun, pemandangan terbaik malam ini berada di dek observasi tertinggi lantai 100 Labirin Tempest. Veldora, Rimuru, bersama Rangga, Cintia, Adit, dan Elian berdiri berjejer menatap hamparan langit malam yang bersih.

​"Kwahahahaha! Bersiaplah, murid-muridku!" seru Veldora, jubah hitam-emasnya berkibar ditiup angin malam. "Kalian telah melihat taktik dan kuliner duniaku. Sekarang, saksikanlah puncak dari estetika visual Tempest!"

​Rimuru tersenyum, mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah kristal pemicu sihir. "Semuanya, hitung mundur bersama! Tiga... dua... satu... Aktifkan!"

​Keajaiban Lintas Dimensi di Angkasa 

​BOOM!!!

​Sebuah bola cahaya raksasa melesat dari pusat kota menuju angkasa, lalu meledak menjadi jutaan serpihan cahaya keemasan. Namun, ini bukan kembang api biasa. Berkat modifikasi sihir yang dilakukan Rimuru bersama Ramiris, kembang api tersebut dikodekan dengan memori-memori perjalanan jurnal emas Veldora.

​Di langit malam Tempest, kilatan cahaya mulai membentuk gambar-gambar raksasa yang bergerak. Pertama, muncul siluet pedang perak raksasa yang menebas menara kuno (dunia Rangga, Cintia, dan Adit). Penonton di bawah bersorak kagum.

​Ledakan berikutnya membentuk formasi kapal terbang Storm Rider hitam-emas yang sedang membelah samudra awan (dunia Elian), disusul oleh lingkaran jam pasir raksasa yang berdetak anggun (dunia Lyra).

​"Luar biasa..." bisik Cintia dengan mata berkaca-kaca, memantulkan keindahan cahaya di langit. "Cerita perjuangan kita... terukir indah di langit dunia ini."

​Elian memegang pagar pembatas dengan erat. "Teknologi pencahayaan ini... aku harus mencatat frekuensinya agar bisa kubuat di dunia langit sebagai festival tahunan!"

​Adit hanya tersenyum puas sambil terus mengagumi bagaimana matematika sihir Rimuru bisa mengubah memori menjadi partikel cahaya yang begitu presisi.

​Janji Lintas Multiverse 

​Saat kembang api terakhir meledak membentuk siluet naga badai raksasa yang sedang tertawa, Veldora membalikkan badannya menghadap keempat muridnya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat hangat dan penuh wibawa.

​"Petualangan kalian di duniaku telah usai, dan gerbang dimensi harus segera ditutup agar stabilitas ruang tetap terjaga," ucap Veldora pelan. "Namun, ingatlah. Jurnal emas di tanganku ini akan selalu terbuka. Kapan pun dunia kalian berada dalam bahaya, atau kapan pun kalian merindukan rasa puding Tempest, goreskan tekad kalian di kompas artefak masing-masing!"

​Rangga maju satu langkah, mengepalkan tangan di dada dengan penuh rasa hormat. "Kami tidak akan pernah melupakan pelajaran di sini, Master. Kami akan menjaga dunia kami dengan disiplin dan keberanian yang telah Anda ajarkan."

​"Kami akan terus belajar dan berkembang!" tambah Adit, Cintia, dan Elian serempak.

​Goresan Emas Terakhir di Malam Festival 

​Setelah mengucapkan selamat tinggal yang penuh kehangatan, keempat remaja tersebut melangkah kembali ke dalam gerbang dimensi keperakan yang perlahan menutup dengan damai, mengantarkan mereka kembali ke rumah masing-masing dengan membawa sejuta kenangan baru.

​Veldora kembali ke kursi kebesarannya, mengambil pena emasnya dengan gerakan yang tenang, lalu menggoreskan tulisan di halaman Bab 36:

​Bab 36: Simfoni Langit Tempest. Festival telah usai, dan para murid telah kembali ke jalur takdir mereka sendiri. Langit malam ini menjadi saksi bahwa persahabatan yang terjalin antar-dimensi adalah sihir yang paling kuat di multiverse.

​Catatan Eksplorasi: Jurnal ini sekarang terasa jauh lebih hangat. Aku dan Rimuru sepakat untuk menyegel bab-bab pertempuran lama dan menyisakan halaman-halaman kosong baru untuk masa depan. Sekarang, labirin sudah sepi kembali... Rimuru, ayo balapan membaca volume komik terbaru! Kwahahahaha!