Hari-Hari Tenang yang Sibuk
Setelah gemerlap Festival Agung Tempest berlalu dan gerbang dimensi ditutup dengan aman, lantai 100 Labirin Tempest kembali ke ritme sehari-harinya yang santai namun produktif. Veldora, yang masih mengenakan jubah hitam-emas kebanggaannya, tampak bertumpu dagu di atas meja besarnya. Jurnal emas legendarisnya tergeletak pasif di samping sebuah piring kosong bekas puding siang.
"Kwahahahaha! Rimuru! Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku setelah festival kemarin!" seru Veldora, memecah kesunyian ruangan.
Rimuru, yang sedang dalam wujud slimenya dan bersantai di atas kepala Veldora, menghela napas kecil. "Kau hanya merindukan suasana mengajar, Veldora. Biasanya jam segini kau selalu sibuk memeriksa tabel taktik Adit atau mendengarkan laporan mesin dari Elian, kan?"
"Tepat sekali, kawanku! Jiwa mentorku sedang membara, tapi seluruh distorsi di tiga dunia kemarin sudah benar-benar bersih dan stabil," keluh Sang Naga Badai sambil membalik-balik halaman kosong jurnalnya yang kini menyisakan Bab 37.
Penemuan di Sudut Arsip
Untuk mengusir kebosanan Veldora, Rimuru mengajaknya berkunjung ke Perpustakaan Agung Tempest yang dikelola oleh para sarjana Goblin dan diawasi langsung oleh Shuna. Tempat itu dipenuhi oleh ribuan dokumen, mulai dari hukum perundang-undangan wilayah, data analisis potensi alam, hingga buku-buku kuno dari berbagai kerajaan.
Saat sedang berjalan-jalan di antara rak buku taktik militer, ekor mata Veldora menangkap sesuatu yang ganjil di rak paling bawah yang berdebu. Sebuah buku bersampul kulit tua dengan pengunci besi berbentuk akar pohon yang melilit.
Begitu Veldora menyentuh buku tersebut, jurnal emas di sakunya mendadak bergetar hebat. Bukan karena adanya musuh atau parasit dimensi, melainkan karena ada frekuensi sihir kuno yang sangat mirip dengan getaran kompas Nusantara milik trio Rangga, Cintia, dan Adit.
"Rimuru, lihat ini. Buku ini tidak memiliki penulis, tapi judulnya tertulis dalam aksara kuno: 'Babad Nusantara: Gerbang Alam Gaib'," ucap Veldora, ekspresinya mendadak berubah serius dan penuh selera detektif.
Sinyal yang Kembali Bergetar
Saat buku tua itu dibuka di atas meja perpustakaan, sebuah peta kuno yang menggambarkan pulau-pulau besar dengan vegetasi hutan yang sangat lebat muncul di halaman pertama. Di tengah peta tersebut, terdapat simbol sebuah pohon beringin raksasa dengan gerbang batu di bawah akarnya.
Bzzzt... Bzzzt...
Kompas pemancar di jubah Veldora berbunyi. Proyeksi teks dari dunia paralel mendadak masuk ke halaman Bab 37 jurnal emasnya. Itu adalah pesan darurat dari Adit!
“Master Veldora! Tolong periksa jurnal Anda! Saat tim Paskibra Rangga sedang melakukan latihan penjelajahan alam di hutan dekat akademi baru kami, Cintia merasakan adanya fluktuasi mana yang sangat aneh di bawah sebuah pohon beringin tua. Struktur energinya tidak vertikal ke langit seperti dunia Elian, tapi horizontal menembus ke dalam tanah... seolah-olah ada 'Dunia Bawah' yang tersembunyi di sini!”
Membaca pesan teks dari Adit yang sinkron dengan buku kuno yang baru saja ia temukan di perpustakaan Tempest, mata Veldora kembali menyala dengan binar naga sejati.
"Oho... Dunia Bawah yang tersembunyi di bawah akar bumi Nusantara? Sebuah misteri mistis yang berpadu dengan analisis taktis? Ini adalah petualangan baru dengan estetika yang sangat menegangkan! Kwahahahaha!"
Veldora segera mengambil pena emasnya, langsung menggoreskan judul dan catatan pembuka untuk arc terbaru mereka di Bab 37:
Bab 37: Misteri Babad Kuno dan Gerbang Akar Bumi. Ketika satu gerbang ditutup, takdir selalu punya cara untuk menggali gerbang baru dari dalam tanah. Murid-muridku di Nusantara baru saja menemukan titik distorsi mistis yang terkubur di bawah akar pohon purba.
Catatan Eksplorasi: Hubungan antara buku tua di perpustakaan Tempest dan hutan di dunia Rangga bukan sebuah kebetulan. Kali ini, taktik baris-berbaris Rangga harus bersiap menghadapi medan yang gelap dan penuh labirin akar. Rimuru, pinjamkan aku beberapa jimat pendeteksi energi negatif, kita akan memulai petualangan mistis multiverse!