Pagi yang Segar di Arena Tempest
Cahaya matahari pagi menyinari Coliseum Terbuka Tempest dengan hangat. Angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput segar dan semangat yang membara. Di tengah arena, Rangga telah berdiri tegak dengan seragam latihan Paskibra-nya yang rapi, sementara di seberangnya, Gobta berdiri sambil menguap kecil, didampingi oleh beberapa anggota Pasukan Serigala Badai (Goblin Rider).
"Oho! Jadi kau yang bernama Rangga?" Gobta berkata sambil nyengir, mencoba terlihat keren di depan tamu lintas dimensi. "Master Veldora bilang disiplin baris-berbarismu bisa diubah jadi taktik pertahanan. Jangan remehkan kecepatan serigala kami, ya!"
Rangga tersenyum tenang, lalu mengambil posisi siap. "Kami datang untuk belajar, Kapten Gobta. Mohon bimbingannya!"
Di tribun penonton, Veldora duduk di kursi VIP bersama Rimuru, Cintia, Adit, dan Elian. Veldora memegang sekotak berondong jagung dengan wajah penuh antusias. "Kwahahahaha! Rimuru, lihatlah! Ini adalah perpaduan antara disiplin baris-berbaris Nusantara dan ketangkasan gerak cepat Tempest!"
Sinkronisasi Formasi dan Kecepatan
Peluit tanda latihan dimulai ditiup oleh Rigurd. Pasukan Gobta langsung bergerak cepat, menunggangi serigala badai mereka dan melesat memutari Rangga dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran debu untuk mengacaukan pandangan.
"Adit! Analisis polanya!" seru Rangga tanpa panik sedikit pun.
Dari tribun, Adit langsung membuka buku catatannya, matanya bergerak lincah mengikuti pergerakan Gobta. Melalui alat komunikasi sihir mini buatan Elian yang terpasang di telinga Rangga, Adit membisikkan instruksi: "Rangga! Mereka bergerak menggunakan pola spiral konstan dengan ritme tiga detik. Ambil langkah tegap maju empat meter pada detik kedua untuk memotong jalur mereka!"
"Dimengerti!" Rangga menghentakkan kakinya dengan mantap. Sret! Sret! Langkah tegap maju, jalan!
Gerakan baris-berbaris Rangga yang sangat presisi dan tegas mendadak memotong jalur lari salah satu serigala Gobta. Alih-alih menyerang secara fisik, hentakan kaki Rangga yang sudah disuntikkan mantra efisiensi energi milik Cintia memicu gelombang kejut udara murni yang mementalkan pusaran debu tersebut.
"Wah, gerakannya patah-patah tapi akurat sekali!" seru Gobta yang hampir terlempar dari punggung serigalanya.
Pujian dari sang Penguasa Labirin
Latihan persahabatan itu berlangsung seru tanpa ada satu pun yang terluka. Kombinasi ketegasan fisik Rangga, analisis matematis Adit, dan sokongan sihir Cintia mampu mengimbangi kelincahan Pasukan Serigala Badai Tempest. Bahkan Gobta sendiri akhirnya mengacungkan jempol tanda kagum pada kedisiplinan tingkat tinggi milik murid-murid Veldora.
Setelah latihan selesai, Benimaru dan Hakurou yang ikut menyaksikan dari pinggir lapangan mengangguk setuju. "Anak muda itu memiliki fokus yang sangat tajam," puji Hakurou sambil mengelus janggutnya. "Disiplin langkahnya bisa dikembangkan menjadi teknik pergerakan tanpa bayangan."
Catatan sang Mentor yang Bangga
Veldora turun ke arena dengan tawa menggelegar, menepuk-nepuk pundak Rangga dan Gobta secara bersamaan. Ia mengeluarkan pena emasnya dan menulis dengan penuh kebanggaan di halaman Bab 35:
Bab 35: Harmoni Taktik di Coliseum. Hari ini terbukti bahwa kedisiplinan baris-berbaris dari dunia Nusantara bukan hanya sekadar estetika upacara, melainkan dasar pertahanan yang sangat kokoh jika dipadukan dengan analisis matang. Gobta dan pasukannya mendapat pelajaran berharga tentang arti dari sebuah presisi langkah
Catatan Eksplorasi: Hakurou tampaknya tertarik memberikan beberapa tips pedang kepada Rangga. Sementara itu, malam nanti adalah malam penutupan festival, dan Rimuru berjanji akan menyalakan kembang api sihir terbesar yang pernah ada. Aku harus memastikan posisiku berada di tempat tertinggi agar terlihat paling keren!