Selamat Datang di Lantai 100
Sinar keperakan dari gerbang dimensi perlahan memudar, meninggalkan empat sesosok remaja yang berdiri dengan mata terbelalak di tengah megahnya aula santai lantai 100 Labirin Tempest.
Rangga, Cintia, dan Adit saling pandang, merapikan pakaian santai beraksen batik mereka yang masih terasa hangat oleh sisa energi sihir penyeberangan. Di samping mereka, Elian dari dunia langit tampak memeluk erat sebuah miniatur mesin jet Storm Rider yang berkilau hitam-emas.
"Kwahahahaha! Tepat waktu, murid-muridku!" tawa Veldora menggelegar, membuat keempatnya spontan menengadah.
"Master Veldora!" seru Rangga dan Adit serempak, langsung mengambil posisi hormat tegak khas pasukan Paskibra yang membuat Veldora tersenyum bangga.
"Wah, tempat ini... energinya sangat murni dan padat," bisik Cintia sambil mengamati aliran mana yang berpendar di dinding kristal labirin.
Rimuru, dalam wujud manusianya yang berambut biru perak, melangkah maju sambil melambaikan tangan dengan santai. "Halo semuanya. Selamat datang di Tempest. Aku Rimuru Tempest, teman sekamar naga besar yang berisik ini. Santai saja, tidak perlu seformal itu di sini."
Pertemuan Dua Penemu
Belum sempat kecanggungan mencair, mata Elian langsung tertuju pada kompas mekanik kuno yang dipegang Adit dan sisa lingkaran sihir pengunci dimensi buatan Rimuru.
"Tunggu... Anda yang mendesain sistem stabilisasi ruang ini?" tanya Elian kepada Rimuru dengan mata berbinar-binar. "Frekuensi konversinya benar-benar efisien! Jauh lebih stabil daripada kalkulasi sihir gravitasi di pulau terapungku!"
Adit langsung mendekat, membuka buku catatannya. "Benar kan, Elian? Jika struktur matriksnya menggunakan pola pecahan lingkaran, hambatan energinya bisa ditekan sampai titik nol. Aku sempat membuat tabel perbandingannya berdasarkan rumus dari Master Veldora."
Melihat Adit dan Elian langsung asyik berdiskusi tentang sains sihir lintas dimensi, Rimuru tertawa kecil. "Heh, tampaknya dua jenius dari dunia berbeda sudah menemukan bahasa mereka sendiri."
Tur Keliling Kota yang Damai
Veldora kemudian memimpin rombongan kecil itu keluar dari Labirin menggunakan sihir teleportasi langsung ke area festival di pusat kota Tempest. Begitu menapakkan kaki di jalanan kota, Rangga dan kawan-kawan kembali dibuat takjub.
Kota itu dipenuhi lampion gantung yang memancarkan cahaya hangat. Berbagai macam ras monster—mulai dari Goblin yang ramah, Orc yang berbadan besar, hingga High Elf yang anggun—berjalan bersama dengan penuh tawa. Tidak ada rasa takut atau permusuhan, yang ada hanyalah kedamaian mutlak sebuah festival.
"Ini luar biasa, Rangga," bisik Cintia sambil menyentuh selembar kain sutra yang dipajang di salah satu stan monster. "Sebuah tempat di mana semua perbedaan bisa menyatu dengan begitu harmonis."
Rangga mengangguk mantap, tangannya mengepal pelan dengan penuh tekad. "Disiplin dan rasa saling menghargai di kota ini sangat terasa. Akademi kita di Nusantara harus meniru atmosfer seperti ini."
Kuliner yang Mengguncang Lidah
Di tengah alun-alun, Shuna telah menyambut mereka dengan meja panjang penuh hidangan. Yang paling dinanti tentu saja adalah puding karamel legendaris Tempest.
Veldora dengan bangga mengambil sendok pertamanya. "Kwahahahaha! Silakan dicicipi! Ini adalah puncak estetika kuliner duniaku!"
Saat sendok pertama puding itu masuk ke mulut mereka, ekspresi Rangga, Cintia, Adit, dan Elian langsung berubah. Teksturnya yang sangat lembut dan manisnya karamel yang pas seolah melelehkan seluruh rasa lelah dari perjalanan lintas dimensi mereka.
"Ini... ini keterlaluan lezatnya!" seru Elian sambil menyendok porsi keduanya dengan cepat.
Veldora yang melihat reaksi itu tertawa sangat puas. Ia mengeluarkan pena emasnya di sela-sela kunyahannya, lalu menuliskan draf di halaman Bab 34:
Bab 34: Pertemuan di Kota Monster. Murid-muridku telah tiba dan langsung jatuh cinta pada atmosfer serta kuliner Tempest. Diskusi antara Adit dan Elian membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas dimensi. Malam ini baru saja dimulai!
Catatan Eksplorasi: Rangga tampak sangat tertarik dengan metode pelatihan pasukan Serigala Badai milik Gobta. Kurasa besok aku harus mengizinkan mereka melakukan sedikit latihan persahabatan di arena terbuka. Pasti akan sangat seru!