Rencana Besar di Lantai 100
Kembali dari upacara peresmian di dunia paralel, Veldora sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Wujud manusianya mondar-mandir di ruang santai lantai 100 Labirin sambil terus mengayun-ayunkan tangannya dengan penuh semangat.
"Rimuru! Kita tidak boleh kalah saing dalam hal keramahan!" seru Veldora, menunjuk ke arah jurnal emasnya. "Murid-muridku sudah menyajikan Tumpeng yang luar biasa lezat dan peragaan baris-berbaris yang sangat presisi. Sekarang, giliran kita yang menunjukkan keagungan Festival Tempest kepada mereka!"
Rimuru yang sedang duduk di sofa sambil membaca laporan dari Rigurd mendongak, lalu terkekeh. "Benar juga. Hubungan diplomatik antar-dimensi ini harus seimbang. Kebetulan sekali, minggu depan kita akan mengadakan Festival Kuliner dan Kebudayaan Tempest. Ini momen yang pas untuk mengundang Rangga, Cintia, Adit, dan juga Elian dari dunia langit!"
"Oho! Ide yang brilian, kawanku!" mata Veldora berbinar. "Mari kita buat gerbang proyeksi dimensi terstabil yang pernah ada!"
Menulis Surat Undangan Emas
Veldora segera menyambar pena emasnya. Kali ini, ia menyuntikkan sedikit energi naga badai yang sangat lembut ke dalam tinta, membuat tulisan yang ia goreskan di Bab 33 memancarkan aroma bunga sakura dan kehangatan kota Tempest.
Kepada Murid-Murid Kebanggaanku: Rangga, Cintia, Adit, dan Elian.
Kalian telah menunjukkan kehebatan dunia kalian kepadaku. Kini, Sang Naga Badai secara resmi mengundang kalian semua untuk menyeberangi gerbang dimensi dan menghadiri Festival Agung Tempest!
Di sini, kalian akan mencicipi puding karamel terbaik buatan Shuna, melihat keindahan kota monster yang damai, dan bertukar pikiran langsung denganku di lantai 100. Gerbang dimensi akan dibuka tepat saat bulan purnama bersinar di dunia kalian.
Bersiaplah untuk sebuah perayaan yang akan mengguncang selera estetik kalian!
Reaksi di Seberang Dimensi
Pesan itu muncul secara bersamaan di jurnal emas dan kompas pemancar milik para murid.
Di dunia paralel, Adit langsung menyesuaikan jadwal belajarnya agar tidak bentrok dengan malam bulan purnama. Cintia dengan penuh semangat mulai mendesain pakaian santai bermotif batik modern yang nyaman untuk perjalanan lintas dimensi. Sementara Rangga langsung membersihkan sepatu PDL-nya agar tetap terlihat gagah saat bertemu langsung dengan Master Veldora.
Di dunia langit, Elian yang membaca pesan itu di bengkel kerjanya langsung bersorak kegirangan. "Pesta di dunia Master Veldora?! Aku harus menyiapkan Storm Rider versi mini sebagai oleh-oleh teknologi untuk beliau!"
Detik-Detik Pembukaan Gerbang
Malam bulan purnama yang dinanti pun tiba. Di lantai 100 Labirin, Ramiris dan Rimuru bekerja sama menyelaraskan lingkaran sihir ruang-waktu. Sebuah gerbang melingkar berwarna biru keperakan dengan aksen emas perlahan terbuka di tengah ruangan, berdiri dengan sangat kokoh dan aman.
Veldora berdiri di depan gerbang dengan pose paling keren yang bisa ia lakukan—tangan melipat di dada, jubah hitam-emas berkibar halus, dan senyum lebar penuh wibawa.
"Kwahahahaha! Selamat datang di Tempest, para pengelana dimensi!" seru Veldora menyambut bayangan-bayangan yang mulai melangkah keluar dari dalam gerbang cahaya.
Veldora mengambil penanya sejenak untuk menuliskan catatan pembuka festival di halaman Bab 33:
Bab 33: Gerbang Tempest Terbuka. Langkah awal dari kunjungan multiverse pertama dalam sejarah kota monster telah dimulai. Murid-muridku akhirnya menginjakkan kaki di duniaku. Malam ini, semua batas ruang dan waktu melebur dalam kegembiraan festival!
Catatan Eksplorasi: Shuna sudah menyiapkan tiga ratus porsi puding dan ramuan buah segar. Kurasa malam ini Labirin akan menjadi tempat paling berisik dan paling bahagia di seluruh multiverse!