Menembus Tirai Dimensi
Hari peresmian Akademi Literasi dan Taktik Nusantara akhirnya tiba. Di alun-alun utama akademi baru tersebut, ratusan pasang mata telah berkumpul. Lapangan upacara tertata sangat rapi; umbul-umbul berwarna-warni berkibar, dan sebuah panggung besar dengan latar belakang kain batik bermotif megah telah berdiri kokoh.
Di barisan depan, Adit berdiri tegak sambil memegang papan klip berisi susunan acara. Di sebelahnya, Cintia tampak anggun mengenakan seragam akademi baru yang dirancangnya sendiri—perpaduan antara jubah sihir modern dan aksen kain tradisional.
"Adit, apakah koordinat jurnalnya sudah siap?" bisik Cintia dengan nada cemas namun bersemangat.
Adit melirik kompas mekanik di tangannya yang mulai berputar konstan, memancarkan cahaya keemasan. "Sudah siap. Master Veldora akan terhubung dalam tiga... dua... satu..."
Kehadiran yang Memukau
Tepat di tengah panggung, udara mendadak bergetar lembut. Alih-alih ledakan petir yang menakutkan, pusaran angin sepoi-sepoi yang hangat keluar dari lembaran jurnal emas yang diletakkan di atas podium. Dari dalam cahaya tersebut, sesosok pria berambut pirang dengan jubah hitam-emas yang sangat rapi melangkah keluar.
Itu adalah wujud manusia Veldora, yang proyeksi spiritualnya telah diselaraskan dengan sempurna oleh teknologi Rimuru agar tidak memicu gempa sihir di dunia paralel. Pin perak berbentuk pedang pemberian Rangga berkilau di kerah jubahnya, menambah kesan berwibawa.
"Kwahahahaha! Wahai para pemuda pencari kejayaan dan pengetahuan lintas dimensi!" Suara Veldora menggema kuat, penuh wibawa namun tetap bersahabat, langsung menyihir seluruh hadirin yang spontan memberikan tepuk tangan riuh.
Rangga, yang berdiri di barisan depan pasukan Paskibra, langsung memberikan hormat tegak dengan mata berbinar bangga melihat mentornya hadir dengan begitu keren.
Pidato sang Naga dan Formasi Sempurna
Veldora maju ke depan mikrofon sihir. Kali ini, ia menyampaikan pidato yang sangat menyentuh tentang bagaimana sebuah strategi yang hebat harus selalu diiringi oleh kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan—sebuah filosofi yang ia serap dari catatan Sekbid 5 OSIS milik murid-muridnya.
Setelah pidato selesai, acara dilanjutkan dengan peragaan formasi baris-berbaris dari tim Paskibra yang dipimpin langsung oleh Rangga. Gerakan mereka begitu presisi, kompak, dan tegas. Setiap langkah kaki yang serempak menciptakan getaran energi pertahanan yang solid, sebuah teknik konversi disiplin fisik menjadi energi sihir yang pernah disarankan oleh Adit. Atas perintah Rangga, mereka membentuk formasi akhir yang menyerupai sayap naga pelindung, sebagai penghormatan khusus untuk Veldora.
Veldora yang menyaksikan dari atas panggung bertepuk tangan dengan sangat heboh. "Luar biasa! Disiplin yang sangat estetik! Aku beri nilai dua ratus persen!"
Pemotongan Tumpeng Multiverse
Sebagai puncak acara, sebuah tumpeng nasi kuning raksasa dibawa ke atas panggung. Adit menjelaskan kepada Veldora tentang filosofi tumpeng sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dan lambang hubungan erat antara manusia, alam, dan sesama.
Veldora, yang mencicipi potongan pertama dalam wujud proyeksinya (yang entah bagaimana tetap bisa merasakan makanan berkat bantuan sihir kuliner Shuna), matanya langsung berbinar. "Oh! Perpaduan rasa gurih dan rempah ini benar-benar tak tandingi! Ini sangat cocok jika disandingkan dengan puding dari duniaku!"
Sebelum acara ditutup, Veldora kembali ke meja jurnal untuk menuliskan draf terbarunya di Bab 32:
Bab 32: Peresmian Akademi Nusantara. Hari ini aku menyaksikan langsung bagaimana ilmu yang kutanamkan telah tumbuh menjadi sebuah institusi yang megah. Formasi sayap naga dari tim Rangga sangat luar biasa, dan rasa Tumpeng benar-benar membuka cakrawala kuliner baruku.
Catatan Eksplorasi: Hubungan antar-dimensi ini kini bukan lagi sekadar hubungan guru dan murid, melainkan aliansi budaya yang abadi. Di bab berikutnya, aku akan mengundang perwakilan akademi ini untuk mencicipi festival kuliner di Tempest!