Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 31: Surat Undangan dari Dunia Paralel


Kejutan di Halaman Baru 

​Setelah lembaran bonus sehari-hari ditutup, Veldora mengira jurnal emasnya akan benar-benar beristirahat. Namun, keajaiban multiverse selalu punya cara untuk mengejutkan Sang Naga Badai.

​Pagi itu, seberkas cahaya perak yang lembut tiba-tiba berpendar dari balik sampul jurnal. Sebuah halaman baru—Bab 31—terbuka dengan sendirinya. Di atasnya, bukan sekadar tulisan tangan biasa yang muncul, melainkan sebuah desain kartu undangan resmi yang sangat rapi dan elegan.

​Di bagian atas kartu tersebut, terdapat lambang anyaman batik tradisional yang berpadu indah dengan simbol pedang perak milik Rangga.

​"Oho? Rimuru, kemari! Lihat ini!" panggil Veldora dengan nada heboh, kacamata bacanya hampir merosot dari hidung. "Murid-murid pertamaku mengirimkan sesuatu yang tampak sangat resmi!"

​Rimuru berjalan mendekat sambil membawa segelas jus buah. "Undangan? Dari Rangga, Cintia, dan Adit? Coba kita baca."

​Isi Undangan Multiverse 

​Tulisan di kartu undangan itu bergerak dinamis, memancarkan suara Adit yang terdengar formal namun penuh semangat:

​Kepada Yang Terhormat, Master Veldora di Tempest.

​Dengan rasa syukur yang mendalam, kami ingin mengundang Master untuk menghadiri acara pembukaan resmi "Akademi Literasi dan Taktik Nusantara" di dunia kami. Berkat jurnal bimbingan dari Anda, sekolah kami kini diakui oleh dewan wilayah sebagai pusat pembelajaran strategi terbaik.

​Acara ini akan dimeriahkan dengan pameran seni batik filosofis dan peragaan formasi baris-berbaris dari klub Paskibra yang dipimpin oleh Rangga. Kami sangat berharap Master bisa hadir—atau setidaknya mengirimkan pesan proyeksi—sebagai pelindung agung akademi kami.

​Hormat kami,

Rangga, Cintia, & Adit.

​Dilema Sang Naga 

​Veldora langsung berdiri dari sofanya, jubah hitam-emasnya berkibar hebat. "Kwahahahaha! Undangan yang luar biasa! Mereka menginginkan kehadiranku sebagai Pelindung Agung! Rimuru, siapkan gerbang dimensi! Aku harus datang dengan penampilan yang paling menggelegar!"

​Rimuru langsung menepuk dahinya. "Tunggu dulu, Veldora! Tubuh aslimu itu naga raksasa dengan energi badai yang masif. Kalau kau menyeberang secara fisik ke dunia paralel mereka yang tenang, kehadiranmu bisa memicu gempa sihir dan merusak dekorasi festival mereka!"

​Veldora tertegun, melirik cakar naganya yang besar. "Ah... benar juga. Estetika acaraku bisa rusak kalau aku tidak sengaja merubuhkan gedung akademi baru mereka."

​"Tapi jangan khawatir," Rimuru tersenyum sambil mengeluarkan sebuah batu proyeksi sihir tingkat tinggi dari sakunya. "Kita bisa menggunakan sihir klon spiritual tingkat lanjut yang digabungkan dengan jurnal emas. Kau bisa hadir dalam wujud manusiamu secara penuh, lengkap dengan aura yang sudah diredam, tapi tetap terlihat sangat berwibawa."

​Mempersiapkan Naskah Sambutan 

​Malam itu, lantai 100 kembali sibuk. Veldora tidak ingin mempermalukan murid-muridnya. Ia meminta bantuan Souei dan Benimaru untuk mengajari cara memberikan sambutan resmi yang elegan namun tetap memiliki unsur "keren" khas Naga Badai.

​Sementara itu, di seberang dimensi, Adit sedang sibuk memeriksa tabel persiapan acara, Cintia memastikan aliran mana pada lampu gantung dekorasi tetap stabil, dan Rangga meneriakkan instruksi terakhir kepada tim Paskibranya agar formasi mereka besok terlihat sesempurna tebasan pedang mereka.

​Veldora mengambil penanya dan menuliskan catatan persiapan di Bab 31:

​Bab 31: Undangan Agung dari Nusantara. Murid-muridku telah melangkah sangat jauh hingga mendirikan akademi mereka sendiri. Besok, Sang Naga Badai akan menghadiri peresmian tersebut dalam wujud manusia terbaik. Aku sudah meminta Shuna menyetrika jubah hitam-emas ini hingga tidak ada satu pun lipatan yang tersisa!

​Catatan Eksplorasi: Aku mendengar mereka akan menyajikan makanan khas festival bernama 'Tumpeng' di acara besok. Kurasa rasanya akan sangat luar biasa jika dipadukan dengan puding Tempest!