Evaluasi Akhir sang Profesor Naga
Setelah badai parasit di Akademi Laputa berhasil ditenangkan, suasana di lantai 100 Labirin Tempest terasa sangat santai. Veldora duduk di kursi kebesarannya dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya, menatap jurnal emasnya yang kini memiliki dua tab dimensi yang aktif berkedip.
Tab pertama berlogo pedang perak (dunia Rangga, Cintia, dan Adit), dan tab kedua berlogo sayap hitam-emas (dunia langit Elian).
"Kwahahahaha! Rimuru, lihat ini! Aku sudah seperti kepala sekolah dari sebuah akademi rahasia antar-dimensi!" puji Veldora pada dirinya sendiri sambil menunjuk ke arah jurnal.
Rimuru, yang sedang sibuk menyusun laporan keuangan bulanan Tempest bersama Shion, mendongak dan tersenyum menggelengkan kepala. "Ya, ya, Profesor Veldora. Tapi ingat, tugas utamamu di sini tetaplah menjaga kestabilan Labirin. Jangan sampai konsentrasimu terpecah karena terlalu asyik mengajar dari jarak jauh."
"Tenang saja! Zegion dan Ramiris mengurus semuanya dengan sempurna. Lagipula, murid-muridku ini sudah mulai mandiri," jawab Veldora bangga.
Ruang Diskusi Lintas Batas
Sesuai ucapan Veldora, hal luar biasa terjadi di dalam lembaran jurnal emas itu. Berkat sihir jembatan frekuensi yang diaktifkan pada bab sebelumnya, ruang kosong di halaman Bab 27 mendadak berubah menjadi papan pengumuman interaktif yang bisa dibaca oleh kedua dunia.
Adit, sang ahli taktik dari dunia paralel, menuliskan pesan pertama di papan tersebut:
“Formula konversi mana yang digunakan pada mesin kapal terbang Elian sangat menarik. Jika diterapkan pada lingkaran sihir pertahanan Cintia, kita bisa menghemat energi hingga 40%.”
Tidak butuh waktu lama bagi Elian di dunia langit untuk membalas dari seberang dimensi:
“Benar! Dan teknik fokus tebasan milik Rangga memberiku ide untuk membuat pemotong aliran udara pada sayap depan Storm Rider agar bisa bermanuver lebih tajam!”
Melihat kedua dunia saling bertukar ilmu dan mengagumi strategi satu sama lain, Veldora merasa misinya sebagai mentor telah mencapai tingkat tertinggi. Mereka tidak hanya belajar darinya, tapi kini mereka saling belajar satu sama lain untuk melindungi dunia masing-masing.
Panggilan Misterius Ketiga
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Kompas mekanik di meja Veldora kembali bergetar, namun kali ini getarannya tidak konstan. Jarum kompas itu berputar seperti jam dinding yang rusak, melompat-lompat di antara angka dan arah yang tidak menentu.
Di saat yang sama, selembar halaman baru di jurnal Veldora terbuka secara paksa. Tinta emas yang biasanya mengalir rapi kini tampak bergetar, membentuk simbol kuno yang menyerupai jam pasir berlubang.
"Distorsi kali ini bukan spasial (ruang), Veldora..." Rimuru tiba-tiba berdiri, ekspresinya berubah sangat serius saat merasakan fluktuasi energi yang aneh. "Ini adalah distorsi temporal (waktu). Seseorang di suatu tempat sedang mencoba mengubah aliran waktu, atau terjebak di dalam pengulangan waktu yang tidak berujung."
Mendengar kata "waktu", binar di mata Veldora berubah menjadi tatapan naga sejati yang tajam dan penuh tantangan. "Oho... memanipulasi waktu? Itu adalah pelanggaran berat terhadap estetika sebuah petualangan! Kwahahahaha! Menarik sekali! Mari kita lihat siapa yang berani bermain-main dengan waktu di hadapan Sang Naga Badai!"
Veldora mengambil pena emasnya dengan mantap, bersiap menghadapi tantangan terbesar dalam karier penjelajahan dimensinya, dan menuliskan pembuka untuk petualangan berikutnya:
Bab 27: Koneksi Multiverse Terjalin. Murid-muridku kini telah menjadi guru bagi satu sama lain. Namun, kompas takdir kembali berputar liar, menunjuk pada sebuah dunia yang terjebak dalam labirin waktu. Persiapkan dirimu, Rimuru! Kali ini kita tidak hanya menyeberangi ruang, tapi kita akan menantang Sang Waktu itu sendiri!
Catatan Eksplorasi: Menembus distorsi waktu pasti akan sangat melelahkan. Aku harus memastikan Ramiris menyiapkan stok camilan dan komik cadangan yang banyak, karena siapa tahu kita akan terlempar ke masa lalu atau masa depan yang belum ada toko komiknya!