Menuju Palung Awan
Storm Rider melesat membelah samudra awan bawah, menukik tajam menuju dasar Pulau Laputa yang kian merapuh. Di sekeliling Elian, kabut parasit hitam kini telah memadat menjadi tentakel-tentakel energi yang mencoba mencengkeram bodi kapal. Namun, lapisan tipis aura naga badai yang tak kasat mata di moncong kapal membuat setiap tabrakan memicu percikan listrik yang menghancurkan tentakel tersebut.
"Indikator tekanan energi melesat ke zona merah! Tapi kestabilan sayap justru meningkat!" seru Elian dari dalam kokpit, matanya fokus menatap pusaran hitam raksasa di hadapannya. Itulah inti dari parasit dimensi yang menggerogoti gravitasi dunia langit.
Di lantai 100 Labirin Tempest, Veldora ikut menirukan gerakan mengemudi di atas sofanya. "Kwahahahaha! Sekarang, Elian! Jangan rem piringan sihirmu! Gunakan momentum akselerasi penuh untuk menusuk tepat di titik tengah pusaran itu!"
"Veldora, kendalikan dirimu, kau hampir menjatuhkan cangkir tehku," keluh Rimuru yang juga menatap layar ilusi dengan tangan bersendekap, mengamati struktur parasit yang mulai retak akibat getaran sonik dari mesin jet.
Jembatan Frekuensi Lintas Dunia
Saat mendekati inti raksasa itu, tekanan gravitasi terbalik mulai menghentikan laju Storm Rider. Mesin jet hitam-emas itu menderu keras, mengeluarkan asap percikan petir ungu, namun jarak mereka masih tertahan beberapa puluh meter dari pusat parasit. Elian mulai kehabisan mana untuk mempertahankan jimat penstabil.
Melihat murid barunya terdesak, Veldora mendapat ide cemerlang. Ia mengambil kristal mana pemberian Cintia yang tersimpan di sakunya dan mengalirkannya ke jurnal emas.
"Resonansi dimensi, aktif!" seru Veldora.
Melalui kompas di saku Elian, alunan musik instrumental bernuansa megah dan penuh semangat dari dunia paralel milik Rangga, Cintia, dan Adit mendadak menggema di dalam kokpit Storm Rider. Tidak hanya musik, getaran tekad dari kemenangan trio di menara kuno tempo hari seolah tersalurkan sebagai energi cadangan yang murni.
Mendengar simfoni asing yang membakar semangat itu, Elian merasakan aliran mana barunya bangkit kembali. "Aku tidak akan membiarkan akademi ini jatuh!"
Dengan teriakan lantang, ia mendorong tuas pendorong melampaui batas maksimal.
Hancurnya sang Parasit
Storm Rider meledak dalam kecepatan yang menghasilkan kilatan cahaya emas. Kapal itu melesat lurus, menembus dinding pertahanan parasit, dan menghantamkan jimat penstabil tepat di jantung retakan hitam.
Gelombang kejut sihir masif tercipta, memurnikan kabut hitam di seluruh samudra awan bawah dalam hitungan detik. Pulau melayang Laputa kembali terkunci di posisinya, melayang dengan kokoh dan aman di atas langit yang kini kembali biru bersih.
Warga akademi yang menyaksikan dari atas bersorak-sorai melihat kapal hitam-emas itu terbang membubung kembali ke atas awan dengan mulus, meninggalkan pelangi sihir di belakangnya.
Catatan sang Penjelajah Agung
Veldora bersandar kembali di sofanya dengan helaan napas puas, menyilangkan kaki dengan gaya khasnya. Ia mengambil pena emas dan menggoreskan catatan di Bab 26:
Bab 26: Kemenangan Storm Rider di Samudra Awan. Kombinasi antara teknologi jet badai, tekad Elian, dan sedikit bantuan melodi lintas dimensi dari trio pertamaku terbukti mampu menghancurkan parasit kuno itu berkeping-keping. Dunia langit telah diselamatkan oleh estetika hitam-emas!
Catatan Eksplorasi: Elian baru saja mengirimkan sinyal rasa syukur yang sangat besar lewat kompas Adit. Kurasa aku harus mulai menyiapkan sertifikat kelulusan resmi dari Labirin Tempest untuk murid-murid dimensiku. Rimuru, bisakah kau membantu mendesain logonya agar terlihat sangat sangar?