Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 25: Uji Coba Hitam-Emas dan Gema Pertama


​Perakitan yang Mustahil 

​Di bawah bimbingan "suara misterius" yang terus terngiang di kepalanya, Elian bekerja tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Menggunakan seluruh sisa material kristal putih terbaik dan logam ringan dari bengkel Akademi Laputa, ia berhasil mewujudkan prototipe mesin jet bertenaga badai pertama di dunia langit.

​Sesuai dengan bisikan estetik yang sempat menyelusup ke pikirannya, Elian mengecat seluruh bodi kapal terbang itu dengan warna hitam legam yang dipadukan dengan garis-garis emas menyala di sepanjang sayapnya. Kapal itu terlihat gagah, kontras dengan kapal-kapal terbang akademi yang biasanya berwarna putih polos.

​"Ini dia... Storm Rider," bisik Elian dengan mata lelah namun berbinar penuh kebanggaan, menatap kapal terbang barunya yang bersandar di dek peluncuran.

​Menembus Kabut Hitam 

​Namun, waktu tidak berpihak pada mereka. Retakan hitam di dasar pulau melayang tiba-tiba berdenyut kencang, melepaskan gelombang kabut parasit yang mulai naik ke permukaan dan mengganggu stabilitas gravitasi pulau akademi. Kapal-kapal terbang konvensional tidak bisa lepas landas karena angin sihir mereka tersedot oleh kabut tersebut.

​"Elian! Kapalmu adalah satu-satunya yang memiliki struktur energi berbeda! Kau harus mengujinya sekarang untuk menembus kabut dan mengantarkan jimat penstabil ke inti pulau!" teriak ketua akademi dari kejauhan.

​Jauh di lantai 100 Labirin Tempest, Veldora menghentikan kunyahan keripik kentangnya. Ia duduk tegak, menatap layar proyeksi jurnal dengan serius.

​"Rimuru! Waktunya telah tiba! Anak itu akan memulai penerbangan pertamanya!"

​"Bantu dia menjaga kestabilan energinya, Veldora. Jangan sampai mesin itu meledak di penerbangan perdana," sahut Rimuru yang kini ikut berdiri di samping Veldora, ikut tegang.

​Penerbangan sang Badai 

​Elian melompat ke kursi kokpit Storm Rider. Ia menarik tuas utama sihir. Mesin jet di bagian belakang kapal langsung mengonsumsi elemen angin di sekitarnya, memadatkannya dengan percikan petir tiruan, dan meledakkannya ke belakang.

​BOOM!

​Kapal hitam-emas itu melesat maju dengan kecepatan yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun di dunia langit. Kecepatannya menciptakan efek dentuman sonik yang membelah kabut hitam parasit dalam sekejap. Elian berteriak kencang, antara panik dan takjub, saat tubuhnya terdorong ke belakang oleh gaya gravitasi buatan yang sangat masif.

​Melalui kompas mekanik di saku Elian, Veldora menyalurkan sedikit—benar-benar hanya sebutir debu—dari aura naga aslinya untuk menyelimuti moncong kapal, membuat Storm Rider mampu menembus hambatan udara dan tekanan kabut parasit tanpa tergores sedikit pun.

​Kapal itu meliuk-liuk indah di antara pulau-pulau batu yang mulai retak, menuju langsung ke pusat distorsi di dasar benua melayang.

​Catatan sang Dosen Dimensi 

​Melihat keberhasilan peluncuran tersebut, Veldora tertawa lepas, suaranya kembali mengguncang seisi ruangan Labirin. Ia mengambil pena emasnya dengan gerakan teatrikal yang dramatis dan menuliskan akhir bab 25:

​Bab 25: Penerbangan Perdana Storm Rider! Desain hitam-emas terbukti meningkatkan estetika bertarung hingga 300%. Elian telah berhasil menjinakkan badai buatan dan membelah kabut parasit dengan kecepatan penuh. Pertempuran sesungguhnya untuk menyelamatkan Akademi Langit ada di depan mata!

​Catatan Eksplorasi: Kecepatan kapal itu tadi hampir menyamai kecepatan terbangku saat sedang santai. Tidak buruk untuk seorang pemula di dunia melayang. Aku jadi ingin menambahkan musik latar dari kristal mana milik Cintia agar penerbangan berikutnya terasa lebih epik!