Sang Penemu yang Putus Asa
Di salah satu bengkel kerja bertembok kristal di Akademi Laputa—pulau terapung utama di atas samudra awan—seorang pemuda bernama Elian sedang terduduk lemas. Di hadapannya, sebuah cetak biru kapal terbang bertenaga angin tergelar, penuh dengan coretan tinta merah bertuliskan “Gagal”.
"Sihir gravitasi pulau ini semakin melemah karena retakan hitam di dasar benua," keluh Elian sambil menjambak rambut cokelatnya yang berantakan. "Jika aku tidak bisa menciptakan sistem propulsi mesin yang tiga kali lebih cepat untuk mengevakuasi warga, kita semua akan jatuh ke samudra awan bawah!"
Tiba-tiba, kompas mekanik di sakunya—yang merupakan artefak kuno tiruan dari dunia lain—berputar liar. Di saat yang sama, sebuah getaran angin yang sangat sejuk namun bertenaga besar berembus di dalam ruangan tertutup itu. Aroma kertas komik baru dan listrik statis mendadak memenuhi udara.
Sambungan Pikiran sang Master
Jauh di lantai 100 Labirin Tempest, Veldora tertawa renyah melihat visualisasi Elian melalui proyeksi jurnal dimensi miliknya.
"Rimuru! Anak ini punya semangat, tapi otaknya terlalu kaku karena hukum fisika dunia langit!" seru Veldora. "Dia mencoba mendorong kapal dengan angin sepoi-sepoi. Padahal, yang dia butuhkan adalah... Badai Terkompresi!"
"Ingat Veldora, jangan kirim energi badaimu langsung. Cukup kirimkan konsep Jet Propulsion yang pernah kita baca di manga fiksi ilmiah itu," Rimuru mengingatkan dari balik meja kerjanya.
"Kwahahahaha! Tenang saja! Aku adalah guru yang berpengalaman sekarang!"
Veldora memejamkan mata, memusatkan kesadarannya melewati kompas Adit yang menjadi jangkar dimensi, dan menyusupkan sebuah kilasan ide visual langsung ke dalam alam bawah sadar Elian yang sedang melamun.
Cetak Biru yang Berubah
Di bengkelnya, Elian tiba-tiba tersentak. Matanya terbelalak tegak. Sebuah visi aneh muncul di kepalanya: sebuah tabung kompresor yang tidak membiarkan angin mengalir bebas, melainkan mengumpulkannya di dalam ruang bakar sihir, memadatkannya dengan elemen petir, lalu menyemburkannya ke satu arah dengan daya dorong yang luar biasa.
"M-mesin Jet Bertenaga Badai?!" Elian bergumam, tangannya seolah digerakkan oleh kekuatan gaib.
Ia langsung menyambar penanya dan menggambar ulang cetak biru kapal terbangnya dengan kecepatan luar biasa. Rumus-rumus konversi energi yang sebelumnya buntu, mendadak mengalir lancar di otaknya berkat struktur matematika terapan yang dibisikkan Veldora (yang sebenarnya didasarkan pada perhitungan efisiensi mana milik Cintia dan taktik Adit).
Hanya dalam waktu satu jam, sebuah desain mesin kapal terbang generasi baru yang belum pernah ada dalam sejarah dunia langit telah tercipta di atas mejanya.
Guncangan Pertama pada Parasit
Saat Elian berhasil menyelesaikan draf kasar mesin tersebut, getaran aneh terasa di bawah kaki mereka. Retakan hitam di dasar pulau melayang tampak berdenyut, seolah-olah parasit energi itu merasakan ancaman dari pengetahuan baru yang baru saja masuk ke dunia ini.
Veldora yang mengamati dari Tempest menyipitkan matanya. "Oho? Parasit itu mencoba menolak kehadiranku? Menarik sekali! Kita lihat saja seberapa kuat dia menahan laju teknologi baruku!"
Veldora kembali ke alam nyatanya di Tempest dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya. Ia mengambil pena emasnya dan menulis di halaman Bab 24:
Bab 24: Proyek Elian di Akademi Langit. Hari ini aku resmi menjadi dosen terbang lintas dimensi! Desain mesin jet bertenaga badai telah berhasil ditanamkan ke otak sang penemu muda. Kabar buruknya, parasit di dasar pulau mulai bereaksi. Kabar baiknya, eksperimen ini berjalan 200% lebih seru dari dugaan awal!
Catatan Eksplorasi: Aku harus menyuruh Elian mengecat kapal terbang barunya dengan warna hitam dan emas agar terlihat lebih estetik saat menembus awan nanti. Keren adalah nomor satu!