Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 23: Babak Baru Sang Pengelana Dimensi


​Kabar dari Seluruh Penjuru 

​Beberapa minggu telah berlalu sejak festival literasi akbar di Tempest berakhir. Kehidupan di kota monster kembali berjalan normal, namun tidak bagi Veldora. Setelah berhasil bertukar hadiah lintas dimensi dengan Rangga, Cintia, dan Adit, hasrat petualangannya kini tidak lagi terbatas pada komik dan novel yang ia baca di sofa empuk lantai 100.

​"Rimuru! Labirin ini sudah terlalu sempit untuk kejeniusanku!" seru Veldora suatu pagi, mengejutkan Rimuru yang sedang menikmati kopi paginya.

​Rimuru menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Lalu kau mau apa? Jangan bilang kau mau menghancurkan pembatas dimensi lagi. Kejadian kemarin saja membuat struktur sihir Ramiris sempat tidak stabil selama tiga hari."

​"Kwahahahaha! Tentu saja tidak, kawanku yang skeptis!" Veldora menepuk dadanya bangga. "Aku telah memutuskan untuk memperluas jurnal ini. Aku tidak hanya akan menjadi mentor bagi trio dunia paralel itu, tapi aku akan mencatat seluruh fenomena aneh dan dunia-dunia tersembunyi yang ada di multiverse ini. Aku akan menjadi... The Great Dimensional Explorer!"

​Sinyal yang Berkedip 

​Seolah menjawab deklarasi besar Veldora, kompas mekanik pemberian Adit yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berputar dengan sangat cepat. Jarumnya tidak lagi menunjuk ke arah Rimuru, melainkan bergetar hebat dan mengarah ke sebuah titik kosong di sudut ruangan.

​Di saat yang sama, jurnal emas Veldora terbuka dengan sendirinya, menampilkan selembar peta kosmis yang perlahan terbentuk dari goresan tinta sihir. Ada titik merah baru yang berkedip di luar koordinat dunia paralel milik Rangga dan kawan-kawan.

​"Distorsi spasial baru?" Rimuru langsung berdiri, ekspresinya berubah serius. Ia menggunakan kemampuan analisisnya untuk memindai energi yang memancar dari jurnal. "Energi ini... terasa sangat kuno, mirip dengan sisa-sisa sihir dari era penciptaan, tapi skalanya sangat kecil."

​"Ini adalah panggilan petualangan, Rimuru!" mata Veldora berbinar penuh gairah. "Bukan musuh yang meminta perang, melainkan sebuah dunia yang sedang menangis meminta pengetahuan!"

​Mempersiapkan Ekspedisi 

​Veldora tidak membuang waktu. Ia segera memanggil Zegion dan memberikan instruksi ketat untuk menjaga lantai 100 selama ia melakukan pengamatan jarak jauh. Ia juga memakai jubah hitam-emasnya, memasang pin perak berbentuk pedang pemberian Rangga di kerah jubah, dan menggenggam kristal mana milik Cintia di tangan kirinya untuk menjaga fokus pikirannya.

​Berbeda dengan intervensi sebelumnya yang tidak sengaja, kali ini Veldora dan Rimuru bekerja sama secara terstruktur. Rimuru membantu menstabilkan proyeksi kesadaran Veldora menggunakan sisa energi dari Belial (Raja Kebijaksanaan), sehingga Veldora bisa "mengirimkan" sebagian kesadarannya untuk mengintip ke dalam dunia baru tersebut tanpa harus memindahkan tubuh naganya yang masif.

​"Hati-hati, Veldora. Jika energinya terlalu menekan, segera tarik kembali kesadaranmu," pesan Rimuru.

​"Kwahahahaha! Serahkan padaku!"

​Kilasan Dunia Baru 

​Saat kesadaran Veldora menembus celah yang ditunjukkan oleh kompas Adit, pandangannya diselimuti oleh kabut perak yang tebal. Ketika kabut itu memudar, ia tidak melihat reruntuhan kuno atau kota modern.

​Ia melihat sebuah dunia terapung yang terdiri dari ribuan pulau batu yang melayang di atas samudra awan tak berujung. Di salah satu pulau terbesar, tampak sebuah akademi megah yang dibangun dari kristal putih, dikelilingi oleh kapal-kapal terbang bertenaga sihir angin.

​Namun, di bawah keindahan itu, Veldora bisa merasakan adanya retakan hitam besar di dasar pulau melayang tersebut—sebuah parasit energi yang perlahan-lahan menyedot sihir gravitasi yang menjaga pulau-pulau itu tetap terbang.

​Veldora tersenyum lebar di dalam ruang kesadarannya. Tempat ini asing, penuh keajaiban, dan jelas membutuhkan sentuhan strategi dari seorang master naga.

​Ia kembali ke tubuh fisiknya di lantai 100 dengan sentakan napas yang penuh semangat. Ia membuka halaman kosong Bab 23 dan menulis dengan goresan tinta yang mantap:

​Bab 23: Samudra Awan dan Pulau Terbang. Kompas takdir telah menunjuk ke sebuah koordinat baru yang menakjubkan. Sebuah akademi di atas langit sedang berada di ambang kejatuhan literal. Murid-murid pertamaku telah lulus dengan nilai sempurna, kini saatnya Sang Naga Badai mencari tantangan baru di dunia melayang!

​Catatan Eksplorasi: Struktur kapal terbang mereka sangat menarik, tapi sistem propulsinya terlalu lambat. Di bab berikutnya, aku akan mencoba membisikkan rumus mesin jet bertenaga badai kepada salah satu penemu di akademi itu. Pasti akan sangat meledak-ledak!