Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 22: Surat dari Seberang Dimensi dan Hadiah yang Tertinggal


Pagi yang Tenang Setelah Festival 

​Kemeriahan festival hari pertama masih menyisakan atmosfer hangat di seluruh penjuru kota Tempest. Di lantai 100 Labirin, Veldora sedang menikmati teh paginya bersama Rimuru ketika jurnal emas di atas meja tiba-tiba bersinar terang. Cahaya kali ini tidak seperti biasanya yang hanya memunculkan tulisan teks, melainkan membentuk sebuah pusaran sihir kecil yang stabil.

​Sret...

​Dari dalam pusaran cahaya itu, sebuah amplop kertas tebal berwarna cokelat jatuh tepat di atas pangkuan Veldora. Di bagian depannya tertulis dengan tinta hitam yang rapi: "Untuk Mentor Kami, Master Veldora."

​"Oho! Mereka mengirimkan barang fisik lewat celah dimensi?!" Rimuru mencondongkan tubuhnya, sangat penasaran. "Bagaimana bisa? Koordinat spasialnya pasti sangat tidak stabil."

​Veldora tertawa bangga, meski matanya menunjukkan rasa terkejut. "Kwahahahaha! Tentu saja bisa! Jangan remehkan ikatan yang dibangun oleh Sang Naga Badai! Biarkan aku melihat apa yang dikirim oleh murid-muridku!"

​Isi Amplop Misterius 

​Dengan hati-hati (karena cakar naganya yang besar sesekali hampir merobek kertas), Veldora membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat selembar surat panjang dan tiga buah benda kecil yang unik.

​Cintia yang menulis surat itu, mewakili ketiga sahabat:

​Master Veldora,

Kami tahu Anda berada di dunia yang sangat jauh dan mungkin sangat berbeda dari dunia kami. Namun, bantuan dan bimbingan Anda melalui jurnal ini telah menyelamatkan hidup kami dan mengembalikan kedamaian di sini.

​Sebagai tanda terima kasih, kami mengirimkan tiga kenang-kenangan kecil dari dunia kami yang telah kami beri sedikit berkah sihir pelindung dari menara terakhir:

​Sebuah pin perak berbentuk pedang (dari Rangga, agar Anda selalu ingat keberaniannya). ​Sebuah kristal mana kecil berwarna biru laut (dari saya, yang bisa menyimpan melodi lagu dari dunia kami). ​Sebuah kompas mekanik kuno yang selalu menunjuk ke arah sahabat berada (dari Adit). 

​Kami berharap benda-benda ini bisa sampai ke tangan Anda dengan selamat.

​Emosi Sang Naga Badai 

​Veldora terdiam saat memandangi ketiga benda kecil yang kini tergeletak di atas meja. Bagi seekor naga kuno yang memiliki tumpukan harta karun emas dan permata di dalam Labirin, tiga benda pemberian manusia ini nilainya sama sekali tidak sebanding secara materi. Namun, senyuman di wajah Veldora kali ini terasa sangat tulus dan hangat, jauh dari kesan angkuh yang biasanya ia tunjukkan.

​Ia mengambil kristal mana milik Cintia. Saat energinya menyentuh kristal itu, sebuah alunan musik instrumental yang lembut dan menenangkan mengudara di dalam ruangan, membawa sepotong kedamaian dari dunia paralel langsung ke lantai 100.

​"Ini... hadiah yang sangat indah, Veldora," ucap Rimuru dengan nada lembut. "Mereka benar-benar menghormatimu sebagai guru mereka."

​Veldora berdehem, sedikit memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca karena terharu. "T-tentu saja! Siapa yang tidak akan menghormati mentor sehebat aku! Aku akan memasang pin ini di jubah festival terbaikku!"

​Balasan yang Tak Terduga 

​Veldora tidak ingin kalah. Sebagai seorang naga yang agung, ia merasa harus memberikan "hadiah kelulusan" yang sepadan untuk ketiga muridnya agar mereka selalu terlindungi di dunia yang baru saja damai itu.

​Ia meminta Rimuru menyediakan tiga buah batu sihir tingkat tinggi yang kosong. Veldora kemudian mengalirkan sedikit esensi angin badainya yang telah dijinakkan ke dalam batu-batu tersebut, mengubahnya menjadi tiga buah jimat pelindung berbentuk sisik naga mini berwarna hitam-emas.

​"Jika mereka berada dalam bahaya besar lagi, jimat ini akan memanggil pelindung angin yang tidak bisa ditembus oleh sihir apa pun di dunia mereka," jelas Veldora sambil memasukkan jimat-jimat itu ke dalam pusaran dimensi sebelum celah itu menutup sepenuhnya.

​Setelah semuanya selesai, Veldora kembali membuka jurnalnya untuk menuliskan catatan harian:

​Bab 22: Hari ini aku menerima hadiah pertama dari murid-murid dimensi lain. Sebuah pin, sebuah kompas, dan sepotong melodi. Harta terbaik ternyata bukanlah yang berkilau di dalam peti mati kuno, melainkan yang dikirimkan dengan rasa syukur yang tulus. Ikatan antara Rangga, Cintia, Adit, dan Veldora kini telah terpatri kuat di lembaran sejarah multiverse.

​Catatan: Kompas dari Adit ini sangat unik, ia terus berputar dan akhirnya menunjuk tepat ke arah kursi Rimuru. Kurasa alat ini benar-benar tahu siapa sahabat terbaikku di ruangan ini.

​Rimuru yang membaca catatan itu dari balik bahu Veldora hanya bisa tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala.