Hari yang Dinantikan
Alun-alun utama Kota Rimuru telah disulap menjadi lautan warna-warni. Bendera-bendera festival berkibar tertiup angin sepoi-sepoi, dan aroma jajanan pasar—mulai dari sate kadal monster hingga takoyaki khas Tempest—memenuhi udara. Ini adalah hari pertama Festival Kebudayaan dan Literasi Antar-Wilayah, dan panggung megah di tengah alun-alun sudah dipadati oleh ribuan penonton, mulai dari warga lokal, para pengikut Labirin, hingga delegasi dari negara tetangga.
Di balik panggung, Veldora sedang mondar-mandir dengan gelisah. Ia mengenakan jubah hitam khusus dengan sulaman benang emas berbentuk naga yang meliuk indah di bagian punggung.
"Veldora, tenanglah. Kau hanya perlu bicara di depan umum, bukan menghadapi amukan Kakakmu lagi," gurau Rimuru, yang duduk santai di kursi tunggu sambil memegang daftar acara.
Veldora berdehem keras, mencoba mengontrol suaranya. "Kwahahahaha! Tenang? Siapa yang tidak tenang, Rimuru! Aku hanya sedang menyelaraskan aura panggungku agar tidak membuat para hadirin pingsan karena kewibawaanku!"
Sang Naga di Atas Podium
Saat nama Veldora dipanggil oleh pembawa acara (Souei yang bertugas dengan sangat formal dari balik bayangan), gemuruh tepuk tangan memecah langit Tempest. Veldora melangkah keluar dengan dada membusung dan senyum percaya diri yang langsung menyihir penonton. Zegion berdiri tegak di sudut panggung seperti pengawal pribadi yang agung.
Veldora berdiri di depan mikrofon sihir, membetulkan letak kacamata baca berbingkai emas yang sengaja ia pakai untuk menambah kesan "intelek".
"Wahai para pencari pengetahuan dan pejuang kehidupan!" suara Veldora bergema kuat berkat sihir pengeras suara Ramiris. "Hari ini, aku tidak akan bicara tentang bagaimana cara memanggil badai atau menghancurkan gunung. Hari ini, Sang Naga Badai akan bicara tentang esensi dari sebuah Ikatan dan Strategi!"
Selama tiga puluh menit berikutnya, Veldora menyampaikan pidato yang luar biasa. Ia mengombinasikan filosofi dari manga-manga aksi yang ia baca dengan pengalaman nyatanya melatih para penghuni Labirin. Ia bicara tentang pentingnya memiliki impian, bagaimana kegagalan adalah draf pertama dari kesuksesan, dan mengapa pelindung terbaik di medan perang bukanlah zirah besi, melainkan kepercayaan pada kawan di sebelah kita.
Rimuru yang mendengarkan dari balik panggung sampai tertegun. 'Wah, dia benar-benar serius menyiapkan ini. Tidak ada satu pun kata "Plot Armor" yang keluar dari mulutnya,' pikir Rimuru kagum.
Getaran dari Saku Jubah
Tepat ketika Veldora menutup pidatonya dengan pose dramatis menunjuk ke langit yang memicu sorak-sorai histeris dari para penonton, jurnal tebal di dalam saku jubahnya tiba-tiba bergetar hebat. Getaran ini berbeda dari biasanya; ini adalah getaran yang menandakan aliran energi emosional yang sangat besar dari seberang dimensi.
Veldora segera turun dari panggung dan masuk ke ruang istirahat pribadi. Di sana, ia langsung membuka jurnal emasnya bersama Rimuru yang penasaran.
Halaman kosong di bab 21 mulai terisi oleh tulisan tangan yang tergesa-gesa namun penuh tekad. Itu adalah pesan dari Adit, sang ahli taktik dari dunia paralel:
Master Veldora! Kami sedang berada di depan gerbang menara terakhir. Musuh di dalam sangat kuat, dan kami bisa merasakan tekanan sihir yang luar biasa. Tapi kami tidak takut. Mengikuti petunjuk dari jurnalmu, kami telah menyatukan kekuatan kami. Mohon saksikan pertempuran terakhir kami!
Resonansi Dua Dunia
Veldora tersenyum lebar. Ia menatap Rimuru. "Rimuru, sepertinya festival kita harus sedikit berbagi panggung dengan dunia luar!"
Dengan persetujuan Rimuru, Veldora menggunakan sisa energi panggungnya dan mengalirkannya ke jurnal tersebut. Alih-alih membuka portal fisik, Veldora memproyeksikan isi pikiran dan pandangan dari trio dunia paralel itu ke langit malam Tempest menggunakan sihir ilusi tingkat tinggi.
Warga Tempest yang mengira itu adalah bagian dari pertunjukan kembang api festival langsung mendongak terpana. Di langit, mereka melihat proyeksi raksasa tentang perjuangan tiga remaja: Rangga dengan pedang berlumur energi badai tipis, Cintia dengan lingkaran sihir pertahanan yang kokoh, dan Adit yang mengarahkan pergerakan mereka dengan sangat tenang.
Pertempuran itu berlangsung sengit, namun berkat "bimbingan rahasia" yang telah mereka pelajari dari jurnal Veldora, trio tersebut berhasil menghancurkan inti energi menara musuh dengan kombinasi serangan yang sangat estetik dan presisi.
Saat monster terakhir tumbang, warga Tempest bersorak sorai seolah-olah tim mereka sendiri yang memenangkan pertandingan besar. Mereka terkesan dengan kegigihan manusia-manusia dari dimensi lain tersebut.
Catatan Malam Festival
Malam itu, setelah festival hari pertama ditutup dengan sukses besar, Veldora duduk di balkon lantai 100, menatap bintang-bintang yang benderang. Jurnal di mejanya kembali memunculkan tulisan baru, sebuah pesan singkat dari Rangga, Cintia, dan Adit: "Kami menang, Master! Menara telah runtuh. Kedamaian telah kembali ke wilayah ini."
Veldora mengambil penanya dengan sisa rasa bangga yang membuncah di dadanya. Ia menulis:
Bab 21: Sebuah cerita tidak pernah benar-benar berakhir ketika kata 'Tamat' dituliskan. Cerita itu akan terus hidup dan bergema di hati mereka yang mempercayainya. Hari ini, seluruh Tempest menjadi saksi bahwa murid-muridku di dunia paralel telah menjadi pahlawan sejati. Catatan: Pidatoku tadi sangat sukses, besok aku harus meminta panitia untuk mencetak teks pidatoku dalam bentuk buklet eksklusif dengan bonus tanda tanganku!
Veldora menutup bukunya dengan senyuman puas, sementara di seberang dimensi, tiga sahabat juga menutup jurnal mereka, siap menyambut hari esok yang damai namun penuh petualangan baru.