Kejutan di Meja Belajar
Di sebuah kamar yang tenang di dunia paralel, tiga sahabat sedang berkumpul mengelilingi sebuah meja belajar. Rangga, Cintia, dan Adit masih mencoba mencerna kejadian aneh yang mereka alami di reruntuhan kuno tempo hari. Energi misterius yang tiba-tiba membimbing ingatan bertarung mereka masih menyisakan rasa hangat di dada masing-masing.
"Aku bersumpah, gerakan pedangku kemarin seperti digerakkan oleh insting orang lain," ujar Rangga sambil menatap telapak tangannya.
"Sama," sahut Adit sambil menyesuaikan posisi kacamatanya. "Formasi musuh yang rumit itu mendadak terlihat punya pola yang sangat jelas di kepalaku, seolah-olah ada kalkulator super yang membisikkan koordinatnya."
Cintia tidak berbicara. Pandangannya terpaku pada sebuah buku catatan tebal bersampul kulit hitam dengan aksen emas yang tiba-tiba muncul di atas tumpukan buku teks mereka. Buku itu memancarkan aura sihir yang tipis namun sangat familiar—perpaduan antara angin badai dan aroma kertas komik baru.
"Teman-teman... lihat ini," bisik Cintia sembari menarik buku itu mendekat.
Lembaran yang Berbicara
Saat mereka membuka halaman pertamanya, tidak ada mantra kutukan atau jebakan sihir. Yang ada justru untaian kalimat tertulis dengan tinta emas yang sangat tebal, dramatis, dan penuh percaya diri.
Untuk Trio Dimensi yang Kurang Pengalaman: Rangga, Cintia, dan Adit!
Kwahahahaha! Jika kalian membaca ini, berarti bimbingan tak kasat mata dari Master Veldora yang Agung telah berhasil menyelamatkan leher kalian! Jangan manja, dan teruslah berlatih!
Rangga terbelalak. "Master Veldora? Siapa itu?"
Adit langsung membalik halaman berikutnya dengan cepat. Di sana, mereka menemukan catatan kaki yang sangat detail: panduan visual tentang momentum ayunan pedang untuk Rangga, tabel konversi mana yang sangat efisien untuk Cintia, dan rumus analisis taktis medan pertempuran untuk Adit. Di bagian bawah setiap halaman, selalu ada catatan kecil yang konyol seperti, "Pastikan kalian makan puding setelah berlatih agar kekuatan naga kalian bangkit!" atau "Jangan lupa berdiri tegak di bawah air terjun selama 10 detik!"
"Ini bukan buku sihir biasa," ucap Cintia dengan senyum yang mulai mengembang. "Ini adalah jurnal bimbingan... dari dunia lain."
Semangat yang Tersambung
Meskipun mereka tidak tahu di mana tepatnya Tempest berada, atau seperti apa rupa naga pirang yang menamakan dirinya Veldora itu, kehadiran jurnal tersebut memberikan dorongan moral yang luar biasa bagi mereka. Rasa takut terlempar ke dunia paralel ini perlahan memudar, berganti dengan tekad yang membara.
Rangga langsung berdiri dan mengambil pedang latihannya. "Baiklah! Kalau 'Master' kita di seberang sana sudah bersusah payah menulis ini, kita tidak boleh mengecewakannya. Ayo latihan!"
"Tunggu, Rangga! Biarkan aku menghitung efisiensi langkahmu dulu berdasarkan rumus di bab 18 ini," seru Adit sambil mulai mencoret-coret kertas buram.
Cintia tertawa kecil melihat kedua sahabatnya kembali bersemangat. Ia menggenggam buku itu erat-erat, tahu bahwa di luar sana, di suatu tempat di multiverse, ada sosok kuat yang selalu mengawasi dan mendukung petualangan mereka.
Catatan Balasan dari Lantai 100
Sementara itu, jauh di lantai 100 Labirin Tempest, Veldora sedang berbaring santai di sofa sambil mengunyah keripik kentang. Tiba-tiba, jurnal riset utamanya yang terhubung dengan buku di dunia paralel memberikan getaran kecil.
Veldora membukanya dan melihat sebaris tulisan tangan baru yang muncul secara otomatis di halaman paling belakang. Tulisan itu rapi, ditulis oleh tiga orang berbeda:
Terima kasih, Master Veldora! Kami akan menjadi trio terkuat di dunia ini!
- Rangga, Cintia, & Adit.
Veldora tertegun sejenak, lalu tawa menggelegarnya kembali memenuhi seluruh ruangan, membuat Ramiris yang sedang tidur di dekatnya kaget sampai terjatuh.
"Kwahahahaha! Rimuru! Zegion! Lihat ini! Murid-muridku di dunia paralel telah mengirimkan laporan pertama mereka!"
Veldora mengambil pena emasnya dengan bangga, membetulkan letak kacamatanya, dan bersiap menuliskan bab baru. Baginya, kisah persahabatan, keberanian, dan petualangan tidak akan pernah mati—baik di Hutan Jura, maupun di dunia-dunia lain yang menanti untuk mereka jelajahi bersama.