Panggilan dari Gerbang Dimensi
Setelah membantu Rimuru menyusun koreografi pertarungan untuk draf novelnya, Veldora tidak bisa berhenti memikirkan karakter Rangga, Cintia, dan Adit. Baginya, kisah tiga sahabat yang terlempar ke dunia asing itu terlalu menarik untuk sekadar bersemayam di atas kertas.
"Rimuru! Cerita ini memiliki potensi yang tak terbatas!" seru Veldora sambil menggebrak meja kerja Rimuru. "Bagaimana jika dunia paralel itu benar-benar ada? Bagaimana jika trio ini sedang berjuang di luar sana?!"
Rimuru menghela napas, meletakkan penanya. "Veldora, itu hanya cerita fiksi yang kubuat berdasarkan... yah, gabungan imajinasi dan sedikit kenangan masa lalu. Tapi, di multiverse ini, segalanya mungkin saja terjadi."
Mendengar kata "mungkin", mata Veldora langsung menyala. Dengan bantuan esensi sihirnya yang melimpah dan kemampuan analisis tingkat tinggi miliknya, ia mulai mengutak-atik gerbang dimensi di lantai 100 Labirin. Ia ingin membuktikan bahwa ikatan persahabatan Rangga, Cintia, dan Adit bisa bergema hingga ke dimensinya.
Detak Energi yang Asing
Di bawah pengawasan ketat Ramiris dan Zegion, Veldora mengalirkan energi badainya ke inti sihir Labirin. Ruangan bergetar hebat. Layar-layar monitor yang biasanya menampilkan kondisi Labirin mulai berkedip-kedip, menampilkan baris kode sihir yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Master! Ada distorsi spasial yang mendekat!" lapor Zegion dengan waspada.
"Kwahahahaha! Biarkan saja! Ini adalah resonansi dari takdir!" tawa Veldora menggelegar.
Tiba-tiba, sebuah celah dimensi kecil terbuka di tengah ruangan. Celah itu tidak memuntahkan monster, melainkan memancarkan proyeksi visual seperti bioskop gelembung. Di dalam gelembung itu, Veldora melihat tiga siluet remaja yang sangat ia kenali dari naskah Rimuru.
Rangga sedang memegang pedang dengan tangan gemetar namun tatapan matanya tajam; Cintia berada di belakangnya, merapalkan mantra pelindung dari sebuah buku kuno; dan Adit sibuk menghitung langkah musuh dengan ekspresi panik namun taktis. Mereka sedang terdesak oleh sekelompok makhluk bayangan di sebuah reruntuhan kuno.
Intervensi dari Bayangan
"Mereka benar-benar ada!" teriak Veldora bersemangat. "Dan mereka sedang dalam masalah besar! Sebagai mentor legendaris, aku tidak bisa tinggal diam!"
"T-tunggu, Veldora! Kau tidak bisa menyeberang langsung, tubuh nagamu terlalu besar, bisa-bisa dunia mereka hancur!" jerit Ramiris panik sambil menarik-narik rambut pirang Veldora.
Veldora tersenyum licik. "Aku tahu, Ramiris. Aku tidak perlu ke sana. Aku hanya perlu mengirimkan 'sedikit' bimbingan."
Veldora memusatkan energinya. Ia tidak mengirimkan serangan sihir, melainkan mengirimkan secercah pengetahuan taktis langsung ke dalam benak trio tersebut melalui celah dimensi yang tidak stabil itu. Ia menyusupkan pemahaman tentang momentum tebasan kepada Rangga, efisiensi mana kepada Cintia, dan pola kelemahan musuh kepada Adit—persis seperti koreografi yang ia latih bersama Zegion semalam.
Keajaiban di Seberang Dimensi
Di dalam proyeksi gelembung, Veldora melihat perubahan instan.
Rangga tiba-tiba membetulkan posisi berdirinya, mengambil napas dalam-dalam, dan mengayunkan pedangnya dengan presisi yang jauh lebih tinggi, membelah makhluk bayangan pertama. Cintia berhenti merapalkan mantra panjang yang membuang energi; ia mengubahnya menjadi bola sihir padat yang langsung meledak di titik vital musuh berkat analisis instan yang dibisikkan ke pikiran Adit.
Hanya dalam hitungan menit, trio sahabat itu berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertempuran. Melalui layar sihir, Veldora bisa melihat mereka terduduk lemas, saling bertatapan dengan bingung sekaligus lega, bertanya-tanya dari mana datangnya kilasan strategi hebat tadi.
Celah dimensi itu pun menutup dengan perlahan karena kehabisan energi, memutus pandangan Veldora dari dunia paralel tersebut.
Jurnal Baru sang Mentor Dimensi
Rimuru yang baru saja tiba di lokasi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kekacauan di ruang santai, namun ia tersenyum tipis melihat binar kebahagiaan di wajah Veldora.
"Kau baru saja melanggar beberapa hukum ruang dan waktu, tahu," goda Rimuru.
"Kwahahahaha! Hukum dibuat untuk dilewati oleh Sang Naga Badai, Rimuru! Lagipula, trio itu memiliki masa depan yang cerah!" Veldora dengan bangga mengambil jurnal risetnya yang tebal dan menuliskan bab baru:
Bab 19: Hubungan antar sahabat bisa menembus batas dimensi terkuat sekalipun. Hari ini, tiga pahlawan di dunia paralel telah menerima berkat tak terlihat dari Naga Badai yang agung. Catatan: Teknik intervensi dimensi ini sangat menguras energi, aku butuh tiga porsi puding ekstra dari Rimuru untuk memulihkan stamina nagaku.
Veldora menutup jurnalnya dengan hentakan mantap. Meskipun gerbang telah tertutup, ia tahu bahwa petualangan Rangga, Cintia, dan Adit baru saja dimulai, dan ia akan selalu siap menjadi penonton sekaligus mentor rahasia dari balik layar kaca dimensi.