Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 18: Veldora dan Petualangan "Dunia Paralel"


​Cerita Baru dari Rimuru 

​Suatu sore yang damai di lantai 100, Rimuru datang membawakan satu kotak besar berisi draf cerita baru. Kali ini bukan manga, melainkan sebuah naskah novel fantasi yang sedang ia tulis.

​"Veldora, aku sedang membuat cerita fiksi tentang tiga orang sahabat bernama Rangga, Cintia, dan Adit," kata Rimuru sambil meletakkan naskah tersebut. "Mereka terlempar ke sebuah dunia paralel yang penuh dengan keajaiban dan bahaya. Aku butuh pendapatmu sebagai ahli petualangan."

​Mata Veldora langsung berbinar menatap lembaran kertas itu. "Kwahahahaha! Menarik sekali! Biarkan Sang Naga Badai menganalisis mahakarya ini!"

​memasuki Ruang Imajinasi 

​Veldora membaca lembar demi lembar dengan sangat serius. Dengan kemampuan analisisnya yang luar biasa, ia mulai memproyeksikan cerita tersebut di dalam benaknya. Ia membayangkan bagaimana Rangga yang pemberani, Cintia yang cerdas, dan Adit yang selalu penuh perhitungan, bekerja sama menghadapi monster di dunia asing.

​Namun, sebagai seorang "otaku" senior, Veldora merasa ada sesuatu yang kurang.

​"Rimuru! Cerita ini sangat bagus, tapi mereka kekurangan satu hal yang sangat krusial!" seru Veldora sambil menunjuk naskah dengan dramatis.

​Rimuru menaikkan sebelah alisnya (jika slime punya alis). "Apa itu?"

​"Mereka tidak memiliki mentor legendaris yang membimbing mereka dari bayangan!" Veldora berdiri dan berpose keren. "Bagaimana kalau di tengah perjalanan, trio sahabat ini menemukan sebuah kuil kuno, dan di dalamnya bersemayam seekor naga agung berambut pirang yang mengajari mereka teknik rahasia?!"

​Rimuru hanya bisa menepuk jidatnya. "Veldora, itu namanya kau ingin memasukkan dirimu sendiri ke dalam ceritaku."

​Kolaborasi Dua Kreator 

​Meskipun Rimuru menolak ide Veldora untuk masuk ke dalam cerita secara langsung, ia setuju untuk membiarkan Veldora membantu menyusun koreografi pertarungan untuk karakter Rangga, Cintia, dan Adit.

​Veldora menghabiskan waktu semalaman bersama Zegion untuk mempraktikkan gerakan-gerakan sihir yang cocok untuk trio tersebut. Ia memastikan bahwa setiap mantra yang digunakan Cintia memiliki formula yang estetis, dan setiap tebasan pedang Rangga memiliki momentum yang dramatis.

​"Zegion! Perhatikan gerakan ini! Ini adalah teknik yang akan digunakan oleh karakter bernama Rangga untuk melindungi sahabat-sahabatnya!" Veldora melesat ke depan, menunjukkan presisi gerakan yang luar biasa.

​Zegion mengangguk kagum. "Luar biasa, Master. Cerita ini pasti akan menginspirasi banyak jiwa yang membacanya."

​Pelajaran Tentang Persahabatan 

​Saat fajar menyingsing, Rimuru kembali ke labirin untuk mengambil naskahnya yang sudah dipenuhi oleh catatan kaki dan coretan tinta emas dari Veldora. Rimuru tersenyum membaca saran-saran dari sang naga yang ternyata sangat mendalam, terutama tentang bagaimana menjaga ikatan persahabatan di tengah badai ujian.

​"Terima kasih, Veldora. Catatanmu tentang arti 'kebersamaan' di dunia paralel ini sangat menyentuh," puji Rimuru tulus.

​Veldora berdehem, mencoba menyembunyikan rasa bangganya dengan kembali bergaya angkuh. "Tentu saja! Persahabatan antara Rangga, Cintia, dan Adit mengingatkanku pada sesuatu... ya, mirip seperti persaudaraan kita di Tempest ini."

​Veldora kemudian mengambil jurnal risetnya sendiri dan menuliskan bab baru untuk hari itu:

​Bab 18: Tidak peduli di dunia mana kau berada—baik itu di Hutan Jura atau di dunia paralel terjauh sekalipun—kekuatan terbesar bukanlah sihir tingkat tinggi, melainkan kesetiaan dari sahabat yang berdiri di sisimu. Catatan: Jika Rimuru menerbitkan cerita ini, aku harus memastikan namaku tertulis di bagian 'Terima Kasih Khusus' pada halaman pertama.

​Dengan senyum puas, Veldora menutup jurnalnya, lalu kembali mengambil jilid lanjutan dari petualangan trio dunia paralel tersebut dengan antusiasme yang baru.