Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 17: Tantangan dari Utara dan Diplomasi Es


​Kunjungan Mendadak 

​Kehangatan lantai 100 tiba-tiba anjlok hingga mencapai titik beku. Veldora, yang sedang asyik membalas surat penggemar tentang cara membentuk otot perut, langsung melompat dari kursinya. Di tengah ruangan, sebuah portal es terbuka, dan keluarlah Guy Crimson, sang Demon Lord tertua, bersama Velzard.

​"Wah, wah, Veldora. Tempat ini jauh lebih nyaman daripada gua gelapmu yang dulu," ujar Guy sambil melihat-lihat koleksi manga Veldora dengan tatapan meremehkan.

​Veldora berdiri kaku. "K-kakak! Guy! Apa yang membawa kalian ke kediaman pribadiku yang agung ini?"

​Velzard melirik tumpukan surat di meja Veldora. "Aku datang untuk melihat apakah 'nasehat naga' yang kau tulis itu benar-benar berguna, atau kau hanya sedang bermain rumah-rumahan dengan para monster lemah ini."

​Duel Wibawa 

​Velzard menantang Veldora untuk menunjukkan hasil latihannya. Namun, kali ini bukan duel fisik di ruang simulasi, melainkan duel "pengaruh". Guy Crimson yang bosan mengajukan ide gila.

​"Bagaimana kalau kita lihat siapa yang bisa membuat para petarung di arena Tempest mencapai level baru dalam satu jam?" tantang Guy.

​Veldora tidak punya pilihan. Ia membawa mereka ke arena latihan. Velzard memilih sekelompok ksatria es untuk dilatih dengan kedisiplinan yang sangat keras dan dingin. Sementara itu, Veldora memanggil murid kesayangannya, Zegion, dan beberapa eksekutif lainnya.

​Rahasia "Semangat Shonen" 

​Saat Velzard mengajar dengan tekanan aura yang menakutkan, Veldora justru melakukan sesuatu yang dianggap Guy sangat aneh. Ia membagikan beberapa volume manga action kepada para petarungnya.

​"Dengarkan! Jangan fokus pada rasa sakit! Fokuslah pada kilas balik masa lalu kalian! Bayangkan orang-orang yang ingin kalian lindungi!" teriak Veldora sambil memperagakan gerakan tangan yang ikonik.

​Zegion, yang sudah sangat sinkron dengan filosofi gurunya, melepaskan aura yang begitu hangat dan penuh tekad hingga mampu menahan hawa dingin yang dipancarkan oleh kelompok Velzard. Semangat para pengikut Veldora membara bukan karena takut, tapi karena impian.

​Pengakuan di Tengah Salju 

​Velzard tertegun melihat bagaimana monster-monster itu berkembang begitu pesat hanya dengan "motivasi" yang terdengar konyol bagi naga kuno seperti dirinya. Ia menyadari bahwa Veldora telah menemukan jenis kekuatan baru—kekuatan yang lahir dari koneksi emosional, sesuatu yang tidak pernah mereka miliki di Utara yang dingin.

​"Cukup," ucap Velzard sambil menghentikan badai saljunya. "Kau menang kali ini, adik kecil. Kau memang sudah menemukan cara hidup yang berbeda."

​Guy Crimson hanya tertawa. "Tempat ini memang aneh, tapi menarik. Mungkin aku akan menyuruh beberapa anak buahku datang ke sini untuk membaca 'buku bergambar' milikmu itu."

​Malam yang Sunyi (dan Hangat) 

​Setelah para tamu agung itu pergi, Veldora duduk kembali di mejanya. Ia merasa sangat lelah, namun puas. Rimuru datang membawa dua porsi puding besar sebagai hadiah karena telah menjaga martabat Tempest.

​"Kau hebat, Veldora. Kau baru saja menghadapi dua makhluk paling menakutkan di dunia tanpa menghancurkan satu gedung pun," puji Rimuru.

​Veldora menyendok pudingnya dengan bangga. "Kwahahahaha! Itu karena aku memiliki 'Plot Armor' yang kuat, Rimuru!"

​Ia membuka jurnalnya dan menulis:

​Bab 17: Musuh terkuat bukanlah mereka yang memiliki es paling dingin, tapi mereka yang mampu membuat es itu mencair dengan semangat yang membara. Catatan: Selalu sediakan puding cadangan saat Kakak berkunjung, itu jauh lebih efektif daripada perisai sihir mana pun.

​Veldora menutup bukunya, mematikan lampu, dan tertidur dengan senyum lebar, siap menghadapi surat-surat penggemar yang pasti akan menumpuk besok pagi.