Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 28: Labirin Waktu dan Kota yang Berhenti


​Detak Jantung yang Membeku 

​Melalui jembatan dimensi yang dipandu oleh kompas mekanik Adit, kesadaran Veldora dan analisis Rimuru menembus melampaui batas ruang, meluncur masuk ke dalam dimensi temporal yang kacau.

​Saat kabut waktu memudar, proyeksi jurnal emas menampilkan sebuah pemandangan yang ganjil. Mereka melihat sebuah kota metropolitan kuno yang megah, dipenuhi oleh menara-menara jam raksasa yang terbuat dari perunggu. Namun, tidak ada satu pun jarum jam yang bergerak. Air terjun di tengah kota berhenti melayang di udara, burung-burung mengepakkan sayap tanpa berpindah tempat, dan seluruh penduduknya mematung dengan ekspresi wajah yang membeku.

​Hanya ada satu orang yang bergerak di kota itu. Seorang gadis remaja berambut perak dikuncir kuda bernama Lyra. Ia sedang berlari terengah-engah di antara kerumunan manusia yang membeku, dikejar oleh bayangan hitam berbentuk jarum-jarum jam tajam yang merayap di tanah—Chronos Parasite.

​"Dia terjebak dalam satu detik yang berulang!" cetus Rimuru setelah lingkaran analisis sihirnya membaca struktur partikel di sekitar Lyra. "Setiap kali jam utama kota mencoba berdentang, makhluk bayangan itu memutar balik waktu kota tersebut. Gadis itu sudah mengulangi hari yang sama sebanyak ratusan kali!"

​Instruksi dari Luar Garis Waktu 

​"Kwahahahaha! Mengurung sebuah kota dalam kebosanan yang abadi? Ini adalah kejahatan terbesar terhadap kebebasan!" Veldora menggebrak meja, auranya berkedip penuh semangat. "Lyra! Dengarkan suara Sang Naga Badai yang melintasi waktu!"

​Di dalam kota yang sunyi, Lyra yang hampir kehabisan napas tiba-tiba mendengar gema tawa yang menggelegar langsung di dalam kepalanya. Bersamaan dengan itu, kompas perunggu kuno di kalungnya bergetar hangat.

​"Siapa... siapa itu?" bisik Lyra sambil terus menghindar dari tusukan jarum bayangan.

​"Aku adalah Veldora! Mentor tertinggi yang akan membantumu memecahkan belenggu waktu ini!" seru Veldora melalui koneksi jurnal. "Gadis muda, kau tidak bisa mengalahkan waktu dengan kecepatan fisik! Kau harus mengacaukan frekuensi detak mereka!"

​Melalui papan pengumuman interaktif yang sudah terhubung di jurnal, Adit dan Elian ikut memberikan analisis mereka yang langsung diteruskan Veldora ke otak Lyra.

​“Lyra! Struktur jarum bayangan itu bergerak berdasarkan ritme detak mekanis. Jika kau mengubah pola langkahmu secara acak (tidak konstan), mereka tidak akan bisa memprediksi posisimu!” – Taktik Adit.

​“Dan gunakan sisa energi mana di kalungmu untuk menciptakan ledakan tekanan udara kecil ke arah bawah, itu akan mendorongmu melompat melompati distorsi!” – Teknologi Jet Elian.

​Melawan Detik Akhir 

​Mendapat bimbingan instan dari tiga dimensi sekaligus, Lyra tidak lagi berlari lurus secara panik. Ia mulai melangkah dengan ritme yang acak—cepat, lambat, lalu tiba-tiba melompat tinggi memanfaatkan dorongan angin sihir murni sesuai arahan Elian.

​Jarum-jarum bayangan di bawahnya mendadak kebingungan. Pola serangan mereka yang biasanya akurat kini meleset jauh, menghantam jalanan batu dan hancur menjadi serpihan energi hitam.

​"Aku bisa melihatnya!" seru Lyra, matanya berbinar menatap menara jam pusat kota yang diselimuti oleh rantai bayangan hitam besar. "Inti parasitnya ada di roda gigi utama menara jam!"

​"Bagus! Bersiaplah, Lyra! Pada bab berikutnya, kita akan menghancurkan rantai itu dan membuat waktu kembali berputar!" teriak Veldora penuh kemenangan dari lantai 100.

​Catatan sang Penantang Waktu 

​Veldora menarik kembali sebagian kesadarannya dengan senyum lebar terukir di wajahnya. Ia menyambar pena emasnya dan menulis di halaman Bab 28:

​Bab 28: Menghadapi Chronos Parasite. Lyra dari Kota Perunggu terbukti memiliki ketahanan mental yang luar biasa setelah melewati ratusan pengulangan waktu. Dengan gabungan taktik acak dari Adit dan propulsi angin dari Elian, kami berhasil memojokkan sang parasit waktu.

​Catatan Eksplorasi: Melawan waktu ternyata sangat seru! Aku jadi terpikir untuk membuat teknik baru bernama 'Storm Time Paradox' di draf novel Rimuru berikutnya. Besok, semua murid lintas dimensiku akan bersatu untuk serangan final!