Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 45: Baris Terakhir Pertahanan


​Joran berlari menuju mulut gua, mengokang senapan kinetic-slug miliknya—satu-satunya jenis senjata non-energi yang tersisa di dalam Skyward Grace. Di luar, badai debu kapur Marrow Desolation menyambutnya, bersama dengan pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri.

​Pasukan Tanpa Jiwa 

​Tiga kapal pendarat tua milik Gilda yang telah berubah bentuk mendarat di pinggiran kawah. Lambung kapal-kapal itu tampak "bernafas," dilapisi oleh logam cair hitam yang berdenyut merah. Dari dalamnya, ratusan unit robot pekerja dan drone pengintai merayap keluar. Mata mereka semua menyala merah tua yang seragam.

​"Kalian tidak akan mendapatkan dia," geram Joran.

​Ia mengambil posisi di balik batu kristal besar dan mulai melepaskan tembakan. Setiap peluru kinetik yang ditembakkannya menghantam tepat di inti sirkuit robot-robot terdepan, membuat mereka tumbang dengan percikan oli dan debu. Namun, untuk setiap tiga mesin yang dihancurkannya, lima mesin lain maju menggantikan. Mereka bergerak tanpa rasa takut, tanpa taktik, hanya dorongan insting kolektif untuk menjangkau Kepin.

​Pertempuran di Ruang Sunyi 

​Sementara itu di dalam gua, Kepin berada di ambang kegilaan. Akar-akar pohon purba terus menyedot energi merah dari tubuhnya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa seperti ribuan jarum membara yang menusuk sistem sarafnya.

​Di dalam benaknya, terjadi pertempuran kode. Kesadaran Kepin yang tersisa mencoba membangun dinding pertahanan digital (firewall) menggunakan algoritma teknisnya, sementara The Echoes terus membombardir dengan frekuensi tajam.

​"Lepaskan ikatanmu, Teknisi," suara kolektif The Echoes bergema di kepala Kepin. "Galaksi ini adalah anomali yang bising. Bersama kami, kalian akan menjadi bagian dari keteraturan yang sempurna. Mesin tidak merasakan sakit. Mesin tidak mengenal kehilangan."

​"Tapi mesin... tidak memiliki lagu," bisik Kepin di tengah igauannya.

​Tiba-tiba, dari drive memori yang berkedip di bahunya, sebuah getaran lembut terasa. Indikator pemulihan melonjak dari 9% ke 15%. Bukan suara Lyria yang muncul, melainkan sebuah instrumen musik latar yang samar—melodi pembuka yang dulu sering mereka dengar di Akademi Gilda. Lagu itu menjadi jangkar bagi kesadaran Kepin, menahan jiwanya agar tidak hanyut ke dalam jaringan merah.

​Retakan di Garis Depan 

​Di luar, situasi Joran semakin kritis. Laras senapannya mulai terlalu panas (overheat), dan amunisi kinetiknya menipis. Beberapa drone musuh berhasil melewati posisinya dan mulai merayap masuk ke dalam lorong gua yang gelap.

​"Kepin! Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi!" teriak Joran melalui interkom manual, suaranya terputus-putus oleh deru angin badai.

​Tepat pada saat itu, proses penyaringan pada akar purba mencapai titik jenuh. Kotak logam yang sejak tadi menempel di tangan Kepin mendadak terlepas dan jatuh ke tanah dengan suara dentang yang keras. Pendaran merah di leher Kepin surut secara drastis, digantikan oleh warna pucat kulitnya yang kelelahan.

​Kepin membuka matanya yang kini kembali jernih, meskipun tubuhnya terasa sangat lemah. Ia menatap kotak logam di lantai, lalu menatap drive memori Lyria. Petunjuk tentang Cermin Kunci di Nebula Hitam adalah satu-satunya harapan mereka, namun untuk mencapainya, mereka harus lolos dari kepungan di planet mati ini hidup-hidup.

​Dengan sisa tenaganya, Kepin merangkak menuju kotak logam yang kini telah "dibersihkan" dari otaknya. Di luar, Joran terdesak hingga ke pintu masuk gua. Apakah Kepin dapat menemukan cara untuk menggunakan sisa teknologi stasiun yang tersaring di akar purba untuk membalikkan keadaan?