Ambisi Sang Promotor
Setelah menguasai dunia video game, Veldora merasa bahwa warga Tempest butuh sesuatu yang lebih besar untuk menyatukan semangat mereka. Ia teringat pada sebuah acara di memori Rimuru di mana ribuan orang berkumpul mengenakan kostum karakter favorit mereka.
"Rimuru! Kita harus mengadakan festival di mana semua orang bisa menjadi siapa pun yang mereka inginkan!" seru Veldora dengan semangat yang meluap. "Aku akan menyebutnya... Veldora-Con!"
Rimuru, yang awalnya ragu, akhirnya melihat potensi ini sebagai ajang promosi budaya dan kreativitas. "Baiklah, tapi kau yang bertanggung jawab atas bagian pameran 'Teknik Rahasia', ya?"
Demam Cosplay di Tempest
Seluruh kota mulai sibuk. Para Goblin membuat jubah-jubah pahlawan, para Orc menempa pedang replika yang tidak tajam namun terlihat keren, dan para peri hutan membuat sayap-sayap buatan yang bersinar.
Veldora tidak mau kalah. Ia memutuskan untuk menjadi juri utama dalam kompetisi kostum. Namun, masalah muncul ketika ia melihat Zegion.
"Zegion! Kau sudah memiliki armor alami yang sangat hebat. Kau hanya perlu menambahkan syal merah panjang dan kau akan menjadi pahlawan keadilan yang sempurna!" Veldora memberikan syal sutra merah kepada muridnya itu. Zegion menerimanya dengan khidmat, seolah itu adalah pusaka suci.
Hari Perayaan: Kegilaan di Alun-Alun
Saat hari festival tiba, pemandangan di kota Tempest benar-benar ajaib. Ada Goblin yang berpakaian seperti ninja, High Orc yang berdandan seperti ksatria sihir, dan bahkan Gabiru yang memimpin pasukannya melakukan tarian kelompok ala idola dari dunia lain.
Veldora muncul dengan kostum yang sangat megah—sebuah perpaduan antara kaisar naga dan pendekar legendaris. Ia duduk di singgasana penjurian sambil membawa papan skor.
"Kwahahahaha! Luar biasa! Semangat kalian benar-benar membakar jiwa naga ini!" teriaknya setiap kali ada peserta yang melakukan pose dramatis.
Insiden "Aura yang Terlalu Semangat"
Di tengah acara, suasana menjadi terlalu panas. Beberapa monster tingkat tinggi mulai tidak sengaja mengeluarkan aura mereka karena terlalu mendalami peran. Langit mulai gelap dan petir mulai menyambar, mengancam keselamatan warga sipil.
Melihat hal ini, Veldora berdiri. Ia tidak marah, ia justru tertawa.
"Tenanglah, rakyatku! Biarkan Sang Naga Badai yang merapikan panggung ini!"
Ia melompat ke udara dan melakukan gerakan tangan yang memutar, menciptakan pusaran angin lembut yang menyerap semua aura liar di udara dan mengubahnya menjadi kembang api energi yang berwarna-warni di langit siang hari.
"Itu... teknik 'Pembersih Langit' dari jilid 12!" bisik para penggemar fanatik Veldora dengan mata berbinar.
Warisan Budaya Baru
Festival berakhir dengan sukses besar. Malam itu, di bawah sisa-sisa kembang api, Veldora duduk bersama Rimuru di atap gedung pusat.
"Kau benar-benar menikmati ini, ya?" tanya Rimuru sambil memberikan segelas jus segar.
"Tentu saja. Di dunia lama, aku hanya dikenal sebagai bencana. Tapi di sini... aku adalah sumber inspirasi," ucap Veldora sambil menatap syal merah Zegion yang berkibar di kejauhan. "Menjadi 'Pahlawan' ternyata lebih melelahkan daripada menjadi 'Raja Iblis', tapi rasanya jauh lebih baik."
Veldora membuka jurnalnya dan menulis bab penutup untuk hari itu:
Bab 15: Kostum hanyalah kain, tapi semangat yang kau masukkan ke dalamnya adalah kekuatan sejati. Catatan: Jangan biarkan Shion ikut lomba cosplay tahun depan, atau kita harus membangun kembali stadionnya dari nol.
Veldora tersenyum, menutup bukunya, dan mulai memikirkan tema untuk festival berikutnya. Bagi sang Naga Badai, hidup di Tempest adalah cerita yang takkan pernah kehabisan bab baru.