Krisis Inspirasi
Setelah kembali dari Ingrassia, Veldora mengalami apa yang disebut para penulis sebagai writer's block. Jurnal risetnya terhenti di halaman 150. Ia merasa teknik-teknik yang ia adaptasi dari manga mulai terasa "kurang greget."
"Rimuru! Aku butuh tantangan baru! Teknik Hado-ken milikku sudah sempurna, tapi aku butuh sesuatu yang bisa membuat lawan gemetar hanya dengan melihat bayanganku!" keluhnya sambil berguling-berguling di atas tumpukan bantal di lantai 100.
Rimuru, yang sedang sibuk mengurus laporan perdagangan, hanya menjawab tanpa menoleh, "Kenapa kau tidak mencoba mengajari para eksekutif Tempest? Jika kau bisa membuat mereka paham teorimu, berarti teknikmu memang hebat."
Kelas Khusus Eksekutif
Veldora menyukai ide itu. Ia segera mengumpulkan Benimaru, Souei, dan Shion di ruang latihan rahasia.
"Dengarkan baik-baik! Hari ini aku akan mengajarkan teknik pamungkas: Intimidasi Estetik!" seru Veldora sambil mengenakan jubah yang sengaja ditiup angin buatan agar berkibar dramatis.
Benimaru mengerutkan kening. "Intimidasi... Estetik?"
Veldora menjelaskan bahwa seorang petarung kuat tidak boleh hanya menang, tapi harus menang dengan gaya yang "ikonik." Ia mulai mempraktikkan pose-pose sulit yang mengharuskan punggung melengkung dan jari-jari tangan membentuk pola tertentu.
Zegion Sang Murid Teladan
Di saat Benimaru dan Souei tampak ragu, Zegion—yang selalu setia mengikuti gurunya—muncul dari bayangan. Dengan gerakan yang sangat presisi, Zegion menirukan pose Veldora. Seketika, aura hitam keunguan terpancar dari tubuh Zegion, menciptakan tekanan yang begitu artistik sekaligus mematikan.
"Luar biasa, Master Veldora. Aku merasakan aliran energi sihirku menjadi lebih... sinkron dengan narasi takdirku," ucap Zegion dengan nada datar namun serius.
Veldora menitikkan air mata haru. "Lihat! Zegion saja mengerti! Kalian harus belajar darinya!"
Ujian di Lapangan
Tiba-tiba, alarm Labirin berbunyi. Sekelompok monster bawah tanah yang bermutasi akibat kebocoran energi sihir mulai mengamuk di lantai 95. Veldora melarang para eksekutif membantu dengan cara biasa.
"Zegion! Tunjukkan pada mereka hasil latihan kita!"
Zegion maju menghadapi puluhan monster tersebut. Alih-alih langsung memukul, ia melakukan pose "Veldora Style" nomor 4. Monster-monster itu mendadak berhenti, mereka kebingungan melihat musuh yang justru berpose cantik di tengah pertempuran. Namun, tepat saat mereka lengah, Zegion melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menebas semuanya hanya dengan satu gerakan tangan yang elegan.
Kesimpulan Sang Naga
Malam itu, Veldora kembali menulis di jurnalnya dengan penuh semangat.
Teknik nomor 157: 'Hampa dalam Gaya'. Musuh akan terpesona oleh keindahan posemu sebelum mereka menyadari bahwa mereka sudah kalah. Catatan: Jangan gunakan teknik ini di depan Rimuru saat dia sedang marah, atau kau akan berakhir diseret keluar ruangan.
Veldora menutup jurnalnya, merasa puas. Ia menyadari bahwa kekuatannya kini bukan lagi sekadar badai yang menghancurkan, melainkan sebuah bentuk seni yang ia bagikan kepada murid-muridnya. Dan baginya, melihat Zegion sukses melakukan pose tersebut jauh lebih membanggakan daripada menghancurkan sebuah gunung sendirian.