Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 10: Petualangan di Dunia Manusia (Versi Veldora)


Misi Penyamaran 

​Rimuru memutuskan untuk mengunjungi akademi di Kerajaan Ingrassia untuk memantau perkembangan anak-anak didiknya. Veldora, yang sudah tidak tahan hanya berdiam diri di labirin, memohon dengan gaya dramatis agar diperbolehkan ikut.

​"Rimuru! Seorang guru besar sepertiku harus melihat dunia luar agar bisa menulis sekuel jurnal risetku!" serunya sambil berpose ala detektif.

​Rimuru akhirnya setuju, dengan satu syarat mutlak: Veldora tidak boleh menggunakan kekuatan naga sedikit pun. Veldora pun menyamar sebagai "Veldora-san", asisten peneliti pribadi Rimuru yang (katanya) ahli dalam bidang sastra kuno.

​Gagal Fokus di Kota 

​Sesampainya di Ingrassia, Veldora bukannya memperhatikan situasi politik, ia malah langsung terpaku pada sebuah toko buku besar. Ia berdiri di depan etalase dengan mata berbinar, melihat poster promosi novel ringan terbaru.

​"Kwahahaha! Jadi ini pusat kebudayaan manusia? Luar biasa! Rimuru, lihat! Judul buku itu... 'Reinkarnasi Menjadi Naga yang Terkurung Selama 300 Tahun'. Bukankah itu sangat tidak orisinal?!"

​Rimuru menarik kerah baju Veldora sebelum sang naga sempat membuat keributan. "Fokus, Veldora! Kita di sini untuk bekerja!"

​Sang Naga di Kelas 

​Di akademi, Veldora diminta untuk memberikan motivasi kepada para siswa. Bukannya memberikan pidato tentang sejarah atau sihir, Veldora justru naik ke atas podium dan mulai menjelaskan filosofi tentang "Semangat Juang Protagonis".

​"Dengarkan kalian para anak muda! Kunci untuk menjadi kuat bukanlah bakat, melainkan seberapa keras kalian bisa meneriakkan nama jurus kalian sebelum menyerang!"

​Para siswa yang tadinya bosan langsung terbangun. Mereka merasa pria berambut pirang ini sangat aneh, namun entah mengapa, aura kepemimpinannya membuat mereka sangat bersemangat. Bahkan anak-anak seperti Kenya dan Ryota mulai mengikuti gerakan pemanasan aneh yang diajarkan Veldora.

​Pertemuan dengan "Penggemar" 

​Saat sedang berjalan-jalan sendirian di sore hari, Veldora dicegat oleh sekelompok petualang peringkat tinggi yang merasa terganggu dengan aura tersembunyi Veldora yang sangat kuat.

​"Hei kau, pria sombong. Kau terlihat mencurigakan," ucap salah satu petualang sambil menghunuskan pedang.

​Veldora tersenyum lebar. Ia teringat adegan di manga di mana sang pahlawan mengalahkan musuh hanya dengan satu jari tanpa menoleh. "Kalian ingin mengujiku? Baiklah. Aku akan menggunakan 0,0001% dari kekuatanku."

​Veldora hanya menjentikkan jarinya ke udara. Gelombang tekanan udara yang dihasilkan membuat para petualang itu jatuh terduduk, bukan karena terluka, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang insting purba mereka.

​"Teknik ini... aku menamainya 'Jentikan Sunyi sang Naga'," gumam Veldora sambil berjalan pergi dengan gaya keren.

​Pulang dengan Oleh-oleh 

​Misi di Ingrassia berakhir. Saat kembali ke Tempest, Veldora membawa dua koper besar. Rimuru mengira itu adalah dokumen penting atau bahan riset sihir.

​"Apa isinya, Veldora?" tanya Rimuru curiga.

​Veldora membukanya dengan bangga. Isinya adalah tumpukan merchandise, poster, dan jilid edisi terbatas yang tidak ada di perpustakaan Tempest.

​"Inilah harta karun yang akan membawa peradaban Tempest ke tingkat berikutnya!"

​Rimuru hanya bisa menggelengkan kepala. Meskipun Veldora sangat merepotkan, Rimuru sadar bahwa keceriaan dan rasa ingin tahu sang naga itulah yang membuat suasana di Tempest selalu hidup. Bagi Veldora, dunia manusia bukan lagi tempat yang ingin ia hancurkan, melainkan sumber inspirasi tanpa batas bagi petualangan pribadin