Hobi Baru: Penulis Naskah
Setelah sukses menjadi komentator di turnamen, Veldora merasa memiliki bakat baru di bidang literatur. Tidak puas hanya membaca, ia mulai menulis sebuah buku tebal yang ia beri judul "Jurnal Analisis Teknik Rahasia Dunia Lain".
Di dalam ruangan santainya di lantai 100, Veldora tampak sangat serius. Ia mengenakan kacamata (yang sebenarnya tidak ia butuhkan, tapi menurutnya membuatnya terlihat 200% lebih cerdas) dan mencorat-coret kertas dengan tinta emas.
"Jika aku menggabungkan putaran energi badai dengan teknik pernapasan konsentrasi penuh... maka aku bisa menciptakan pusaran yang tidak bisa dihindari!" gumamnya sambil tertawa kecil, "Kwahahaha! Rimuru pasti akan terkesan!"
Kedatangan Sang Naga Putih
Ketenangan Veldora terusik oleh kehadiran aura dingin yang sangat ia kenal. Kakak perempuannya, Velzard, muncul di tengah ruangan tanpa peringatan. Udara di lantai 100 yang tadinya nyaman seketika membeku.
"Veldora... apa yang sedang kau lakukan di tempat gelap ini?" tanya Velzard dengan nada suara yang tenang namun mematikan.
Veldora gemetar hebat. Ingatan masa lalu tentang "pelatihan" keras dari kakaknya itu membuatnya reflek menyembunyikan tumpukan manganya di balik jubah. "K-kakak! Aku hanya sedang... berlatih! Ya, berlatih secara mental!"
Velzard melirik jurnal yang sedang ditulis Veldora. Ia mengambilnya dan membacanya perlahan. Veldora sudah bersiap untuk diejek atau dihancurkan, namun reaksi Velzard di luar dugaan.
"Analisis yang menarik. Meskipun cara penyampaianmu sangat aneh, prinsip manipulasi energi yang kau tulis di sini cukup masuk akal," ucap Velzard dingin.
Pertarungan Ideologi
Velzard menantang Veldora untuk membuktikan salah satu teori yang ia tulis. Veldora yang tidak mau dianggap remeh di depan kakaknya, akhirnya setuju. Mereka menggunakan ruang simulasi yang diciptakan oleh Raphael.
Veldora menggunakan teknik yang ia beri nama "Storm Dragon Flash", sebuah gerakan yang ia adaptasi dari karakter pendekar pedang tercepat di manga. Alih-alih menggunakan serangan besar, ia memusatkan auranya pada satu titik di ujung jarinya dan melesat dengan kecepatan cahaya.
Velzard terkesan. Ia harus menggunakan dinding es abadi untuk menahan serangan adiknya. "Kau sudah berubah, Veldora. Kau tidak lagi hanya mengandalkan amarah dan kekuatan mentah."
Pengakuan Sang Kakak
Setelah duel singkat itu, Velzard pergi meninggalkan labirin, namun sebelum menghilang, ia sempat mengambil satu jilid manga yang tergeletak di meja. "Aku akan meminjam ini. Aku ingin tahu apa yang membuatmu begitu terobsesi."
Veldora tertegun. Untuk pertama kalinya, ia merasa diakui oleh kakaknya bukan sebagai "adik kecil yang nakal," melainkan sebagai naga yang memiliki jalannya sendiri.
Malam itu, Veldora menuliskan kalimat baru di jurnalnya:
Kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa besar badai yang kau ciptakan, tapi tentang seberapa besar kau bisa mengendalikan badai tersebut untuk melindungi hal-hal yang kau cintai (dan koleksi mangamu).
Ia menutup bukunya dengan puas, siap untuk membaca jilid terbaru yang baru saja dikirimkan oleh Rimuru.