Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 8: Turnamen Tempest dan Debut Sang Naga


​Antusiasme yang Meluap 

​Kota Tempest sedang dalam suasana pesta. Rimuru memutuskan untuk mengadakan sebuah turnamen besar untuk memamerkan kekuatan para petarung terbaiknya kepada para pemimpin dunia. Mendengar hal ini, semangat Veldora terbakar lebih panas dari api naga manapun.

​"Rimuru! Biarkan aku ikut! Aku akan menunjukkan pada mereka hasil dari latihan meditasiku bersama jilid terbaru Dragon Ball!" seru Veldora dengan mata berapi-api.

​Rimuru segera menggelengkan kepala. "Tidak boleh. Kalau kau ikut bertarung sebagai peserta, arenanya akan menguap dalam tiga detik. Lagipula, tidak ada yang akan mau melawan seekor Naga Sejati."

​Veldora cemberut, namun sebuah ide licik muncul di kepalanya. "Kalau begitu, biarkan aku menjadi komentator! Aku akan memberikan analisis ahli atas teknik-teknik mereka!"

​Mikrofon di Tangan Naga 

​Hari pertandingan tiba. Stadion raksasa Tempest penuh sesak. Veldora duduk di stan komentar dengan mikrofon ajaib di tangannya, ditemani oleh Souka yang terlihat sedikit gugup berada di samping sang legenda.

​Pertandingan dimulai dengan seru. Namun, analisis Veldora jauh dari kata normal.

​"Lihat itu! Benimaru menggunakan teknik aliran api? Payah! Seharusnya dia berteriak sepuluh detik lebih lama agar kekuatannya meningkat dua kali lipat seperti di bab 42!" teriak Veldora ke mikrofon. Suaranya bergema ke seluruh stadion, membuat penonton bingung dan para petarung di arena kehilangan konsentrasi.

​Rimuru yang duduk di kursi kehormatan hanya bisa menutupi wajahnya dengan tangan. "Kenapa aku memberinya mikrofon..."

​Invasi yang Salah Alamat 

​Di tengah kemeriahan turnamen, sebuah kelompok tentara bayaran elit dari negara asing yang tidak tahu diri mencoba menyusup ke bawah stadion untuk mencuri rahasia teknologi Tempest. Mereka pikir, saat semua orang sibuk menonton pertandingan, keamanan akan longgar.

​Mereka berhasil mencapai koridor rahasia, namun langkah mereka terhenti oleh sosok pria jangkung berambut pirang yang tiba-tiba muncul di depan mereka sambil membawa sebungkus keripik kentang.

​"Siapa kau?!" bentak pemimpin tentara bayaran itu sambil menghunuskan pedang sihirnya.

​Veldora mengunyah keripiknya dengan tenang. "Kalian mengganggu waktu istirahat komentatorku. Itu adalah dosa besar."

​Teknik Tanpa Nama 

​Tanpa berubah wujud, Veldora hanya menyentil udara ke arah mereka. Namun, sentilan itu membawa tekanan atmosfer yang begitu besar hingga menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan seluruh kelompok itu ke dinding hingga pingsan seketika.

​Veldora kemudian melihat ke arah kamera sihir yang diam-diam merekam area tersebut. Ia berpose dengan dua jari (peace sign) dan tersenyum lebar.

​"Adegan ini... harusnya masuk dalam rangkuman momen terbaik!" gumamnya senang.

​Kembali ke stan komentar, Veldora melanjutkan tugasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Meskipun ia tidak bisa bertarung di arena, ia menyadari bahwa perannya sebagai pelindung di balik layar dan "kritikus teknik" memberinya kepuasan tersendiri. Bagi Veldora, Tempest bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan panggung besar di mana ia bisa menjadi bintang utamanya—dengan caranya sendiri yang unik.