Kehebohan di Kota Tempest
Kembalinya Veldora dalam wujud manusia tidak hanya mengejutkan penduduk kota, tapi juga hampir membuat pingsan para delegasi dari negara tetangga yang sedang berkunjung. Aura yang ia pancarkan, meski sudah ditekan sekuat tenaga, tetap membuat bulu kuduk monster kelas bawah berdiri.
"Veldora, kendalikan auramu sedikit lagi! Kau membuat para tamu ketakutan," bisik Rimuru sambil menyikut pinggang pria pirang jangkung itu.
"Kwahahahaha! Maaf, maaf! Sulit bagiku untuk menyembunyikan keagungan ini, Rimuru!" jawab Veldora dengan suara yang menggelegar. Namun, ia segera teringat teknik pernapasan yang ia pelajari dari manga bertema ninja. Ia menarik napas dalam-dalam, membayangkan energinya terkunci di dalam titik pusat tubuhnya.
Seketika, tekanan udara di sekitar mereka mereda. Veldora tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Keajaiban Kuliner
Untuk merayakan kebebasannya, Rimuru membawa Veldora ke sebuah kedai besar di tengah kota. Di sana, berbagai hidangan telah disiapkan. Mata Veldora terpaku pada sebuah bola-bola tepung kecokelatan yang ditaburi serpihan ikan kering yang tampak menari-nari.
"Ini disebut Takoyaki," jelas Rimuru.
Veldora mengambil satu butir dengan sumpit—yang ia pelajari dengan cepat berkat koordinasi motoriknya yang luar biasa—dan langsung memasukkannya ke mulut.
"PANAS! INI SERANGAN API?!" teriaknya kaget. Namun, sedetik kemudian, ledakan rasa gurih dan tekstur gurita yang kenyal memenuhi indranya. Mata sang naga membelalak. Selama tiga ratus tahun ia hanya memakan energi sihir yang hambar. Ini adalah revolusi bagi lidahnya.
"LUAR BIASA! Rimuru, apakah ini makanan para dewa di dunia lamamu?" ia menyapu bersih satu piring dalam hitungan detik.
Perpustakaan Suci
Setelah perutnya kenyang, Rimuru membawa Veldora ke tempat yang paling ia nantikan: Perpustakaan Pusat Tempest. Rimuru telah menggunakan kemampuannya untuk mencetak ulang berbagai judul manga yang ia ingat dari memorinya ke dalam bentuk buku fisik.
Saat melihat rak buku yang penuh dengan jilid-jilid komik, Veldora jatuh berlutut. Ia menyentuh sampul buku itu dengan tangan gemetar.
"Semuanya... ada di sini?" tanyanya tak percaya.
"Ya, tapi kau harus membantu menjaga keamanan kota jika ingin membaca jilid lanjutannya," puji Rimuru sambil tersenyum licik.
Tugas Pertama Sang Pelindung
Kegembiraan itu sedikit terganggu ketika seorang penjaga melaporkan adanya sekelompok monster liar yang mengamuk di perbatasan hutan karena terprovokasi oleh sisa-sisa aura kebangkitan Veldora.
Veldora berdiri, menutup buku yang baru saja ia ambil. "Biarkan aku yang menanganinya. Aku butuh peregangan setelah tidur selama tiga abad."
Dalam sekejap, ia menghilang dan muncul kembali di perbatasan. Di depannya, sekumpulan monster besar menggeram. Veldora tidak berubah menjadi naga. Ia justru mengambil kuda-kuda rendah, menyatukan kedua pangkal telapak tangannya di samping pinggang.
"Akan kutunjukkan hasil latihanku di dalam perut Rimuru..."
Cahaya biru keputihan mulai terkumpul di antara telapak tangannya. Udara di sekitarnya berderit karena tekanan energi yang masif.
"HADOOO... KEEEN!"
Bukan api naga biasa, melainkan bola energi murni melesat menghancurkan area di depan tanpa menyisakan debu sedikit pun. Veldora berdiri tegak, meniup tangannya yang berasap sambil bergaya keren.
"Kwahahaha! Persis seperti di bab 15!"
Dari kejauhan, Rimuru yang memperhatikan lewat transmisi sihir hanya bisa menghela napas. "Dia benar-benar menganggap manga itu buku panduan bertarung..."
Namun Rimuru tahu, selama ada Veldora di sisinya, badai apa pun yang datang tidak akan pernah bisa menggoyahkan kedamaian Tempest.