Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Bab 2


Hari itu juga, sepulang dari pengadilan, Kael mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumahnya. Tak lupa Kael membawa semua bukunya untuk belajar. Bulan depan Kael sudah akan mengahadapi ujian sekolah untuk kelulusannya. Ferdi juga meninggalkan rumah seusai dari pengadilan. Sedangkan mamanya dijemput oleh om Gilang, kekasih barunya. Kael hanya bisa menatap kedua orang tuanya itu.

 

     Sesampainya di halaman depan rumah nenek, nenek memeluk Kael yang tampak menangis karena kejadian hari ini. Kael akhirnya masuk ke dalam rumah nenek. Ia meletakkan dua tas ransel dan satu koper. Kael dibantu oleh teman-temannya membawa semua barang-barangnya itu. 

 

     Pukul setengah empat sore, Kael izin kepada neneknya untuk bermain dengan teman-temannya. 

 

"Nek, Kael izin keluar ya. Kael mau jalan-jalan sama temen Kael." Ucap Kael sambil tersenyum.

 

"Iya nak, hati-hati di jalan ya." Nenek Kael pun ikut tersenyum.

 

Dalam hati nenek, melihat Kael hidup tanpa orang tua sangatlah menderita. Memang Ferdi dan Kirana sangatlah terkelaluan. Anak satu-satunya rela ditinggalkan demi kebahagiaan mereka sendiri. 

 

     Kael bersama teman-temannya sedang nongkrong di warkop. Mereka berbicara tentang ujian yang sudah tidak lama lagi dan tak sengaja merambat sampai pada kejadian hari ini.

 

"Kael lo ga tinggal sama ortu lo?" Panji menanyakannya kepada Kael.

 

"Plak". Terdeng suara pukulan Satya pada Panji.

 

"Lo jangan ngawur Pan, kasihan Kael. Habis ada masalah malah kamu tanya seperti itu", ucap Satya pada Panji yang suka ngomong tanpa melihat sikon.

 

"Eh so-sory El." Panji pun meminta maaf.

 

     Kael hanya tersenyum, kopi yang ia minum terasa pahit karena ucapan Panji. Kael berusaha tidak mengingat kedua orang tuanya itu.

 

     Setelah jalan-jalan bersama teman-temannya, Kael pun pulang ke rumah nenek. Setibanya di rumah, nenek sudah memasakkan ayam kecap kesukaan Kael. Air mata Kael tak sengaja turun membasahi pipinya. Kael teringat oleh masakan ayam kecap buatan Kirana. 

 

     Setelah makan, mandi, dan sholat, Kael mengambil ponselnya dan menelfon Kirana. 

 

"Ma..." Kael memanggil mamanya.

 

"Hmmmm..." Tampak Kirana pun menjawab dengan malas . 

 

Tak lama kemudian Kael mematikan sambungan telfonnya. Kael benar-benar merasa sudah tidak dianggap anak oleh Kirana.

 

Sebulan kemudian, semua ujian telah selesai dilalui oleh Kael. Kael mencoba menelpon papanya, karena membutuhkan uang untuk biaya kelulusannya. 

 

"Drttt... Drttt..."

 

Ponsel Ferdi yang ia letakkan di atas meja pun bergetar karena adanya panggilan masuk. 

 

"Kenapa El?" tanya Ferdi kepada anaknya itu.

 

"Boleh minta uang ngga Pa buat biaya kelulusan Kael?" Kael berbicara memohon kepada Ferdi.

 

"Saat ini ga ada El, usaha papa lagi ada masalah, papa juga ada keperluan lain. Coba kamu tanya mamamu dulu." Setelah Ferdi mengucapkannya, Ferdi langsung mematikan sambungan telponnya. 

 

 

Kemudian Kael mencoba menelpon mamanya, namun mamanya tak menjawab telepon dari Kael.

 

Kael hanya diam menatap langit malam yang sedang cerah. Bintang dan bulan menyinari gelapnya malam, tetapi tidak dengan perasaannya. 

 

     Nenek yang mendengar dan melihat semua itu lalu masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu. Setelah itu, ia pergi keluar membawa sebuah kotak yang berisi perhiasannya. Nenek Kael berniat akan menjual semua perhiasannya besok demi untuk keperluan Kael. 

 

 

     Esok hari, nenek buru-buru pergi ke toko perhiasan untuk menjual perhiasan yang dia punya. Setibanya di rumah, nenek kemudian memanggil Kael. Nenek menyerahkan semua uang hasil penjualan perhiasan kepada Kael. Nenek meminta Kael untuk menyimpan uang itu di rekening tabungan Kael.

 

Kael pun bertanya kepada neneknya.

"Semua uang ini darimana nek?" 

 

"Nenek menjual perhiasan nenek buat biaya kelulusan sekolahmu El, sisanya juga bisa kamu pakai untuk tambahan pendaftaran biaya kuliahmu nanti. Lagian nenek sudah tua, sudah tidak memerlukan perhiasan-perhiasan itu lagi." jawab nenek dengan tersenyum.

 

Kael pun tidak bisa menahan air matanya jatuh karena melihat kebaikan dan ketulusan neneknya.

 

     Hari kelulusan tiba, dimana semua teman-teman Kael merasakan kebahagiaan karena didampingi kedua orang tuanya di hari itu. Kael juga merasa bahagia bisa lulus dengan nilai yang bagus, namun dalam hatinya ia tetap merasa sedih. Semua teman-temannya merayakan hari kelulusan ini dengan orang tuanya, sedangkan Kael hanya sendiri. Nenek Kael sedang sakit, oleh karena itu nenek Kael tidak bisa ikut mendampingi Kael merayakan kelulusan Kael. Sedangkan kedua orang tuanya sedang sibuk dengan keluarga barunya masing-masing.

 

     Setelah acara kelulusan selesai, Kael langsung bergegas pulang karena khawatir neneknya sedang sakit dan sendirian di rumah. Sesampainya di rumah, Kael langsung masuk dan membuka pintu kamar neneknya. 

 

Deg...

 

Hati Kael begitu hancur melihat neneknya, neneknya ternyata sudah meninggal. Kael belum sempat mengucapkan terimakasih kepada neneknya. Tanpa neneknya, ia tidak akan bisa mengikuti acara kelulusan dan mendaftar di Perguruan Tinggi favoritnya.

 

Setelah kepergian neneknya, Kael hanya terdiam di kamar memandang langit malam.

 

"Mengapa nenek harus meninggalkanku? Mengapa harus nenek yang pergi!" Kael menangis dan berteriak sendiri.

 

Sementara itu, kabar kematian neneknya pun tidak membuat kedua orang tuanya datang untuk hadir di pemakaman nenek. Papanya beralasan sibuk urusan kerja di luar kota, sementara mamanya harus bedrest tidak bisa bepergian kemana-mana karena sedang hamil lagi.

 

Kael sudah ada di titik lelah. Kael benar-benar capek, tetapi ia harus mencari cara untuk tetap hidup. Kael harus kuliah dan berjuang demi hidupnya sendiri. Dia juga harus bekerja agar bisa hidup mandiri tanpa bantuan siapa pun. Karena sekarang orang tuanya pun sudah benar-benar lupa dengan Kael.