Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Bab 3


Satu tahun sudah berlalu sejak kematian nenek. Sekarang Kael sudah menempuh kuliah di Perguruan Tinggi favoritnya. Kael mengambil jurusan Teknik Informatika sesuai dengan apa yang dicita-citakan dari dulu. Kael memang bercita-cita ingin menjadi seorang programer sedari kecil. Selain kuliah, Kael juga mengambil pekerjaan sambilan di sore sampai malam hari saat dia sudah selesai kuliah. Dia memutuskan kuliah sambil bekerja karena dia ingin mandiri. Dia juga sudah lelah karena harus mengemis perhatian dan biaya kuliah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya seakan lupa kalau Kael masih membutuhkan perhatian dan biaya untuk pendidikanya.

 

Saat Kael ingin bertemu dengan orang tuanya ada saja alasan dari mereka. Ferdi, sang Papa selalu beralasan sibuk mengembangkan usahanya yang sedang dalam masalah. Sedangkan mamanya selalu sibuk dengan adik bayinya yang baru lahir. Mereka menganggap Kael sudah dewasa dan bisa hidup sendiri. Padahal, Kael juga masih sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. 

 

Sejak kematian sang nenek, Kael hanya sekali bertemu papa dan mamanya. Saat hendak berpamitan kuliah ke luar kota, Kael menyempatkan diri untuk menemui dan mengunjungi papa dan mamanya. Saat tiba di rumah papanya, mama tirinya terlihat kurang suka dengan kedatangan Kael. Raut muka masam dan sikap acuh selalu ia tampakkan. Papanya pun bersikap biasa saja, seolah tidak antusias dengan kedatangan Kael, padahal sudah lumayan lama mereka tidak bertemu. Kael yang merasakan kurang disambut dan diharapkan kedatangannya memutuskan hanya menginap satu malam saja di rumah papanya.

 

"Pa, Kael menginap satu malam saja ya di rumah Papa. Besok Kael mau ke rumah mama juga untuk berpamitan", ucap Kael pada Ferdi.

 

"Iya El, bagaimana dengan biaya kuliahmu? Berapa biaya yang kamu perlukan untuk semuanya?" Tanya Ferdi pada Kael.

 

"Untuk biaya kuliah semester ini serta biaya kos untuk enam bulan ke depan sudah terbayar semua Pa, nenek yang membayar semuanya. Hanya biaya bulanan saja yang belum ada", jawab Kael.

 

"Ya sudah nanti papa kasih uang untuk satu bulan ke depan dulu ya, soalnya papa juga lagi banyak keperluan sekarang."

 

"Iya pa, terimakasih."

 

Keesokan paginya Kael sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi dari rumah papanya. Ia akan ke rumah mamanya terlebih dahulu sebelum pergi ke kota tempat ia harus kuliah. Ferdi mengajak Kael sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah mamanya. Saat di meja makan semua hanya makan dalam diam. Tak ada obrolan hangat seperti saat dulu keluarganya masih utuh. Ibu dan saudara tiri Kael pun hanya diam, tak ada niatan sedikitpun untuk berbasa-basi menanyakan keadaan dan kondisi Kael yang akan pergi dan kuliah di luar kota. Kael pun juga hanya diam melihat kondisi itu.

 

Setelah selesei sarapan Kael berpamitan kepada semuanya. Ia akan pergi ke rumah mamanya dengan motornya. Perjalanan ke rumah mamanya sekitar tiga jam lamanya. Kael menelpon mamanya mengabari bahwa siang ini ia akan sampai di rumah mamanya. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang saat Kael berhenti di depan rumah mamanya. Rumah itu tampak sepi. Kael pun turun dan memencet bel rumah tersebut. Tampak dari dalam pintu ruang tamu dibuka, terlihat mamanya menuju ke arah depan untuk membukakan pagar. Setelah pagar terbuka tanpa sadar mata Kael berkaca-kaca. Tampak sekali bahwa dia sangat merindukan mamanya. Mamanya pun demikian. Kirana langsung memeluk Kael karena dia juga sangat merindukan Kael.

 

Kirana segera mengajak Kael masuk ke dalam rumahnya.

 

Keesokan harinya Kael sudah bersiap-siap untuk berangkat. Kirana memeluk Kael dengan erat serta menitikkan air matanya. Ia sebenarnya selalu merasa sedih akan kondisi yang terjadi pada hidupnya dan Kael. Ia juga merasa sangat bersalah kepada Kael karena merasa meninggalkan Kael sendirian. Gilang juga menyalami dan memeluk Kael, serta memberikan uang saku untuk Kael di sana nanti.

 

Kael mengucapkan terima kasih kepada mamanya dan om Gilang. Ia pun kemudian berpamitan dan berangkat ke kota tempat ia akan belajar dan meraih mimpi.

 

Tak terasa satu tahun sudah berlalu semenjak Kael memulai kuliahnya. Selama satu tahun itu juga Kael tidak pernah bertemu kedua orang tuanya. Pernah ia mencoba menelpon ayahnya untuk bertanya kabar dan meminta uang untuk biaya kuliahnya, namun seperti biasa ayahnya selalu beralasan sibuk dengan pekerjaannya. Ferdi pun tidak pernah berusaha menelpon Kael terlebih dahulu.

 

Kirana juga sudah melahirkan, sekarang ia sibuk dengan bayinya. Ia kadang masih sempat menelpon namun hanya sebentar. Kirana tidak tahu kalau Ferdi lalai akan kewajiban memenuhi biaya kuliah dan kebutuhan Kael. Kael hanya diam tak pernah mau cerita akan kondisinya.

 

Kael akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan agar bisa menyambung hidupnya. Ia diterima kerja sebagai pelayan restoran. Ia mengambil jam kerja di sore hari sampai malam hari. Sebenarnya ia lelah dengan semuanya, tugas kuliah, pekerjaan tapi ia harus tetap bertahan dan berjuang sendiri. Ia tidak mau cita-citamya berhenti di tengah jalan. Meski orang tuanya tidak peduli dan tidak perhatian lagi ia tetap akan berjuang sendiri untuk hidupnya.

 

Satya dan Panji lah tempat Kael berbagi cerita. Untungnya mereka bertiga kuliah di tempat yang sama. Satya dan Panji selama ini yang selalu menemani dan menguatkan Kael agar tidak menyerah dan bersedih.

 

Hari itu adalah hari Jumat. Sepulang kuliah Kael langsung berangkat bekerja. Setiba di tempat kerjanya ia bekerja seperti biasa. Entah mengapa saat itu Kael merasa sangat lelah. Kael tetap berusaha bekerja dengan baik sampai restoran tutup. Restoran tempat Kael bekerja tutup pukul sebelas malam. Biasanya setelah tutup para pegawai harus membersihkan dan merapikan restoran terlebih dahulu. Sekitar jam dua belas malam baru mereka bisa pulang.

 

Kael saat itu merasa pusing dan agak sedikit demam, namun ia tetap memutuskan pulang dengan mengendarai motornya. Teman kerjanya sudah menyarankan Kael untuk naik ojek online atau taksi online saja, namun Kael tetap memutuskan untuk pulang sendiri dengan motornya.

 

Dalam perjalanan pulang Kael merasa masih pusing dan demam. Tapi ia tetap melajukan motornya. Dalam bayangannya ia ingin cepat sampai kos nya dan bisa segera beristirahat. Namun tanpa ia sadari tiba-tiba pandanganya kabur, lalu pandanganya berubah menjadi gelap dan tanpa ia bisa hindari motornya melaju dengan sendirinya dan menabrak pohon di pinggir jalan dengan sangat kencang.

 

Ya, kecelakaan tunggal itu terjadi. Kael tak sadarkan diri. Dari mukanya mengucur darah serta badanya pun bersimbah darah. Satya menerima panggilan telepon, karena memang nomer Satya yang ada di daftar panggilan keluar di ponsel Kael. Satya menerima telepon dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa Kael mengalami kecelakaan tunggal di jalan. Kael sedang berada di rumah sakit saat ini.

 

Satya dan Panji buru-buru pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kael. Kael dalam kondisi kritis. Sampai di rumah sakit Satya langsung menghubungi Ferdi dan Kirana untuk memberitahukan kondisi Kael. Menerima kabar dari Satya Ferdi dan Kirana merasa kaget. Mereka langsun berangkat ke rumah sakit untuk mememui Kael.

 

Ferdi sampai terlebih dahulu kemudian disusul oleh Kirana. Kael sedang berada di ruang ICU. Ferdi dan Kirana bertanya kepada Satya bagaimana semua ini bisa terjadi. 

 

"Kael sepertinya hari ini sedang sakit om dan tante. Tapi ia memaksakan diri tetap bekerja karena ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya dan ia tidak ingin kehilangan penghasilannya yang ia gunakan untuk membiayai hidup dan kuliahnya selama ini. Ia belajar dan bekerja sangat keras selama ini. Ia tidak ingin mengemis perhatian dan merepotkan kalian meski kalian sudah mulai melupakan Kael." Satya bercerita dengan menahan air mata nya.

 

Ferdi serta Kirana yang ditemani Gilang tak kuasa menahan air matanya. Kirana menangis meraung mengingat kebodohannya serta keegoisannya yang selama ini kurang memberikan perhatian kepada Kael karena repot dengan bayinya. Ferdi pun menangis menyesali perbuatanya yang sudah abai kepada Kael. Andai ia memenuhi semua kewajibannya kepada Kael, tentu Kael tidak akan kelelahan dan sakit sehingga mengalami kecelakaan seperti ini.

 

Perawat memanggil Ferdi dan Kirana untuk masuk ke dalam ruang ICU. Kael mulai membuka kedua matanya. Ferdi dan Kirana pun menangis kembali melihat kondisi anak mereka. Dengan terbata-bata Kael berbicara kepada kedua orang tuanya.

 

"Mama Papa, Kael senang sekali bisa melihat kalian berdua. Maafin Kael ya. Sekarang Mama Papa tenang karena Kael ngga akan ngrepoti Mama Papa lagi. Kael sayang Mama sama Papa."

 

Setelah itupun Kael memejamkan matanya. Namun mata itu tak akan pernah terbuka kembali selamanya. Ferdi dan Kirana menangis meraung melihat kepergian anaknya. Hanya penyesalan lah yang ada di hati mereka. Ternyata anaknya nya yang menjadi korban atas keegoisan mereka berdua. Namun nasi sudah mmenjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar kembali. Hanya penyesalanlah yang tersisa.