Kapsul perak itu melesat membelah kegelapan seperti peluru cahaya. Di dalamnya, koin Void Bringers mulai berdenyut liar, dipaksa masuk ke mode ketidakstabilan oleh algoritma yang Kepin tanamkan. Di luar stasiun, jutaan mata merah The Swarm berpaling serentak. Bagi mereka, koin itu bukan sekadar benda, melainkan "jantung" yang berdetak dengan energi paling murni di galaksi.
Pengejaran yang Mematikan
Seolah-olah satu pikiran besar memerintah mereka, jutaan pemangsa api itu melepaskan diri dari selubung stasiun. Mereka bergerak seperti awan badai merah yang mengejar satu titik emas tunggal menuju cakrawala lubang hitam.
"Berhasil," bisik Lyria, matanya menatap sensor yang mulai bersih dari gangguan titik merah. "Mereka terpancing."
Namun, harganya sangat mahal. Tanpa koin tersebut, Stasiun Pusat kehilangan gravitasi dan pelindung suhunya. Suhu di dalam ruangan turun drastis di bawah nol derajat. Kepin bisa melihat napasnya membeku di udara.
"Kepin, lihat!" Lyria menunjuk ke layar navigasi yang mulai menyala dengan sisa energi cadangan.
Resonansi Terakhir
Di kejauhan, di pinggiran lubang hitam raksasa, kapsul itu mencapai titik puncaknya. Sebuah ledakan cahaya emas yang luar biasa besar meledak, menciptakan gelombang kejut frekuensi yang menghancurkan indra pendengaran digital siapa pun yang mendengarkan.
Itu adalah "Suara" terakhir dari koin tersebut—sebuah lagu perpisahan yang begitu indah hingga membuat gerakan The Swarm membeku sejenak sebelum mereka semua tersedot ke dalam gravitasi lubang hitam, mengejar cahaya yang kini tertelan oleh kegelapan abadi.
Keheningan yang Sebenarnya
Di stasiun yang kini beku dan mati, Kepin terduduk lemas di lantai. Ia tidak lagi memiliki koin, tidak memiliki kendali, dan oksigen di dalam tangki daruratnya mulai menipis.
"Kita melakukannya, Lyria," kata Kepin, suaranya parau karena kedinginan.
"Ya," sahut Lyria, sosok cahayanya kini sangat tipis, hampir transparan. "Galaksi aman. Selubung kehampaan perlahan memudar, membiarkan bintang-bintang kita terlihat kembali secara alami, bukan sebagai suar, tapi sebagai rumah."
Tiba-tiba, sebuah getaran terasa di lantai stasiun. Bukan dari musuh, melainkan suara mesin yang sangat mereka kenal. Cahaya lampu sorot besar menembus jendela hanggar yang gelap.
"Kepin! Lyria! Kalian masih di sana?!" suara Joran menggelegar melalui speaker eksternal Skyward Grace. "Aku tidak akan membiarkan kalian membeku di tempat rongsokan ini! Bertahanlah, aku akan menjemput kalian!"
Kepin tersenyum tipis sebelum matanya mulai terasa berat. Di ambang kesadarannya, ia melihat bayangan Skyward Grace mendekat, seperti pelukan hangat di tengah dinginnya ruang angkasa yang kini benar-benar damai.
Perang melawan Para Pemangsa berakhir dengan pengorbanan Kunci Void Bringers. Kepin, Joran, dan Lyria kini harus belajar hidup di galaksi yang baru—galaksi yang tidak lagi membutuhkan konduktor agung, melainkan hanya membutuhkan persahabatan untuk tetap selaras.
SELESAI - KISAH PENJAGA CAHAYA