Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Toga Dan Janji


Dua tahun berlalu.  

Pentas seni, ulang tahun, latihan band, dan sorakan di lapangan basket—semuanya kini tinggal kenangan di dinding koridor SMA Cendekia.

 

Hari ini adalah hari kelulusan.

 

Aula sekolah dipenuhi toga hitam dan topi yang siap dilempar ke udara. Zara berdiri di sisi panggung, memegang map ijazah dengan tangan sedikit gemetar. Bukan karena gugup, tapi karena ia tahu, setelah hari ini… segalanya akan berubah.

 

Giovani sudah diterima di Universitas Bandung untuk jurusan Ilmu Olahraga. Sementara Zara mendapat beasiswa musik di Universitas Jakarta. Jarak 180 kilometer yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

 

“Gugup nggak?” tanya Giovani sambil merapikan tali toga Zara yang miring.

 

Zara mengangguk kecil. “Gugup. Bukan karena lulusnya. Tapi… setelah ini kita nggak bisa ketemu tiap hari lagi.”

 

Giovani terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari saku toganya. Sebuah gelang kulit sederhana dengan liontin mikrofon kecil.

 

“Aku bikinin ini waktu turnamen minggu lalu. Biar kamu nggak lupa… suara kamu selalu ada di telingaku, walaupun kita beda kota.”

 

Zara menerima gelang itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku juga punya sesuatu buat kamu.”

 

Ia mengeluarkan kalung dengan liontin bola basket kecil yang ia buat sendiri saat libur.

 

“Supaya kamu ingat… setiap kali kamu main, ada aku yang selalu jadi supporter paling berisik di tribun.”

 

MC mengumumkan nama mereka satu per satu. Zara naik panggung lebih dulu. Saat topi toganya dilempar ke udara, ia melihat Giovani di barisan bawah, menatapnya dengan mata yang sama seperti waktu Pentas Seni—bangga dan hangat.

 

Setelah semua selesai, mereka duduk di bangku koridor tempat mereka sering menghabiskan waktu. Tempat yang sekarang terasa lebih sepi dari biasanya.

 

“Janji ya, Giov,” kata Zara pelan. “Jarak nggak akan bikin kita berubah.”

 

Giovani menggenggam tangan Zara. “Janji. Aku nggak butuh tiap hari ketemu kamu. Aku cuma butuh tiap hari tahu kamu baik-baik aja. Dan aku akan tunggu kamu… sampai kita bisa nonton konser kita sendiri suatu hari nanti.”

 

Zara tertawa di sela tangisnya. “Konser kita? Emangnya kita band?”

 

Giovani menepuk dadanya. “Aku drummer. Kamu vokalis. Kita bakal punya band berdua. Namanya Senja dan Sorakan.”

 

Angin sore menerbangkan pita merah di rambut Zara. Di kejauhan, bel sekolah berbunyi untuk terakhir kalinya bagi mereka.

 

Toga boleh dilepas. Tapi janji itu, mereka simpan erat—lebih kuat dari jarak, lebih panjang dari waktu.