Sepuluh tahun setelah kelulusan.
Cafe kecil di sudut Jakarta itu sekarang sudah berubah jadi Senja Music House—tempat live music yang cukup dikenal di kalangan mahasiswa dan musisi indie. Di atas papan nama kayu tertulis satu kalimat kecil: “Untuk satu penontonku.”
Malam ini panggungnya penuh. Bukan karena bintang tamu terkenal, tapi karena konser reuni.
Zara Arebella, 26 tahun, berdiri di panggung dengan gaun biru tua dan rambut yang sekarang sebahu. Ia sudah merilis dua album dan sering manggung di luar kota. Tapi setiap bulan, ia selalu pulang untuk satu acara: Konser Senja.
Di baris paling depan, Giovani Sebastian duduk dengan kemeja putih sederhana dan cincin pernikahan melingkar di jari manisnya. Ia sekarang jadi pelatih basket SMA Cendekia—sekolah yang sama tempat mereka dulu jatuh cinta. Rambutnya sedikit lebih pendek, tapi senyumnya tetap sama.
Zara menatapnya, lalu memetik gitar dan mulai menyanyi.
“Sepuluh tahun lalu kita berjanji di bawah lilin tujuh belas
Kau bilang jarak tak akan memisah, aku bilang waktu tak akan mengubah
Hari ini kita buktikan… senja dan sorakan tetap sama.”
Lagu itu bukan lagu baru. Itu lagu pertama yang Giovani tulis untuk Zara di aula sekolah, yang dulu Zara sempurnakan aransemennya.
Di tengah lagu, pintu cafe terbuka. Seorang gadis kecil berusia 6 tahun berlari masuk dengan membawa boneka bola basket kecil. Rambutnya diikat pita merah—warna yang sama seperti yang Zara pakai dulu.
“Mama! Papa bilang waktunya nyanyi bagian chorus!” seru gadis kecil itu.
Zara tertawa. “Ayo, Arel. Naik sini.”
Arel—singkatan dari Arebella kecil—memanjat panggung dan berdiri di samping Zara. Suara kecilnya menyambung chorus dengan nada yang sumbang tapi penuh semangat. Penonton langsung bertepuk tangan.
Giovani mengusap sudut matanya diam-diam. Ia bangkit dan berjalan ke panggung, lalu duduk di drum set kecil di belakang Zara. Satu ketukan. Dua ketukan.
Dum. Dum. Dum.
Band keluarga mereka lengkap.
Setelah lagu selesai, Zara menatap Giovani dan Arel di sampingnya. “Dulu aku pikir panggung paling terang itu yang ada lampu sorotnya.”
Giovani mengangkat Arel ke pangkuannya. “Ternyata panggung paling terang itu yang ada kalian berdua di dalamnya.”
Zara tersenyum. “Jadi, Senja dan Sorakan… kita nggak pernah bubar ya?”
Giovani mengangguk. “Nggak. Karena senja selalu datang tiap hari. Dan sorakan… akan selalu ada selama ada kamu.”
Lampu cafe meredup pelan. Tapi di atas panggung, tiga orang itu bersinar—bukan karena lampu, tapi karena cerita yang mereka bangun selama sepuluh tahun.
Di luar, senja Jakarta mulai tenggelam. Di dalam, sorakan tak pernah berhenti.
[TAMAT]