Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Lilin Ketujuh Belas


Minggu setelah Pentas Seni, hari ulang tahun Zara yang ke-17 tiba. 

 

Tapi kali ini terasa aneh. Giovani mendadak sibuk. Setiap Zara mengajaknya makan siang, ia selalu bilang, “Nanti ya, Zar. Aku ada latihan tambahan.” Padahal biasanya Giovani selalu sempatin waktu.

 

Zara pura-pura cuek. “Ya udah, atlet emang harus disiplin,” katanya sambil tersenyum, padahal hatinya sedikit kecewa. Masa ulang tahun aku dia lupa?

 

Hari itu sekolah sepi karena kelas 12 sedang ujian. Sepulang latihan band, Zara berjalan sendiri melewati gerbang belakang SMA Cendekia. Aula yang biasanya gelap tiba-tiba terlihat remang dengan cahaya temaram.

 

Zara berhenti. Dari dalam terdengar petikan gitar pelan yang familier.

 

Ia membuka pintu aula sedikit. Lampu panggung menyala satu per satu, menerangi meja kecil di tengah panggung. Di atasnya ada kue cokelat sederhana dengan tujuh belas lilin, dan buket mawar putih.

 

Dan Giovani—duduk di kursi dengan gitar di pangkuannya, kaus tim basketnya masih sedikit basah keringat.

 

“Turnamennya selesai lebih cepat. Aku naik bus tiga jam biar nggak telat,” kata Giovani sambil tersenyum malu.

 

Zara terpaku. “Kamu… nggak lupa?”

 

Giovani menggeleng. “Aku bisa lupa jadwal latihan, lupa PR fisika, tapi nggak akan pernah lupa tanggal 12 Oktober.”

 

Ia menepuk kursi di sebelahnya. “Duduk. Ini lagu yang aku tulis seminggu terakhir. Namanya Lilin Ketujuh Belas.”

 

Nada pertama mengalun. Suara Giovani nggak sebagus Zara—agak serak dan sedikit fals. Tapi setiap kata yang ia nyanyikan terasa tulus.

 

“Tujuh belas lilin untuk tujuh belas senyummu  

Yang menerangi hari-hariku yang kelabu  

Aku bukan penyanyi, tapi aku janji  

Setiap tahun aku akan jadi penonton setiamu.”

 

Zara nggak sadar air matanya jatuh. Bukan karena lagunya sempurna, tapi karena Giovani—cowok yang biasanya berlari di lapangan dan berteriak soal skor—sekarang duduk di panggung hanya untuk menyanyikan lagu untuknya.

 

Setelah lagu selesai, Zara meniup lilinnya pelan. Asap lilin naik bercampur cahaya remang.

 

“Aku nggak minta hadiah besar, Giov,” bisik Zara. “Aku cuma minta… kamu tetap di sini.”

 

Giovani meraih tangan Zara. “Selama kamu masih mau nyanyi, aku akan selalu ada di baris paling depan.”

 

Di luar aula, hujan gerimis mulai turun. Tapi di dalam, hangatnya lebih terang dari tujuh belas lilin itu.

 

Zara dan Giovani keluar dari aula bersama. Lampu koridor berkedip pelan, tapi langkah mereka terasa ringan.

 

“Besok aku traktir kamu es krim,” kata Giovani sambil menyerahkan jaket almamaternya ke Zara karena gerimis semakin deras.

 

Zara menarik jaket itu lebih erat. “Traktirnya pakai kemenangan basket ya. Biar makin berkesan.”

 

Giovani tertawa. “Deal. Tapi kamu juga harus janji… lagu selanjutnya yang kamu nyanyi, aku yang pertama kali dengerin.”

 

Zara mengangguk. “Janji. Untuk satu penontonku.”

 

Mereka berjalan di bawah hujan gerimis, bayangan mereka menyatu di lantai koridor yang basah.