Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Sorotan Di Pentas Seni


Malam Pentas Seni Tahunan SMA Cendekia akhirnya tiba. Aula sekolah dipenuhi lampu warna-warni dan kursi yang penuh sesak oleh siswa, guru, bahkan orang tua.

 

Zara berdiri di belakang panggung, napasnya sedikit cepat. Gaun hitam sederhana yang ia pakai berkilau di bawah lampu sorot, rambutnya diikat setengah dengan pita merah—warna kesukaan Giovani.

 

Raka menepuk bahunya pelan. “Santai aja, Zar. Kita udah latihan mati-matian. Tinggal nikmatin panggungnya.”

 

Zara mengangguk, tapi matanya terus mencari satu sosok di barisan depan.  

Di sana. Giovani duduk dengan jaket almamater SMA Cendekia, memegang lightstick biru yang ia lambaikan kecil setiap kali Zara melirik.

 

MC mengumumkan, “Penampil selanjutnya… Zara Arebella dan Raka Putra dengan lagu Harmoni Senja!”

 

Sorakan meledak. Zara melangkah ke panggung, lampu sorot langsung menyilaukan matanya. Musik dimulai.  

Suara Zara mengalun jernih di bait pertama, lalu Raka menyambung dengan suara baritonnya yang dalam. Harmoni mereka nyaris sempurna.

 

Tapi di tengah lagu, mata Zara tetap tertuju pada Giovani. Ia melihat Giovani tersenyum bangga, lalu mengacungkan dua jempol diam-diam. Seolah berkata: Itu kamu. Itu suaramu.

 

Bagian akhir lagu tiba. Duet mereka mencapai nada tinggi yang paling sulit. Zara menahan napas, lalu melepaskan suara itu dengan penuh perasaan.

 

Aula hening sejenak… lalu tepuk tangan bergemuruh.

 

Raka menunduk memberi hormat. Zara juga ikut membungkuk, tapi hatinya lega bukan karena tepukan penonton—melainkan karena Giovani berdiri dan bertepuk tangan paling keras di antara semua orang.

 

Setelah pertunjukan selesai, Raka berbisik, “Kamu keren banget, Zar. Chemistry kita pas ya di panggung.”

 

Zara tersenyum sopan. “Iya, berkat latihan kamu juga, Kak.”

 

Tapi begitu turun panggung, Zara langsung berjalan melewati Raka menuju Giovani yang sudah menunggu di pinggir panggung dengan bunga mawar putih.

 

“Nggak cemburu lagi?” tanya Zara sambil menerima bunga itu.

 

Giovani menggaruk kepalanya. “Cemburu dikit. Tapi pas lihat kamu nyanyi, aku jadi paham… panggung itu tempat kamu bersinar. Dan aku cuma mau jadi orang yang paling bangga lihat kamu bersinar.”

 

Zara tertawa pelan. “Lebay.”

 

“Tapi nyata,” jawab Giovani sambil menyelipkan mawar itu ke tangan Zara.

 

Di tengah hiruk pikuk penonton yang bubar, mereka berdua berjalan keluar bersama. Sorotan panggung boleh padam. Tapi sorotan di mata Giovani untuk Zara, tidak pernah mati.