Minggu depan SMA Cendekia akan mengadakan Pentas Seni Tahunan. Band Zara dapat jatah tampil sebagai penampil utama, dan kali ini mereka berencana membawakan lagu duet.
Masalahnya, vokalis pendamping Zara adalah Raka, senior kelas 12 yang terkenal jago main gitar dan… terlalu ramah.
Latihan duet berjalan lancar. Raka punya suara bariton yang pas dipadukan dengan suara Zara yang cerah. Mereka sampai latihan sampai malam demi harmoni yang sempurna. Tapi tanpa disadari, kebiasaan Raka yang suka mengacak rambut Zara sambil bilang “Bagus, jaga nada tinggi itu ya” mulai bikin beberapa orang di band saling tukar pandang.
Kabar itu sampai ke telinga Giovani.
Awalnya ia cuma tersenyum dan bilang, “Bagus dong, Zara. Lagu kalian pasti keren.”
Tapi beberapa hari kemudian, Giovani jadi lebih pendiam. Ia nggak lagi menunggu Zara setelah latihan. Pesan “Hati-hati pulang ya” yang biasanya rutin, juga menghilang.
Zara menyadarinya. Saat latihan selesai, ia sengaja menunggu Giovani di bangku koridor dekat lapangan basket yang sekarang sepi.
“Kenapa akhir-akhir ini kamu dingin banget?” tanya Zara langsung.
Giovani menendang kecil kerikil di lantai. “Nggak dingin. Cuma… kamu lebih sering latihan sama Raka sekarang. Aku jadi nggak ngerti, Zara itu vokalis band atau duetnya Raka.”
Zara terdiam. Baru kali ini ia lihat Giovani cemburu. Lucu, tapi juga bikin dadanya sesak.
Ia mendekat dan menatap mata Giovani. “Nada duet itu cuma di panggung, Giov. Tapi nada yang bikin aku tenang… itu suara kamu.”
Giovani mengangkat kepala. Zara tersenyum kecil, lalu menyodorkan earphone sebelahnya.
“Dengerin. Ini lagu yang baru aku tulis. Judulnya Untuk Satu Penonton.”
Lagu itu dimulai dengan petikan gitar pelan dan lirik: “Aku tak butuh ribuan sorakan, cukup satu yang selalu menunggu di akhir laguku.”
Giovani terdiam lama. Lalu ia menarik Zara ke dalam pelukan singkat. “Besok aku bakal duduk di baris paling depan. Dan nggak akan ninggalin tempat itu.”
Di luar, lampu koridor berkedip pelan. Tapi untuk Zara, malam itu terasa seperti panggung yang paling terang.