Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 31: Protokol Nol


​Stasiun cincin itu mengerang hebat. Suara nyanyian Lyria yang merambat melalui Jaring Kesunyian bertabrakan dengan sistem pertahanan inti, menciptakan badai percikan emas dan perak di udara. Sang Dirigen, yang kini tubuh transparannya mulai retak seperti kaca, mengeluarkan tawa kering yang terdengar seperti gesekan logam.

​Kartu Terakhir Sang Dirigen 

​"Kau pikir harmoni kecil ini bisa mengalahkan keabadian?" bisik Sang Dirigen. Tangan kirinya yang gemetar menekan sebuah sensor di sandaran singgasananya. "Jika galaksi ini menolak untuk diselaraskan, maka biarlah ia kembali menjadi debu yang sunyi."

​SISTEM TERMODINAMIKA: Kritis.

PROTOKOL PEMUSNAHAN: Aktif.

PENGHITUNGAN MUNDUR: 00:59 Detik.

​Lantai di bawah kaki Kepin dan Joran mulai memanas. Lubang-lubang ventilasi di langit-langit mengeluarkan uap putih yang membekukan udara di sekitarnya. Ini bukan sekadar peledak; Sang Dirigen memicu reaksi fusi terbalik yang akan menghisap seluruh stasiun dan wilayah Ruang Kosong ke dalam lubang hitam buatan.

​Kepanikan di Jantung Stasiun 

​"Kepin! Kita harus pergi!" Joran menerjang ke arah Kepin, mencoba menariknya menjauh dari konsol saraf. "Kapal kita tidak akan bertahan jika tempat ini meledak!"

​"Aku tidak bisa membiarkannya, Joran!" Kepin berteriak melawan suara dengungan stasiun yang memekakkan telinga. "Jika protokol ini selesai, sinyal pemusnahan ini akan merambat melalui menara-menara lain! Lyria dan semua jiwa di oasis akan musnah!"

​Kepin melihat koin di tangannya. Cahaya emas dari Lyria masih bersinar di sana, tapi mulai meredup tertutup oleh aura hitam dari protokol pemusnahan. Ia menyadari satu hal: untuk menghentikan penghancuran, ia harus memasukkan koin itu ke lubang kunci singgasana—tindakan yang tadi ia hindari karena takut memberikan kekuatan pada Sang Dirigen.

​Pengambilalihan Paksa 

​"Lyria! Jika kau mendengarku... bantu aku menahan beban datanya!" teriak Kepin.

​Ia melompat ke arah singgasana, menghindari kabel-kabel yang mencambuk liar. Dengan satu gerakan penuh tekad, ia menghujamkan koin Void Bringers tepat ke lubang kunci utama di pusat singgasana Sang Dirigen.

​Arus data yang luar biasa besar menghantam otak Kepin. Ia melihat sejarah galaksi, jutaan wajah yang menangis, dan keheningan yang tak berujung. Di saat yang sama, Sang Dirigen menjerit saat esensinya dipaksa menyatu dengan kode emas milik Lyria.

​Satu Peluang Sempit 

​"Joran! Kembali ke kapal dan siapkan mesin Aether!" perintah Kepin melalui transmisi saraf. "Aku akan menahan pintu gerbang datanya tetap terbuka selama mungkin agar kau bisa meluncur keluar!"

​"Kepin, jangan katakan kau akan tinggal di sini!" Joran berhenti di depan pintu hanggar, wajahnya penuh amarah dan ketakutan.

​"Aku punya Lyria di sini!" jawab Kepin dengan senyum tipis di tengah rasa sakitnya. "Cepat pergi! Sampaikan pada Gilda... bahwa simfoni ini sudah berganti pemimpin!"